Ramadan Baik: LPS Dorong Konsistensi Bangun Ekonomi dari Hal Kecil

katadata.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta -- Kekuatan ekonomi Indonesia bisa dibangun dari hal-hal kecil yang dilakukan konsisten dan berproses oleh masyarakat serta lembaga, yang diperkuat dengan karakter dan integritas.

Hal itu terungkap dalam program Ramadan Baik Bersama Katadata 2026 bertajuk 'Jadi Muslim Kaya Hati, Bukan Cuma Kaya Materi', Jakarta, Kamis (26/2/2026). Ajang ini menghadirkan Husein bin Ja'far Al Hadar, yang merupakan pendakwah sekaligus penulis, sebagai pembicara.

Sekretaris Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Jimmy Ardianto mengungkapkan pihaknya menyokong event ini lantaran pilihan tagline program yang universal dan lintas keyakinan, yakni 'Ramadan Baik'.

"Ramadan pasti diidentikan hal-hal Islam, apa pun lah, dengan kata-kata dan pelafalan yang Islami. Cuma ini 'Baik', kan luas ya, luas sekali. Dari sini kelihatan, [program Ramadan Baik] lebih [ditujukan] ke semua lapisan, jadi tidak hanya Islam saja," ujar dia, ditemui seusai acara.

Jimmy mencontohkannya dengan sejumlah intisari dakwah dari Habib Ja'far yang bisa berlaku untuk semua kalangan, termasuk dengan LPS sebagai institusi pemerintah bidang keuangan dan perekonomian Indonesia secara luas.

Pertama, soal istiqamah atau konsistensi yang menjiwai proses kemajuan masyarakat. Proses ini mencakup niat, kata-kata, tindakan, kebiasaan, karakter, nasib, hingga ujungnya adalah takdir.

Menurut Jimmy, niat LPS terdapat pada undang-undang, yakni misi menjaga stabilitas sistem keuangan Indonesia. Ini berlanjut dengan kata-kata, yakni lewat gelaran sosialisasi dan literasi keuangan kepada masyarakat secara konsisten. Contohnya literasi soal menabung sedikit demi sedikit tapi rutin, misalnya, Rp10.000 per hari. Dengan rangkaian sosialisasi itu, mindset masyarakat tentang pentingnya menabung bisa terpicu.

Pola pikir baru ini mendorong warga sukarela untuk menabung, hingga kemudian menjadi kebiasaan. Jika makin banyak warga sadar soal pentingnya menabung, walau sedikit tapi rutin, perbankan bisa meraup dana untuk disalurkan sebagai pinjaman kepada UMKM. Usaha warga kemudian menghasilkan pekerjaan hingga menggerakkan perekonomian.

Ketika ekonomi Indonesia makin kuat, kata Jimmy, ketahanan nasional juga semakin kuat. Dunia internasional pun, lanjutnya, akan melihat positif bangsa ini, yang kemudian tertarik berinvestasi lebih banyak lagi ke Indonesia. Nasib dan takdir Indonesia pun menjadi lebih baik, bahkan bisa menjadi negara maju.

"Sesimpel itu, tapi dampaknya bisa mengubah takdir nasib negara dan bangsa ini," kata Jimmy.

Berdasarkan data LPS, Indeks Menabung Konsumen (IMK) per Desember 2025 ada di level 80,5, menguat 3,1 poin dari bulan sebelumnya. Hal ini sejalan dengan peningkatan Indeks Kemampuan Menabung (IKPM) sebesar 0,4 poin ke posisi 66,3. Selain itu, niat menabung konsumen terus meningkat, tercermin dari penguatan Indeks Kemauan Menabung (IKMM) sebesar 5,7 ke posisi 94,6 pada periode yang sama.

Mental Orang Kaya

Kedua, lanjut Jimmy, pentingnya mental kaya. Ia menjelaskan bahwa mental kaya ini berarti punya karakter bak konglomerat yang tak mudah tergoda untuk pamer, bermewah-mewahan, dan memilih untuk menjaga kepercayaan.

Dengan mental ini, Jimmy menyebut baik untuk pribadi maupun lembaga keuangan takkan mudah tergiur dengan tawaran investasi yang tak masuk akal atau pun sebaliknya melakukan penipuan nasabah.

"Kenapa? Mental dia sudah kaya. Dia tidak perlu lagi flexing, yang ada dia memberikan sesuatu, give something, bukan get something. Dia tidak lagi mencari posisi berapa harus dapat, tapi berapa harus berikan," jelasnya.

Per Januari 2026, LPS melakukan resolusi bank dengan cara likuidasi pada 1 bank umum, 130 Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan 16 Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS), serta melakukan penempatan modal sementara pada 1 bank umum dan konversi modal (bail-in) pada 1 BPR, sejak LPS berdiri hingga saat ini. Kasus-kasus likuidasi ini disebut umumnya terkait dengan fraud.

Dengan beberapa poin penting dari tausiah Habib Ja'far di atas, Jimmy pun meyakini Indonesia bisa berubah jadi lebih baik. Terlebih, sejumlah indikator perekonomian terkini menunjukkan sinyal positif. Misalnya, pertumbuhan ekonomi triwulan IV (Q4) 2025 yang tumbuh 5,39% (year-on-year).

"Angka-angka tadi posisinya itu adalah gambaran bahwa kita itu growing. Jadi ya semoga growing ini tetap akan berjalan sampai nanti kuartal berikutnya, bahkan sampai akhir tahun seperti ini," tutup Jimmy.

Sesi tausiyah Ramadan Baik Bersama Katadata yang menghadirkan Habib Ja'far ini sendiri dihadiri ratusan audiens di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Blok M, Jakarta Selatan. Diawali paparan Databoks by Katadata, ajang ini bertujuan merefleksikan kembali relasi di antara iman, harta, dan kemanusiaan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
AS Umumkan Tarif Tinggi untuk Panel Surya Indonesia dan India
• 12 jam laluidxchannel.com
thumb
Pemprov DKI Akan Tambah Sekolah Swasta Gratis: Jadi 103 Sekolah pada Juli 2026
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Kesalahan yang Bisa Dilakukan Perempuan Cerdas di Dunia Kerja
• 11 jam lalubeautynesia.id
thumb
PERURI Jaga Komitmen pada Transformasi Digital, Borong Dua Penghargaan Bergengsi di Ajang Digital Day 2026
• 7 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
3 Pekan Jelang Lebaran, Harga Tiket Bus AKAP di Terminal Kalideres Masih Normal
• 6 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.