Belajar Membaca Al-Quran Braille

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Dari ruang-ruang kelas yang membagi satu ruangan besar, terdengar riuh rendah suara anak-anak yang sedang belajar mengaji. Ada yang sedang memperlancar hafalan surat-surat pendek dan ada juga yang membaca Al-Quran Braille. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan rutin di SLB A YPAB di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (27/2/2026).

Di banyak ruangan, siswa kelas kecil berkumpul dalam kelompok kecil. Mereka belajar membaca huruf-huruf dengan menggunakan metode Iqro dan ada pula yang setoran hafalan surat-surat pendek.

Sementara itu, di ruangan paling kanan, dua saudara kembar, yaitu Mohammad Akbar Nakula dan Mohammad Akbar Sadewa, konsentrasi penuh melancarkan hafalannya. Siswa kelas VI tersebut mendapat pendampingan intensif dari gurunya, Tantri Maharani. Keduanya merupakan penghafal Al-Quran (hafiz).

”Ayo Sadewa, diraba dulu baru dibaca. Jangan hafalan,” ujar Tantri berkali-kali. Dalam pengajaran tersebut surat-surat dibaca satu dua ayat untuk mengecek benar tidaknya cara membaca.

Mohammad Akbar Sadewa yang akrab dipanggil Sadewa mengaku baru bisa mengaji dengan Al-Quran Braille saat kelas V. ”Alhamdulillah saya sudah hafalan Al-Quran duluan sebelum bisa baca, saat ini saya sudah hafal Juz 30. Mau dites?” ujar Sadewa sambil tertawa kecil. Saat membaca, Sadewa diketahui oleh gurunya beberapa kali mengeluarkan hafalannya.

Setelah hampir satu jam belajar, mereka pun kembali mengumpulkan Al-Quran Braille untuk disimpan. Hari itu waktu mereka belajar selesai. Ruangan-ruangan yang sebelumnya ramai oleh suara anak-anak pun berangsur sepi dan guru-guru kembali ke ruangannya.

Kepala SLB A YPAB Oktavia Eka Kusumaningtyas mengungkapkan bahwa saat ini belum semua siswa bisa membaca Al-Quran Braille. ”Untuk bisa membaca Al-Quran memang harus menyiapkan beberapa tahapan, dan tahapan yang paling dasar adalah harus bisa membaca dulu huruf Braille,” ujar Oktavia.

Bagi yang sudah bisa membaca Braille maka mereka akan diajarkan membaca Al-Quran Braille, tetapi bagi yang belum maka mereka akan diarahkan untuk hafalan Al-Quran atau mengenal huruf Arab dengan Iqro.

Khusus di bulan Ramadhan, waktu belajar Al-Quran ditambah. ”Di hari Jumat kami biasa berolahraga, tetapi kini pada bulan Ramadhan ditiadakan dan waktunya digunakan untuk kegiatan mengaji. Jadi, kegiatan sudah mulai sejak pagi,” Ujar Oktavia.

Di tengah segala keterbatasan, para siswa tunanetra juga ingin setara dalam bidang keagamaan, tetapi bagi mereka yang tidak kalah utama adalah mendapat tambahan pahala di tengah menjalani bulan Ramadhan dengan ibadah puasa.

 

Baca JugaHiruk-pikuk Pasar Tanah Abang Berhenti Kala Azan Berkumandang
Baca JugaPesantren Darul Ashom, Tempat Difabel Rungu Menimba Ilmu
Baca JugaHijrah dari Rajah
Baca JugaBerbagi Takjil, Berbagi Rasa Syukur


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Suasana Salat Jumat Ramadan di Wilayah Konflik Gaza dan Pakistan
• 55 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Viral Istri TNI Diduga Selingkuh dengan 13 Prajurit Muda di Papua
• 4 jam lalurctiplus.com
thumb
Legislator PKS: Gugatan Larang Keluarga Presiden Nyapres Sejalan Semangat Lawan KKN
• 22 jam lalukompas.com
thumb
Dulu Langganan Timnas Indonesia, Kini Terpinggirkan! 4 Bintang Garuda yang Kariernya Meredup Drastis
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
Ciri Kepribadian Orang yang Tidur dengan Banyak Bantal
• 18 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.