SBY Soroti Negosiasi Nuklir AS-Iran: Perang atau Damai Ditentukan Hari-Hari Ini

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menilai hari-hari ini akan menjadi momen penentu arah hubungan Amerika Serikat dan Iran. Hanya ada dua kemungkinan yakni menuju perang atau damai.

SBY menyoroti perundingan yang berlangsung di Jenewa, Swiss, antara juru runding Amerika Serikat dan Iran terkait masa depan proyek nuklir Teheran. Negosiasi dilakukan secara tidak langsung melalui mediator.

Menurut SBY, perundingan tersebut berpotensi menjadi game changer yang berdampak luas terhadap stabilitas Timur Tengah dan dunia.

"Jenewa kota yang indah, damai dan saat ini hawanya sejuk. Namun, jam-jam ini, hari-hari mendatang, kota yang penuh legenda ini bisa menjadi saksi sejarah. Bisa melahirkan sebuah “game change” yang berimplikasi besar pada perkembangan dunia," tulis SBY dikutip dari akun X resminya, Jumat (27/2).

Trump-Khamenei dan Pertaruhan Besar

SBY menilai, negosiasi ini tidak hanya soal teknis nuklir, tetapi juga menyangkut kalkulasi politik dua pemimpin yakni Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.

Ia menyebut keduanya memiliki kepentingan besar. Trump, kata SBY, menghadapi pertaruhan reputasi dan legacy. Sementara bagi Khamenei, konflik dengan AS menyangkut kepentingan kelangsungan rezim atau survival interest.

SBY mengingatkan keputusan perang bukan langkah yang bisa diambil secara gegabah.

“Terjadinya perang yang seolah diniscayakan itu, bisa iya, bisa tidak,” tulis SBY.

Ia menilai, para pemimpin negara akan mempertimbangkan risiko besar sebelum memberi perintah militer, termasuk kalkulasi apakah perang tersebut benar-benar perlu dan dapat dimenangkan.

War of Necessity atau War of Choice?

Dalam pandangannya, ada dua pertanyaan mendasar sebelum sebuah negara memilih jalan perang. Apakah perang memang suatu keharusan (war of necessity) atau sekadar pilihan (war of choice), dan apakah secara rasional perang itu bisa dimenangkan.

SBY mengingatkan pengalaman Amerika Serikat di Vietnam, Irak, dan Afghanistan sebagai pelajaran penting tentang mahalnya biaya perang serta sulitnya strategi keluar.

“Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan,” tulisnya.

Pesan untuk Pemimpin Dunia

Sebagai mantan prajurit yang mengabdi selama 30 tahun di militer dan pernah terlibat dalam operasi tempur, SBY menutup pesannya dengan refleksi tentang makna perang bagi para tentara.

“Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for,” tulis SBY.

Ia menegaskan para prajurit memang siap berkorban untuk negara, namun keputusan perang tetap harus dilandasi pertimbangan rasional dan tanggung jawab moral para pemimpin politik.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
5 CEO Bergaji Paling Besar di Dunia, Elon Musk Lewat
• 9 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Kemhan soal Forum Purnawirawan TNI Tolak Kirim Pasukan di BoP: Kami Hormati
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Dulang Wisata Tawarkan Promo Umrah Awal Musim Juli 2026, Terbang Langsung dari Makassar ke Jedah
• 10 jam laluterkini.id
thumb
Demo Mahasiswa di Mabes Polri saat Ramadan, Polisi Berpeci dan Bersorban Siap Bagi Takjil
• 4 jam lalusuara.com
thumb
Ditemukan Membusuk, Anak Gajah di Tesso Nilo Diperkirakan Sudah Mati Sepekan Lalu
• 5 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.