JAKARTA, KOMPAS - Massa mahasiswa dari Universitas Indonesia dan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta berunjuk rasa mendesak agar Kepolisian Negara RI atau Polri sungguh-sungguh melakukan reformasi. Tuntutan ini menyusul peristiwa tewasnya AT (14), anak yang dipukul dengan helm baja oleh personel Brimob, Bripda Masias Siahaya, di Tual, Maluku, beberapa waktu lalu.
Para mahasiswa menyampaikan tuntutannya itu dengan mendatangi Markas Besar (Mabes) Polri di Jalan Trunojoyo, Jakarta, sekitar pukul 16.00 WIB, Jumat (27/2/2026). Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) datang terlebih dulu yang kemudian disusul mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta.
Sementara puluhan polisi dan polwan berseragam tampak mengenakan kopiah dan kerudung berwarna putih, membuat pagar betis di hadapan para mahasiswa yang berunjuk rasa.
Dalam orasinya, mahasiswa mengecam kekerasan yang dilakukan oleh anggota Polri di Tual, yakni Masias, hingga mengakibatkan AT (14) meninggal dunia. Mahasiswa menilai kejadian kekerasan oleh personel polisi terus berulang tanpa ada perbaikan berarti.
Sebagaimana diberitakan, Masias adalah anggota Kompi 1 Batalyon C Pelopor Brimob Polda Maluku. Pada Kamis (19/2/2026), Masias memukul AT menggunakan helm taktikal saat korban tengah mengendarai sepeda motor di sekitar Kampus Universitas Doktor Husni Ingratubun (Uningrat), Kota Tual.
Masias kemudian dipecat atau diberhentikan tidak dengan hormat. Ia terbukti melanggar etik berat setelah memukul seorang anak dengan helm baja di Tual. Masias kini juga diproses pidana atas perbuatannya itu oleh Polres Tual.
"Kita tidak mau Reformasi polri yang penuh janji-janji palsu. Kita mau Polri yang setia dan berpihak kepada rakyat," demikian seruan salah satu mahasiswa saat berorasi di atas mobil komando.
Beberapa saat setelah mahasiswa berorasi, tampak seorang polisi yang mengaku sebagai Kasat Intel Polres Jakarta Selatan yang menawarkan audiensi. Namun, mahasiswa hanya mau melakukan audiensi di lokasi unjuk rasa, bukan di tempat lain.
Mahasiswa pun menyerukan yel-yel yang meminta agar Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo turun dan menemui mereka. Namun, hingga petang, permintaan itu tidak terpenuhi.
"Mana, mana, mana Kapolri, turun ke bawah sekarang juga," demikian yel-yel yang diserukan mahasiswa.
Koordinator Lapangan Demonstrasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI, Hafidz, mengatakan, mereka datang dan menyuarakan beberapa tuntutan. Tuntutan yang pertama adalah meminta agar pelaku penganiayaan terhadap AT dihukum seberat-beratnya, termasuk bagi polisi yang bertindak represif.
Mahasiswa juga menuntut agar Listyo Sigit Prabowo dicopot dari jabatan Kapolri dan Dadang Hartanto dari jabatan Kapolda Maluku. Mahasiswa juga menuntut pembebasan seluruh tahanan politik yang dikriminalisasi.
Selain itu, mahasiswa menuntut agar kewenangan Polri dibatasi serta ditarik dari jabatan-jabatan sipil. Yang terakhir, mahasiswa menuntut hasil konkret dari reformasi Polri, baik reformasi secara struktural, kultural, dan instrumental, dari Komisi Percepatan Reformasi Polri.
"Tuntutan ini datang atas banyaknya kejadian yang berulangkali tidak diperbaiki oleh kalian. Reformasi Polri mana yang kalian janjikan. Reformasi kepolisian adalah harga mati," seru Hafidz.
Aksi unjuk rasa tersebut berlangsung sampai sekitar pukul 18.00 WIB. Kemudian, para mahasiswa berangsur membubarkan diri.
Secara terpisah, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid berpandangan, peristiwa kekerasan oleh Masias terhadap seorang anak bukan sekadar masalah individu, melainkan cermin dari institusi kepolisian. Peristiwa itu memperlihatkan lemahnya pengawasan dan akuntabilitas kepolisian sehingga menyebabkan tidak budaya menghormati hukum dan hak asasi manusia di kepolisian tidak tumbuh.
“Benar, kasus Tual itu perilaku individu. Tapi itu tak berarti tidak ada masalah dengan institusi karena kasus itu terus berulang. Artinya, masalah individu itu menjadi cermin masalah institusi dan pengawasan yang lemah,” kata Usman.





