FAJAR, MAKASSAR – Kawasan Jalan Perintis Kemerdekaan, tepatnya di depan Pintu Satu Universitas Hasanuddin (Unhas), mendadak berubah menjadi panggung kritik sosial pada Jumat (27/2/2026) sore. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Kampus Unhas (TKU) menggelar aksi teater jalanan yang menyayat hati bertajuk “Padamnya Nyawa di Tangan Pelindung”.
Aksi yang berlangsung sekitar pukul 16.00 WITA ini digelar sebagai bentuk protes keras dan duka cita mendalam atas kasus tragis yang baru saja terjadi di Maluku, di mana seorang pelajar tewas meregang nyawa akibat dianiaya oleh oknum anggota Brimob.
Melalui konsep teatrikal jalanan yang menggandeng konsep performance art, para seniman kampus ini memvisualisasikan ironi penegakan hukum di Indonesia. Pantauan di lokasi, adegan utama menampilkan seorang aktor yang mengenakan seragam aparat dengan beringas berakting memukuli lakon lainnya yang berperan sebagai warga sipil tak berdaya.
Di latar belakang adegan yang memilukan tersebut, sebuah spanduk besar dibentangkan dengan tulisan mencolok: “Padamnya Nyawa di Tangan Pelindung”.
Tidak hanya menyuguhkan visual yang menguras emosi, secara bergantian para mahasiswa juga melakukan orasi yang menggelegar. Mereka secara tajam mengkritik bobroknya sistem penegakan hukum dan menyoroti instansi kepolisian yang seharusnya menjadi pengayom, namun justru menjadi mesin pencabut nyawa bagi masyarakat sipil.
Ketua Teater Kampus Unhas, Rama, dalam keterangannya menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar luapan amarah buta, melainkan kritik terhadap sistem yang mengakar di dalam instansi tersebut.
“Kita memang tidak dapat menjustifikasi masing-masing pribadi dalam instansi kepolisian bahwa mereka semua pembunuh. Namun, sistem budaya yang ada dalam instansi tersebutlah yang kemudian membentuk hampir secara keseluruhan dari mereka memiliki jiwa pembunuh,” tegas Rama kepada awak media di sela-sela aksi.
Aksi teatrikal jalanan ini sontak menyita perhatian publik. Banyak pengguna jalan, baik pengendara motor maupun pejalan kaki, yang sengaja menghentikan laju kendaraannya dan singgah di pinggir jalan untuk menyaksikan pertunjukan tersebut. Pesan visual yang kuat dipadukan dengan orasi yang lantang berhasil membuat masyarakat yang melintas ikut tertegun merenungkan ironi keadilan di negeri ini.
Melalui seni pertunjukan, Teater Kampus Unhas kembali membuktikan bahwa panggung teater tidak selalu berada di dalam gedung pertunjukan, melainkan bisa turun ke jalanan untuk merawat akal sehat dan menyuarakan keadilan bagi mereka yang suaranya dibungkam paksa.
(Muh Fausi Zaky / Harian Fajar)





