Setelah mendeklarasikan keinginan menjadi partai politik, pertengahan Januari lalu, Gerakan Rakyat terus berjibaku memenuhi setumpuk syarat administratif yang diamanatkan Undang-Undang Partai Politik. Namun, itu saja tidak cukup, agar bisa memikat publik, organisasi yang berasal dari kelompok sukarelawan pendukung mantan calon presiden, Anies Baswedan itu, perlu menciptakan diferensiasi.
Seusai menghadiri peringatan satu tahun Gerakan Rakyat, di Kantor Sekretariat Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Rakyat, Jakarta, Jumat (27/2/2026), Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut mengapresiasi usaha segenap kader “Gerakan Rakyat” yang terus berikhtiar memperluas jejaringnya selama setahun terakhir.
”Selamat kepada Gerakan Rakyat. Alhamdulilah, satu tahun sudah dijalani. Satu tahun ini dijalani dengan berbagai kegiatan dan yang paling penting adalah bahwa organisasi kemasyarakatan ini bukan organisasi yang sekadar papan nama di Jakarta, tetapi memiliki jejaring seluruh wilayah Indonesia,” kata Anies.
Walaupun baru berumur satu tahun, lanjut Anies, sebenarnya segenap anggota organisasi itu telah melalui perjalanan panjang. Bahkan, tonggak pergerakan organisasi dimulai sejak November 2023. Ketika itu, organisasi tersebut baru mendeklarasikan diri sebagai kelompok sukarelawan pendukung Anies yang akan mengarungi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.
Anies kagum, segenap anggota organisasi tidak lantas membubarkan diri kendati Pilpres 2024 selesai dihelat. Ternyata, seluruh jajaran berkonsolidasi dan memperlebar jaringan ke seluruh wilayah di Indonesia.
Ini baru awalan. Perjalanan masih panjang. Perjalanan masih mendaki. Insya Allah bukan yang terjal.
Menariknya, tidak hanya kota-kota utama yang disentuh, tetapi juga daerah-daerah pelosok. Usaha itu seolah menunjukkan keseriusan semua anggota organisasi untuk memperjuangkan perubahan bagi keadilan.
“Selamat, ini awalan yang baik, tetapi bukan akhir. Ini baru awalan. Perjalanan masih panjang. Perjalanan masih mendaki. Insya Allah bukan yang terjal. Insya Allah mudah untuk dijalani,” ujar Anies.
Hanya saja, Anies enggan berkomentar soal keputusan organisasi untuk berubah menjadi partai politik yang dinyatakan pimpinan organisasi sebulan lalu. Terkait hal itu, lagi-lagi ia sekadar menjawab jika perjalanan organisasi itu masih panjang.
Anies kendati bukan pengurus, Gerakan Rakyat telah memosisikannya sebagai anggota kehormatan bernomor “001”. Saat Gerakan Rakyat mendeklarasikan diri menjadi parpol, pertengahan Januari lalu, sempat diungkapkan pula keinginan mengusung Anies menjadi calon pimpinan nasional di Pilpres 2029.
Sementara itu, Ketua Umum Gerakan Rakyat Sahrin Hamid bersyukur konsolidasi segenap anggota organisasinya selama setahun belakangan ini berhasil memperluas jaringan. Alhasil, peringatan ulang tahun itu bisa dirayakan, baik luring maupun daring, bersama semua anggota yang tersebar dari Sabang di Aceh sampai Merauke di Papua Barat, hingga Miangas di Sulawesi Utara sampai Pulau Rote di NTT.
Gerakan Rakyat juga disebut Sahrin semakin serius mengurus perubahan status dari ormas menjadi partai politik. Kini, pihaknya tengah berusaha memenuhi syarat minimal pembentukan partai dengan keterisian struktur anggota dari tingkat nasional hingga kecamatan.
“Yang pertama adalah syarat dari Kementerian Hukum, ataupun dari perundang-undangan adalah 100 persen DPP, 100 persen DPW (Dewan Pimpinan Wilayah, atau pengurus tingkat provinsi), dan 75 persen DPD (Dewan Pimpinan Daerah, atau pengurus tingkat kabupaten/kota), dan 50 persen kecamatan,” kata Sahrin.
Dari regulasi itu, jelas Sahrin, struktur yang sudah terbentuk dan terisi 100 persen baru pada tingkatan DPP. Dari tingkatan DPW, keanggotaannya juga sudah memenuhi 100 persen atau berada di 38 provinsi yang ada di Indonesia. Kendati demikian, struktur pengurus tingkat DPW belum terisi.
Hal serupa, sebut Sahrin, berlaku untuk syarat keanggotaan tingkat DPD, atau kabupaten/kota. Hingga kini, organisasinya telah memiliki anggota yang tersebar di 462 kota/kabupaten. Angka itu lebih banyak 60 daerah daripada syarat minimal yang ditentukan, atau 75 persen pembentukan organisasi tingkat DPD.
“Untuk mencapai 50 persen kecamatan, itu harus mempunyai sekitar 3.300 struktur kepengurusan tingkat kecamatan. Kami baru mencapai 2.346 pengurus tingkat kecamatan. Artinya, kurang lebih masih sekitar 800-an lagi. Insya Allah, teman-teman sedang bekerja keras, Insya allah dalam bulan ini kita targetkan sekitar 800 kecamatan itu kita selesaikan,” kata Sahrin.
Ia menyatakan, keseriusan organisasinya mengurus syarat-syarat pembentukan partai itu merupakan bentuk ketaatan terhadap hukum. Ia berharap, pemerintah juga mengakomodasi keinginan organisasinya menjadi partai. Harapannya itu didasari prinsip negara ini sebagai negara hukum.
“Kami ingin memenuhi syarat-syarat itu secara hukum, dan kami yakin, ketika ini memenuhi secara hukum, maka tentunya kita akan mendapatkan hak untuk mendapat badan hukum partai politik,” kata Sahrin.
Dihubungi terpisah, peneliti senior dari Pusat Riset Politik, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lili Romli mengatakan, Gerakan Rakyat mesti mempunyai diferensiasi apabila serius ingin menjadi partai politik.
Tanpa adanya pembeda, calon partai politik nanti hanya akan menjadi wujud “kelatahan”. Tujuan pembentukannya kemudian sekadar demi melancarkan elite kelompok guna memperoleh kekuasaan.
”Jika sebagai bentuk kelatahan, tidak ada gagasan utama yang diusung, publik tidak akan meliriknya. Bahkan, bisa muncul antipati dari publik berupa sindirian, atau bahkan cemoohan. Untuk itu, partai ini harus kuat dengan gagasan,” kata Lili.
Menurut Lili, organisasi itu terbentuk berangkat dari gagasan-gagasan Anies sebagai seorang sosok. Tak berlebihan jika menyebut bahwa organisasi itu memilih pemikiran-pemikiran Anies menjadi ideologi mereka.
Namun, ia mengingatkan, kentalnya unsur ketokohan akan sangat berisiko bagi organisasi itu jika kelak Anies memutuskan hengkang. Itulah pentingnya gagasan otentik dari suatu organisasi yang ingin menjadi politik.
“Apalagi pemilih masih cenderung melihat dan memilih partai berdasarkan figur sentral dalam partai tersebut. Jika Anies tidak menjadi episentrum partai ini, berat rasanya partai ini bisa dilirik publik,” tandas Lili.





