Proyek Sampah Listrik Danantara Tarik Investor Dunia, Batch II Dibuka Lebih Luas

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Danantara Indonesia akan membuka kembali daftar peserta tender untuk proyek sampah menjadi listrik atau Waste to Energy (WtE) batch II, memberi peluang investor baru dari berbagai negara setelah pengumuman batch I dijadwalkan Maret 2026.

Director of Investments Danantara Investment Management, Fadli Rahman, mengatakan pembukaan kembali daftar peserta tender (DPT) dilakukan untuk memperluas pilihan teknologi dan pendanaan dari berbagai negara.

“Kita akan buka lagi DPT-nya. Kita mau memperkaya aja DPT-nya, memberikan kesempatan dari negara-negara lain dengan teknologi lain, apakah akan ada dari UAE, dari Eropa yang lain,” ujarnya di Wisma Danantara, Jakarta, Kamis, (26/2).

Batch II berpotensi menghadirkan persaingan yang lebih ketat karena jumlah peserta dapat bertambah. Namun, masuknya investor baru belum tentu membuat harga proyek lebih kompetitif.

Batch II akan tambah lagi, mungkin lebih ketat, mungkin lebih banyak partisipannya jadi persaingan lebih tinggi. Ya bisa iya dan nggak karena dari negara lain mungkin harga lebih mahal,” kata Fadli.

Indonesia saat ini menghasilkan sekitar 150-170 ribu ton sampah per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 61 persen masih belum terkelola dengan baik dan berakhir di tempat pembuangan terbuka, sungai, atau lingkungan sekitar. Kondisi ini menimbulkan dampak lingkungan, kesehatan, dan sosial yang semakin besar, terutama di kota-kota dengan timbulan sampah tinggi.

Di tengah situasi tersebut, proyek WtE dipandang sebagai salah satu solusi untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir. Namun, Fadli menekankan, WtE tidak bisa diposisikan sebagai solusi tunggal. Kapasitasnya secara nasional diperkirakan hanya mampu menangani sekitar 30 persen dari total timbulan sampah Indonesia.

“Jadi WTE ini cuma bisa mengelola sampah mungkin 30 persen Indonesia. Nggak bisa jadi solusi secara keseluruhan. Yang lain tuh masih banyak peluang untuk bisa kita lakukan pengelolaan yang lain seperti recycling, pemilahan berbasis kelurahan, dan lain sebagainya. Jadi semua ini harus jalan baru kita bisa mengelola sampah secara 100 persen,” jelas dia.

Meski demikian, pemerintah dan Danantara menilai WtE tetap krusial sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah terpadu, terutama untuk mengatasi krisis sampah di kota-kota besar. Karena itu, proyek ini dirancang dengan pendekatan baru agar benar-benar dapat berjalan secara ekonomi.

Tarif Listrik 20 Sen dan Proyek WtE Tarik Investasi Global

Salah satu perubahan mendasar adalah penetapan tarif listrik dari pembangkit WtE sebesar sekitar 20 sen dolar AS per kWh. Skema ini dinilai lebih realistis dibanding kebijakan sebelumnya yang menetapkan tarif sekitar 13 sen dolar AS, yang membuat banyak proyek tidak berjalan.

Dengan skema baru tersebut, proyek WtE tidak lagi bergantung pada tipping fee dari APBD daerah. Sumber pendapatan utama hanya berasal dari penjualan listrik ke PLN, sehingga risiko fiskal pemerintah daerah dapat ditekan dan kepastian usaha bagi investor meningkat.

Dari sisi investasi, proyek WtE juga dirancang untuk menarik pendanaan global. Untuk setiap lokasi, nilai investasi diperkirakan mencapai 150-170 juta dolar AS. Jika seluruh 33 lokasi yang direncanakan terealisasi, total investasi dapat mencapai sekitar 5 miliar dolar AS atau setara hampir Rp 90 triliun.

“Proyek ini sebenarnya masif buat foreign direct investment. Selain itu ini teknologi (WtE) belum ada di Indonesia. Jadi transfer teknologinya juga masif,” kata Fadli.

Mayoritas pendanaan berasal dari investor asing, sementara Danantara mengambil porsi kepemilikan sekitar 30 persen di setiap perusahaan proyek khusus (SPV). Skema ini, menurut Fadli, tidak hanya menghadirkan modal, tetapi juga membuka ruang transfer teknologi dan peningkatan kapasitas SDM lokal.

“Orang lokal yang di-train. Pemerintah daerah di sana akan di-train juga, dibawa ke China atau ke Jepang atau ke Eropa untuk belajar ini caranya gimana,” ujarnya.

Fadli juga menegaskan WtE yang dikembangkan bukan sekadar proyek pembangkit listrik berbasis pembakaran sampah. Menurutnya, pendekatan yang digunakan adalah pengelolaan sampah secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir.

“Ini bukan proyek membakar sampah menjadi listrik. Ini adalah proyek manajemen sampah yang menjadi katalis transformasi pengelolaan sampah di daerah,” kata Fadli.

Dari sisi lingkungan, teknologi yang digunakan diklaim telah memenuhi standar ketat. Fasilitas WtE akan menggunakan clean incinerator dengan sistem pengendalian polusi udara. Residu hasil pembakaran juga dikelola secara terpisah, mulai dari fly ash yang tergolong limbah B3 hingga bottom ash yang masih bisa dimanfaatkan untuk bahan bangunan.

Fadli menambahkan, fasilitas WtE ke depan juga tidak diposisikan sebagai kawasan tertutup. Beberapa lokasi justru dirancang menjadi ruang publik dan pusat edukasi.

“Justru intensinya adalah jadi public area. Yang di Bekasi itu kita desain supaya nanti orang bisa jalan di sekitarnya, jadi kayak ada ecopark, ada kafe di atasnya, ada learning center-nya melihat proses di dalam,” ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bareskrim Tangkap DPO Koh Erwin, Diamankan di Tengah Perairan Sumut!
• 13 jam laludisway.id
thumb
Laba United Tractors (UNTR) Merosot Jadi Rp14,81 Triliun pada 2025
• 20 jam lalubisnis.com
thumb
Kuis Tebak Nama Takjil Ramadan dari Fotonya
• 11 jam lalubeautynesia.id
thumb
WhatsApp Web Sudah Bisa Diakses Lagi, Layanan Kembali Normal
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Harga Pangan Hari Ini: Bawang Merah Rp44.750/Kg, Cabai Rawit Rp75.550/Kg
• 14 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.