FAJAR, SURABAYA –Kemenangan tipis itu datang di saat yang tepat—atau mungkin, di saat yang paling dibutuhkan.
Rabu malam di Stadion Gelora Bung Tomo, Persebaya Surabaya akhirnya menghentikan laju negatifnya. Setelah dua kekalahan beruntun yang mulai menggerus kepercayaan diri tim, Green Force menang 1-0 atas PSM Makassar lewat gol tunggal Gali Freitas pada menit ke-27. Skor yang sederhana, tetapi dampaknya terasa jauh lebih besar dari sekadar tiga poin.
Di pinggir lapangan, Bernardo Tavares tampak lebih lega dari biasanya. Bukan hanya karena kemenangan, melainkan karena timnya kembali menemukan sesuatu yang sempat hilang: keyakinan.
“Kemenangan ini semoga membuat pemain lebih percaya diri,” ujar pelatih asal Portugal itu dalam konferensi pers usai laga. Kalimatnya terdengar normatif, tetapi konteksnya jelas. Di depan, sudah menunggu ujian yang jauh lebih berat—Persib Bandung.
Dan bagi Tavares, laga itu memiliki makna personal.
Selama berkarier di Indonesia, ia belum pernah menang melawan pelatih Persib, Bojan Hodak.
Persib bukan sekadar pemuncak klasemen. Mereka adalah simbol stabilitas di tengah kompetisi yang sering berubah cepat. Back-to-back champion itu kembali memimpin liga dengan koleksi 50 poin, menunjukkan konsistensi yang jarang dimiliki klub lain.
Pertemuan pertama musim ini menjadi pengingat pahit bagi Persebaya. Pada 12 September 2025, mereka kalah tipis 0-1 dari Maung Bandung—laga yang memperlihatkan jarak kualitas dalam efektivitas permainan.
Kini situasinya berbeda, setidaknya secara psikologis. Persebaya datang dengan kemenangan, sementara atmosfer ruang ganti kembali hidup.
Namun kemenangan atas PSM juga membuka masalah yang belum sepenuhnya selesai.
Persebaya melepaskan 20 tembakan. Enam di antaranya tepat sasaran. Tetapi hanya satu yang menjadi gol.
Statistik itu seperti ringkasan musim Green Force: dominan dalam usaha, kurang tajam dalam penyelesaian.
“Banyak peluang, banyak tembakan, tapi akurasinya kurang,” kata Tavares. Nada suaranya terdengar lebih sebagai evaluasi daripada keluhan.
Ia mengaku latihan finishing selalu menjadi menu wajib. Tembakan jarak jauh, kombinasi serangan ofensif, hingga simulasi situasi pertandingan terus diulang. Namun sepak bola tidak selalu tunduk pada latihan; ia juga soal ketenangan, insting, dan keputusan sepersekian detik.
Di sinilah Persebaya masih mencari bentuk terbaiknya.
Kemenangan atas PSM sekaligus menghadirkan ironi lain. Bagi Tavares, laga itu seperti menghadapi masa lalunya sendiri. Ia pernah membawa klub Makassar tersebut menuju periode kompetitif yang solid, tetapi kini justru menyaksikan Juku Eja terpuruk dalam tren negatif.
PSM mencatat tiga kekalahan beruntun—dari Dewa United, Persija Jakarta, dan kini Persebaya. Pelatih Tamas Trucha mengakui timnya kerap kalah dengan selisih tipis, sesuatu yang justru terasa lebih menyakitkan.
“Kami sering kalah 1-0 atau 1-2. Itu menyakitkan,” ujarnya.
Masalah PSM hampir serupa dengan Persebaya, hanya berada di sisi berbeda lapangan: lini depan yang kurang tajam.
Sepak bola sering kejam dalam detail kecil. Selisih satu gol bisa memisahkan tim percaya diri dan tim yang kehilangan arah.
Kini perhatian Persebaya sepenuhnya tertuju pada Persib Bandung. Laga ini bukan hanya tentang posisi klasemen, tetapi juga tentang pembuktian taktik.
Bojan Hodak dikenal sebagai pelatih yang pragmatis sekaligus efisien. Timnya tidak selalu dominan penguasaan bola, tetapi hampir selalu unggul dalam keputusan akhir. Persib bermain seperti tim yang tahu kapan harus menyerang dan kapan cukup menunggu lawan melakukan kesalahan.
Sebaliknya, Persebaya masih berada dalam proses membangun identitas permainan yang stabil.
Pertemuan nanti menjadi duel filosofi: efisiensi melawan intensitas.
Bagi Tavares, ini lebih dari sekadar pertandingan liga. Ini kesempatan mematahkan rekor pribadi yang belum pernah ia ubah—belum pernah menang melawan Hodak.
Dan dalam sepak bola, terkadang narasi pribadi pelatih bisa menjadi bahan bakar tambahan bagi sebuah tim.
Persebaya kini berada di titik yang menarik. Mereka belum sepenuhnya stabil, tetapi belum pula kehilangan peluang. Kemenangan atas PSM memberi ruang bernapas, sekaligus membuka harapan bahwa momentum bisa berubah.
Pertanyaannya tinggal satu: apakah kemenangan kecil di Gelora Bung Tomo itu cukup kuat menjadi awal kebangkitan?
Atau justru Persib kembali membuktikan bahwa konsistensi selalu mengalahkan momentum sesaat?
Jawabannya akan hadir dalam satu malam pertandingan—ketika ambisi Persebaya bertemu pengalaman sang juara.





