Kenya akan melanjutkan pembangunan jalur kereta api yang didukung China pada bulan Maret mendatang, kali ini tanpa mengambil pinjaman baru. Proyek tersebut sempat dihentikan hampir tujuh tahun lalu karena dana yang terbatas.
Mengutip Bloomberg, Sabtu (28/2), Menteri Perhubungan Kenya, Davis Chirchir, mengatakan kepada anggota parlemen pihaknya menargetkan dapat menghimpun hingga USD 4 miliar dengan menjaminkan penerimaan pungutan kereta api untuk membiayai perpanjangan jalur sepanjang 369 kilometer yang konstruksinya terhenti pada 2019 sekitar satu jam perjalanan dari Nairobi.
Proyek yang terhenti sedikit lebih dari separuh rute rencana tersebut menjadi simbol meredupnya dorongan era Belt and Road China, yang sebelumnya menyalurkan lebih dari USD 120 miliar pinjaman berbasis pemerintah di seluruh Afrika.
Keputusan Kenya untuk tidak lagi mengandalkan pendanaan China mencerminkan perubahan kondisi negara berkembang yang dulu bergantung pada Beijing. Di sisi lain, China juga menghadapi keterbatasan domestik, dengan pertumbuhan yang melemah dan krisis properti yang menekan keuangan publik.
Tahap akhir jalur kereta akan menelan tambahan biaya sekitar USD 5 miliar, melanjutkan rute dari Suswa ke kota tepi danau Kisumu, lalu ke Malaba di perbatasan dengan Uganda yang tidak memiliki akses laut. Rute penuh juga mencakup sejumlah cabang menuju South Sudan dan Rwanda.
Menurut dokumen anggaran dari Kementerian Keuangan, diperkirakan dapat terkumpul 41 miliar shilling atau sekitar USD 318 juta dalam tahun fiskal hingga Juni dari pungutan impor sebesar 2 persen.
Menteri Keuangan John Mbadi menyatakan, pihaknya sedang berdiskusi dengan International Monetary Fund (IMF) terkait kekhawatiran lembaga tersebut bahwa skema sekuritisasi seperti ini pada dasarnya merupakan bentuk utang pemerintah. Ia berpendapat rencana tersebut tidak akan menambah tumpukan utang publik negara itu.
Proyek ini pada akhirnya akan menjadi proyek infrastruktur terbesar Kenya sejak merdeka dari Inggris pada 1963. Saat ini Kenya menghadapi kenaikan utang dan penerimaan negara yang tidak mencapai target, dengan IMF memperingatkan risikonya tinggi terhadap krisis utang.
Pemerintah menghabiskan sekitar USD 1 miliar per tahun untuk membayar pinjaman kepada China, kreditur bilateral terbesarnya. Rencana pendanaan berbasis pungutan ini muncul setelah protes yang dipimpin generasi Z pada 2024 akibat kenaikan pajak dan tekanan ekonomi.
Mbadi menyatakan, Kenya juga mengalihkan pinjaman dolar untuk proyek kereta menjadi denominasi yuan pada 2025, sehingga biaya pembayaran utang turun USD 215 juta per tahun. Utang dalam yuan tersebut berbunga sekitar 3 persen dan tenor diperpanjang menjadi 15 tahun, termasuk masa tenggang empat tahun di mana Kenya hanya membayar bunga.
Mbadi melanjutkan, pihak China telah menyampaikan kekhawatiran terkait rencana sekuritisasi pungutan kereta karena pungutan tersebut secara kontraktual ditetapkan sebagai cadangan pembayaran pinjaman awal dari China. Meski demikian, pemerintah tetap berencana melanjutkan langkah tersebut.
Di sisi lain, keterlibatan China masih ada. Mbadi menyatakan China Road and Bridge Corp. sebagai kontraktor bersedia menanamkan USD 500 juta dalam proyek kereta itu.
Pembangunan jalur pertama sepanjang 472 kilometer antara Mombasa dan Nairobi dimulai pada 2014 dan selesai pada 2017. Setahun kemudian, tahap berikutnya dimulai dan membentang sekitar 120 kilometer sebelum konstruksi mendadak terhenti di semak-semak dekat sebuah desa sekitar 75 mil di barat Nairobi. Karena tidak ada pendanaan lanjutan dari China, pekerjaan proyek pun berhenti, dan sejak itu pemerintah terus mencari sumber pembiayaan.




