Kadang yang bikin miris dari keluarga zaman sekarang di mana kita bisa duduk satu sofa, satu meja makan, bahkan saling berdekatan tapi rasanya jauh. Bukan karena bertengkar, bukan juga karena nggak sayang. Jauhnya karena masing-masing “tenggelam” di layar. Orang tua scroll, anak juga scroll. Jadinya rumah tetap ramai secara fisik, tapi sunyi secara emosional. Budaya scrolling tanpa henti ini pelan-pelan masuk ke ruang keluarga, lalu mengubah cara kita hadir untuk satu sama lain.
Dari sudut pandang sosiologi keluarga, keluarga itu tempat pertama anak belajar banyak hal mulai dari nilai, norma, empati, cara ngobrol, cara merasakan. Semua itu tidak dipelajari lewat ceramah panjang, tapi lewat momen-momen kecil yang berulang seperti ketika ditanya kabarnya, didengarkan ceritanya, eye contact saat ngobrol, ditenangkan saat sedih. Masalahnya, scrolling sering memotong momen-momen kecil itu. Bukan selalu dalam bentuk kecanduan yang ekstrem, tapi yang halus dan terasa “normal” seperti cek notifikasi pas anak cerita, balas chat di meja makan, atau nonton video pendek “sebentar aja” lalu kebablasan.
Di situ yang hilang sebenarnya bukan sekadar perhatian, tapi pengakuan. Anak butuh merasa “aku penting” lewat respons sederhana: “Oh iya?”, “Terus gimana?”, atau sekadar kontak mata. Saat respons itu digantikan oleh layar, anak menangkap pesan diam-diam: “Kamu nanti dulu.” Pesan ini mungkin tidak diucapkan, tapi bisa tertanam. Dan kalau itu terjadi berulang-ulang, dampaknya bisa panjang ke rasa percaya diri, ke kelekatan emosional, sampai ke cara anak membangun hubungan di luar rumah.
Ironisnya, banyak orang tua juga mengeluh anak kebanyakan screen time. Tapi sering lupa bahwa anak itu belajar lebih cepat dari contoh, bukan dari nasihat. Kalau orang tua terbiasa “hadir tapi sambil scroll”, anak akan meniru bukan cuma kebiasaannya, tapi juga pola relasinya di mana kebersamaan itu bisa dijalani tanpa benar-benar terhubung. Akhirnya scrolling bukan lagi sekadar aktivitas pribadi, tapi jadi budaya kecil di dalam rumah.
Namun, kita juga perlu jujur bahwa krisis kehadiran orang tua ini tidak selalu murni salah individu. Banyak orang tua hari ini hidup dalam tekanan yang nyata seperti tuntutan kerja yang makin fleksibel tapi justru nggak ada batasnya, beban ekonomi, lelah mental. Gawai sering jadi pelarian paling mudah dikarenakan cepat, instan, dan terasa “menghibur”. Sayangnya, rumah yang harusnya jadi ruang pulang malah ikut terseret ritme digital yang tidak pernah berhenti.
Padahal, hadir dalam pengasuhan itu bukan soal “berapa jam di rumah”, tapi soal kualitas keterlibatan. Bisa saja orang tua seharian di rumah, tapi pikirannya di timeline. Secara badan ada, tapi emosinya nggak nyampe. Anak yang tumbuh dalam situasi begini kadang terlihat “mandiri”, tapi bisa jadi sebenarnya ia belajar menahan kebutuhan afeksi karena merasa tidak enak mengganggu, atau merasa percuma cerita. Lama-lama komunikasi jadi dangkal, konflik susah dibicarakan, emosi susah diekspresikan, dan rumah kehilangan fungsinya sebagai ruang dialog.
Teknologi sebenarnya bukan musuh. Gawai bisa membantu pengasuhan kalau dipakai dengan sadar. Tapi masalahnya muncul ketika gawai berubah jadi pengganti kehadiran. Karena itu, yang dibutuhkan bukan sikap anti-teknologi, melainkan kesadaran dan aturan kecil yang realistis seperti waktu makan tanpa gawai, satu jam “bebas layar” untuk ngobrol, kebiasaan orang tua untuk benar-benar menatap saat anak bicara, atau “diet gadget” sebagai bentuk teladan bukan sekadar aturan buat anak saja.
Pada akhirnya, tantangan terbesar pengasuhan di era scrolling culture bukan terletak pada aplikasinya, tapi pada kemampuan orang tua untuk tetap hadir sebagai manusia yang utuh. Di tengah arus informasi yang nggak ada habisnya, keluarga butuh ruang hening agar percakapan bisa tumbuh. Karena buat anak, kehadiran orang tua itu bukan cuma soal dilihat, tapi soal merasa diperhatikan. Dan di sanalah pengasuhan punya makna yang paling dalam.





