Sumba Timur menghadapi tantangan besar terkait ketersediaan air yang semakin terbatas—yang sangat memengaruhi kehidupan petani, khususnya petani perempuan. Keterbatasan air mengancam ketahanan pangan, yang menjadi sumber utama penghidupan keluarga di daerah ini.
Petani perempuan—yang sering bertanggung jawab dalam pengelolaan rumah tangga dan pertanian—menghadapi kesulitan yang lebih besar dibandingkan laki-laki dalam mengakses serta mengelola sumber daya air. Banyak petani perempuan mengalami kesulitan dalam menjaga kelangsungan produksi pertanian mereka karena pengaruh krisis air yang semakin memburuk (Riehl, 2016).
Selain masalah keterbatasan air, perubahan iklim juga menjadi tantangan utama. Beberapa daerah di Sumba Timur—seperti Desa Wunga dan Napu—tergolong dalam wilayah dengan kondisi sangat kering, yang membuat produksi pertanian semakin sulit.
Pada kawasan ini, iklim mikro yang berbeda antarkecamatan memerlukan pendekatan yang lebih terfokus dan kontekstual untuk mengatasi tantangan tersebut. Misalnya, beberapa wilayah yang memiliki tanah kering memerlukan bibit tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan, seperti jenis-jenis tanaman yang dapat bertahan dalam kondisi minim air.
Penanaman bibit yang lebih sesuai dengan kondisi lingkungan setempat dapat menjadi solusi untuk mengurangi kerugian akibat gagal panen (Kuncoro, 2020).
Peran petani perempuan juga tak terlepas dari masalah akses terhadap pasar. Meskipun mereka terlibat dalam produksi pangan, banyak petani perempuan di Sumba Timur kesulitan dalam memasarkan hasil pertanian mereka. Akses ke pasar yang terbatas sering kali menghambat kemampuan mereka untuk menjual hasil pertanian dengan harga yang adil.
Untuk mengatasi hal ini, pengembangan infrastruktur pasar yang lebih baik dan sistem distribusi yang efisien sangat dibutuhkan. Pelatihan dalam pengolahan hasil pertanian juga sangat penting agar produk yang dihasilkan memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.
Misalnya, pelatihan pengolahan hasil pertanian menjadi produk olahan yang bernilai tinggi dan berlabel organik dapat membuka peluang pasar yang lebih luas. Sertifikasi organik dan bantuan alat pemrosesan pertanian juga bisa menjadi bagian dari upaya untuk meningkatkan pendapatan petani perempuan di daerah ini.
Kebijakan pembangunan yang ada belum sepenuhnya memperhitungkan kondisi dan kebutuhan masyarakat di Sumba Timur. Proses pengambilan keputusan yang sering kali bersifat top-down menempatkan laki-laki sebagai pihak yang lebih terlibat, sedangkan perempuan yang memiliki pengetahuan dan pengalaman lebih terkait dengan pengelolaan air dan pertanian jarang dilibatkan dalam proses penyusunan kebijakan.
Padahal, perempuan memiliki pemahaman yang lebih mendalam mengenai cara mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan dan mereka sering kali menjadi ujung tombak dalam ketahanan pangan keluarga. Keberhasilan kebijakan pembangunan sangat bergantung pada seberapa besar keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan. Kebijakan yang tidak melibatkan mereka berisiko tidak sesuai dengan kebutuhan lokal (Yudarwati, 2019).
Untuk itu, pendekatan yang lebih inklusif dalam perencanaan kebijakan sangat dibutuhkan. Salah satunya adalah dengan menggunakan metode Appreciative Inquiry (AI), yang mendorong masyarakat untuk berbicara tentang pengalaman positif yang telah ada, mengidentifikasi kekuatan, dan membangun kebijakan berdasarkan potensi tersebut.
Pendekatan ini dapat memperkuat peran perempuan dalam perencanaan dan pelaksanaan kebijakan yang berkelanjutan, terutama yang berkaitan dengan pengelolaan air dan pertanian. AI memungkinkan perempuan untuk berperan aktif dalam menyuarakan solusi-solusi yang mereka anggap tepat, yang berbasis pada pengalaman mereka dalam mengelola sumber daya alam.
Dengan mendengarkan suara perempuan, kebijakan yang dihasilkan dapat lebih relevan dan sesuai dengan kebutuhan lokal, serta lebih mudah diterima oleh masyarakat. Keterlibatan perempuan dalam proses pengambilan keputusan akan menghasilkan kebijakan yang lebih inklusif dan responsif terhadap tantangan yang ada.
Selain itu, kebijakan ini juga akan memberikan manfaat jangka panjang dalam meningkatkan ketahanan pangan serta memperbaiki kondisi sosial-ekonomi masyarakat di Sumba Timur.
Keterlibatan perempuan dalam kebijakan pembangunan, pemanfaatan potensi lokal seperti penanaman bibit yang sesuai dengan kondisi iklim mikro setempat, serta pengolahan hasil pertanian menjadi produk bernilai tinggi dapat memperkuat ketahanan keluarga dan komunitas.
Pemerintah dan lembaga terkait perlu membuka lebih banyak ruang bagi perempuan untuk terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan kebijakan pembangunan yang berbasis pada kebutuhan masyarakat. Pendekatan yang berbasis pada potensi lokal ini dapat membawa dampak positif dalam menghadapi tantangan yang ada, termasuk dalam pengelolaan air, pertanian, dan akses pasar.




