JAKARTA, DISWAY.ID - Reformasi jilid II mulai disuarakan dalam sejumlah gerakan mahasiswa beberapa waktu terakhir, termasuk dilontarkan oleh Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto.
Dalam diskusi bersama BEM FISH UNJ di Jakarta baru-baru ini, Tiyo menegaskan kebijakan politik pada akhirnya bergantung pada sikap kita terhadap demokrasi: apakah kita sungguh-sungguh ingin demokrasi berjalan dengan baik atau tidak.
“Banyak peristiwa politik yang justru membawa kemunduran demokrasi diduga melibatkan atau didukung oleh aparat. Contohnya pada masa pemilu, ketika aparat disebut-sebut bergerak untuk menekan kepala desa agar mendukung kekuatan politik tertentu. Jika praktik seperti itu terjadi, maka demokrasi menjadi tidak sehat,” katanya dalam penyampaiannya.
BACA JUGA:Istana Bantah Omongan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto yang Bilang Anggaran Pendidikan Dipotong karena MBG
Karena itu, kata dia, muncul gagasan bahwa reformasi kepolisian harus dilakukan secara serius.
Menurut Tiyo, ada yang berpendapat bahwa jejaring kepentingan dan kroni-kroni di dalam institusi harus diputus.
“Kepolisian bukan alat jangka pendek untuk kepentingan politik. Reformasi harus dibayangkan sebagai strategi besar, termasuk kemungkinan melakukan pembenahan struktural, regenerasi, dan evaluasi menyeluruh terhadap kultur institusi,” ucapnya.
BACA JUGA:Pantesan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Vokal dan Berani, Jebolan Sekolah Omah Dongeng Marwah Besutan Aktivis 98
Namun, kata Tiyo, reformasi tidak cukup hanya menjadi wacana tanpa konsep yang matang.
“Kita bukan penyelenggara acara atau pembuat sensasi. Kita adalah warga negara yang menginginkan perubahan nyata. Secara sosiologis, perubahan fundamental sering kali tidak lahir dari perencanaan rapi, melainkan dari situasi darurat yang disadari bersama,” ucapnya.
Ia menyerukan soal reformasi 1998, misalnya, bergerak jauh lebih cepat dari rencana awal para mahasiswa saat itu.
Rencana yang semula diperkirakan memakan waktu bertahun-tahun, dalam kenyataannya berubah hanya dalam hitungan bulan karena situasi darurat yang dirasakan kolektif.
BACA JUGA:Ada ‘Sihir Istana', Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Ogah Jika Diminta Prabowo ke Istana
Hari ini, kata dia, tanda-tanda situasi negara dalam kondisi darurat sudah banyak dari mulai situasi ekonomi hingga persoalan struktural.
“Banyak indikator kedaruratan sebenarnya sudah ada. Krisis kepercayaan, tekanan ekonomi, dan berbagai persoalan struktural terasa nyata. Namun yang belum sepenuhnya terbentuk adalah kesadaran kolektif bahwa kita sedang berada dalam situasi darurat bersama. Itulah mengapa penting membayangkan reformasi generasi kedua: untuk menyatukan energi yang dulu pernah ada agar tidak terpecah-pecah,” tuturnya.
- 1
- 2
- »





