Stone Garden: Kawasan Karst Citatah Bandung Warisan Tertua di Pulau Jawa

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Di balik lanskap urban Bandung Raya, ada satu ruang yang menyimpan usia bumi dalam bentuk batu. Namanya Stone Garden Citatah, sebuah kawasan karst purba di Gunung Masigit, Kabupaten Bandung Barat. Hamparan batu gampingnya tidak hanya menghadirkan panorama eksotis, tetapi juga menghadirkan kesadaran waktu yang panjang. Di sini, manusia seperti tamu kecil di rumah yang sudah berdiri jutaan tahun. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas sejarah bumi.

Stone Garden bukan sekadar tempat wisata. Ia adalah ruang ilmu pengetahuan, ruang refleksi, dan ruang hidup masyarakat. Formasi batuan raksasanya adalah hasil proses geologi panjang. Air hujan, tekanan tektonik, dan waktu membentuk lanskap ini perlahan. Dalam buku Principles of Sedimentology and Stratigraphy karya Sam Boggs (2006), dijelaskan bahwa batu gamping terbentuk dari endapan organisme laut purba. Proses ini terjadi jutaan tahun di dasar laut, lalu terangkat ke permukaan akibat dinamika lempeng bumi.

Kawasan Citatah sendiri secara geologis terbentuk pada Zaman Miosen, sekitar 20–30 juta tahun lalu. Fakta ini diperkuat oleh riset Kelompok Riset Cekungan Bandung ITB sejak tahun 2000. Temuan tersebut kemudian diperkaya oleh penemuan manusia purba di Gua Pawon tahun 2007. Balai Arkeologi Bandung dalam laporan "Penelitian Gua Pawon" (2008) mencatat adanya fosil manusia prasejarah yang memperkuat nilai arkeologis kawasan ini. Dari sini, Stone Garden bukan hanya warisan alam, tetapi juga warisan budaya dan peradaban.

Di tengah gempuran pariwisata modern, Stone Garden hadir dengan karakter yang berbeda. Tidak ada wahana buatan, tidak ada atraksi artifisial. Yang ada hanya batu, langit, angin, dan waktu. Justru di situ kekuatannya. Tempat ini mengajarkan bahwa keindahan tidak selalu diciptakan, tetapi ditemukan. Ia mengajak orang berhenti sejenak dari kecepatan hidup modern dan melihat bumi dalam skala yang lebih besar.

Warisan Geologi dan Sejarah Purba

Secara ilmiah, karst adalah lanskap yang terbentuk dari pelarutan batu gamping oleh air yang mengandung karbon dioksida. Proses ini membentuk rongga, gua, dan lorong bawah tanah. Ford dan Williams dalam Karst Hydrogeology and Geomorphology (2007) menjelaskan bahwa karst adalah sistem geomorfologi kompleks yang terbentuk oleh interaksi kimia, fisika, dan waktu. Stone Garden adalah contoh nyata dari proses itu dalam skala terbuka.

Kawasan Karst Citatah terbentang sekitar enam kilometer dari Tagog Apu hingga Rajamandala. Ia disebut sebagai salah satu kawasan karst tertua di Pulau Jawa. Dahulu, wilayah ini merupakan laut dangkal tropis. Terumbu karang dan organisme laut menjadi endapan batu gamping. Ketika lempeng bumi bergerak, wilayah ini terangkat. Laut berubah menjadi bukit. Proses geologi itu membentuk lanskap yang hari ini kita lihat sebagai taman batu.

Nilai sejarah kawasan ini semakin kuat dengan temuan Gua Pawon. Fosil manusia purba yang ditemukan menunjukkan bahwa wilayah ini pernah menjadi ruang hidup manusia awal. Balai Arkeologi Bandung (2008) menegaskan bahwa kawasan ini memiliki nilai penting bagi studi prasejarah Indonesia. Artinya, Stone Garden bukan hanya arsip alam, tetapi juga arsip manusia.

Ekosistem Karst dan Kehidupan di Dalamnya

Di balik kesan gersang, Stone Garden menyimpan kehidupan. Vegetasi khas karst seperti asam jawa dan jarak tumbuh di sela batu gamping. Asam jawa dikenal adaptif terhadap tanah kering. Jarak memiliki sistem akar kuat dan tahan kondisi ekstrem. Kehadiran tumbuhan ini menunjukkan adaptasi ekologis yang khas kawasan karst.

Dalam ekosistem hewan, monyet ekor panjang dan jalak suren menjadi bagian penting. Jalak suren berperan sebagai pengendali populasi serangga. Interaksi ini membentuk keseimbangan ekosistem alami. Ekosistem karst memang sederhana, tetapi stabil. Setiap unsur memiliki peran ekologis yang saling terhubung.

Secara hidrologis, karst juga berfungsi sebagai sistem penyimpan air alami. Rongga batu gamping menyimpan dan menyalurkan air tanah. Ford dan Williams (2007) menyebut sistem karst sebagai “natural water reservoir”. Ini membuat kawasan karst memiliki nilai strategis bagi keberlanjutan lingkungan. Stone Garden bukan hanya indah, tetapi juga fungsional bagi kehidupan.

Geowisata, Budaya, dan Refleksi Manusia Modern

Stone Garden berkembang sebagai objek geowisata berbasis masyarakat. Sejak 2014, pengelolaan dilakukan oleh warga lokal melalui kelompok sadar wisata. Pola ini sejalan dengan teori Murphy dalam Tourism: A Community Approach (1985), yang menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam pariwisata berkelanjutan. Di Citatah, pariwisata tidak hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal.

Konsep geowisata juga memberi makna edukatif. Dowling dalam Geotourism: Sustainability, Impacts and Management (2011) menyebut geowisata sebagai wisata berbasis warisan geologi yang menggabungkan edukasi, konservasi, dan ekonomi. Stone Garden memenuhi tiga unsur itu. Pengunjung tidak hanya melihat, tetapi juga belajar tentang bumi dan waktu.

Di level reflektif, Stone Garden menghadirkan pengalaman batin. Ruang terbuka, batu tua, dan langit luas menciptakan suasana kontemplatif. Anthony Giddens dalam The Consequences of Modernity (1990) menyebut bahwa pengalaman ruang dan waktu membentuk kesadaran manusia modern. Di Stone Garden, waktu terasa panjang dan tenang. Manusia merasa kecil, tetapi sekaligus terhubung dengan semesta.

Sayangnya Stone Garden kini kurang terawat. Banyak sampah dari pengunjung yang membuat pemandangan kurang nyaman. Padahal, Stone Garden adalah simbol hubungan manusia dan bumi. Ia bukan sekadar destinasi wisata, tetapi ruang belajar, ruang refleksi, dan ruang kehidupan. Ia mengajarkan bahwa alam bekerja dalam jutaan tahun, sementara manusia sering berpikir dalam hitungan hari. Merawat Stone Garden berarti merawat ingatan bumi. Menjaganya berarti menjaga masa depan. Di sanalah makna terdalam dari kawasan karst Citatah sebagai warisan tertua di Pulau Jawa.

Daftar Pustaka

Balai Arkeologi Bandung. 2008. "Penelitian Gua Pawon: Temuan Manusia Purba di Kawasan Karst Citatah". Bandung: Balai Arkeologi Bandung.

Boggs, S. 2006. Principles of Sedimentology and Stratigraphy. New Jersey: Pearson Prentice Hall.

Ford, D., & Williams, P. 2007. Karst Hydrogeology and Geomorphology. Chichester: John Wiley & Sons.

Dowling, R. 2011. Geotourism: Sustainability, Impacts and Management. Oxford: Elsevier Butterworth-Heinemann.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Fenomena Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026, Waktu dan Lokasi Terbaik untuk Menyaksikannya
• 10 jam lalunarasi.tv
thumb
Link Live Streaming Wolves vs Aston Villa di Premier League Besok Dini Hari
• 14 jam lalugrid.id
thumb
MBG Dinilai Ubah Kebiasaan Makan Anak-anak Jadi Lebih Sehat
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Ini Zona Rawan Kecelakaan di Jalur Alternatif Mudik Kulon Progo-Magelang
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Akhiri Keterisolasian Warga Langkat, TNI dan PTPN IV PalmCo Bangun Jembatan Darurat
• 14 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.