EtIndonesia. Situasi keamanan global dalam beberapa hari terakhir menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan. Rangkaian ledakan, serangan udara, pengerahan militer besar-besaran, serta gagalnya kemajuan diplomasi kembali menempatkan Timur Tengah dan Asia Selatan dalam sorotan dunia.
Berikut rangkuman perkembangan utama yang terjadi pada 26–27 Februari 2026.
Ledakan Besar di Kilang Minyak Abadan, Iran
Abadan, Iran – 26 Februari 2026
Sebuah ledakan besar mengguncang Kilang Minyak Abadan di Iran selatan pada 26 Februari 2026. Rekaman video yang beredar luas memperlihatkan kobaran api raksasa menjulang tinggi ke langit malam, sementara petugas pemadam kebakaran berusaha keras mengendalikan situasi.
Kilang Minyak Abadan merupakan salah satu fasilitas pengolahan minyak terbesar dan tertua di Iran. Terletak dekat Teluk Persia, kilang ini memiliki kapasitas produksi sekitar 500.000 barel minyak mentah per hari dan menjadi tulang punggung sektor energi nasional Iran.
Hingga laporan ini disusun, penyebab pasti ledakan belum diumumkan secara resmi. Otoritas Iran belum memberikan keterangan rinci apakah insiden tersebut murni kecelakaan industri atau terkait sabotase. Namun, dalam sepekan terakhir, beberapa fasilitas strategis di Iran juga dilaporkan mengalami ledakan misterius, memicu spekulasi mengenai kemungkinan operasi intelijen asing.
Meski belum ada bukti konkret yang mengarah pada pihak tertentu, dinamika geopolitik yang tengah memanas membuat insiden ini sulit dilepaskan dari konteks ketegangan regional.
Israel Intensifkan Serangan ke Hizbullah
Lebanon Selatan & Lembah Bekaa – 26–27 Februari 2026
Pada 26 hingga 27 Februari 2026, Angkatan Udara Israel melancarkan serangkaian serangan udara terhadap target-target milisi Hizbullah di Lebanon selatan dan wilayah Lembah Bekaa.
Rekaman dari lokasi menunjukkan ledakan beruntun yang kuat, dengan kilatan api dan dentuman terus-menerus selama hampir satu menit. Pola ledakan tersebut mengindikasikan bahwa sasaran kemungkinan merupakan gudang amunisi atau fasilitas penyimpanan senjata milik Hizbullah, yang kemudian meledak secara berantai.
Warga setempat melaporkan sedikitnya tiga hingga lima titik berbeda terkena serangan pada siang hari 27 Februari. Asap tebal terlihat membumbung tinggi, menciptakan pemandangan dramatis sekaligus mencekam.
Analis keamanan menilai peningkatan intensitas serangan Israel ini merupakan langkah preventif untuk melemahkan kemampuan tempur Hizbullah, yang dikenal sebagai sekutu utama Iran di kawasan. Dalam skenario konflik langsung Israel–Iran, Hizbullah hampir pasti akan menjadi aktor utama yang membuka front utara melawan Israel dari wilayah Lebanon.
Taliban Nyatakan Perang terhadap Pakistan
Perbatasan Afghanistan–Pakistan – 26 Februari 2026
Ketegangan baru juga meletus di Asia Selatan. Pada malam 26 Februari 2026, Taliban Afghanistan secara mengejutkan mengumumkan operasi militer terhadap Pakistan.
Rekaman yang beredar memperlihatkan peluncur roket ditempatkan di sepanjang perbatasan, disertai konvoi kendaraan lapis baja yang bergerak menuju garis depan. Sejumlah peralatan militer yang digunakan tampak merupakan sisa perlengkapan Amerika Serikat setelah penarikan pasukan dari Afghanistan pada 2021.
Taliban menyatakan operasi tersebut sebagai respons atas dugaan pelanggaran wilayah dan tindakan agresif berulang oleh pasukan Pakistan. Juru bicara Taliban mengklaim telah merebut sejumlah pos militer garis depan Pakistan dan menyebut konflik meluas ke enam provinsi perbatasan.
Wilayah yang disengketakan berada di sepanjang Garis Durand, perbatasan sepanjang lebih dari 2.600 kilometer yang selama ini menjadi sumber ketegangan historis antara kedua negara.
Sebagai respons, pada malam 27 Februari 2026, militer Pakistan melancarkan serangan udara ke Kabul. Video drone yang dirilis militer Pakistan memperlihatkan dua lokasi dihantam rudal secara hampir bersamaan. Kepulan asap tebal terlihat membubung dari titik serangan, meski target spesifik belum diungkap secara resmi.
Perkembangan ini memunculkan kekhawatiran akan konflik berkepanjangan antara kedua negara.
AS Perkuat Kehadiran Militer di Timur Tengah
26 Februari 2026
Di tengah meningkatnya ketegangan, Amerika Serikat secara signifikan memperkuat kehadiran militernya di kawasan.
Pengerahan Jet Tempur Siluman
Citra satelit tertanggal 26 Februari 2026 menunjukkan 11 jet tempur siluman F-22 Raptor telah tiba di Pangkalan Udara Ovda, Israel. Sebelumnya, 12 unit F-22 ditempatkan di Inggris, dan 11 di antaranya terpantau lepas landas menuju Israel.
Pada hari yang sama, AS kembali mengirim 12 F-22 tambahan ke Inggris. Jika seluruhnya dipindahkan, jumlah F-22 yang dapat dikonsentrasikan di kawasan berpotensi mencapai 24 unit.
Selain itu:
- 12 jet F-35 dari Hill Air Force Base (Utah)
- 6 jet F-15E dari Mountain Home (Idaho) dan Seymour Johnson (North Carolina)
dilaporkan bergerak menuju Eropa dan berpeluang diteruskan ke Timur Tengah.
Pergerakan Kapal Induk
Pada 26 Februari 2026, kapal induk USS Gerald R. Ford meninggalkan Teluk Souda di Yunani dan bergerak ke arah perairan dekat Israel. Gugus tempurnya dilengkapi kapal perusak kelas Arleigh Burke, yang memiliki kemampuan pertahanan rudal.
Sementara itu, USS Abraham Lincoln terpantau berada di tenggara Oman, sekitar 700 kilometer dari perbatasan Iran—posisi strategis yang relatif aman dari sebagian besar sistem rudal anti-kapal Iran.
Di Diego Garcia, Samudra Hindia, citra satelit menunjukkan keberadaan:
- Jet F-16
- Tiga pesawat tanker KC-135
- Dua pesawat patroli maritim P-8 Poseidon
- Satu pesawat angkut berat C-5
Pola pengerahan ini menunjukkan kesiapan operasional lintas matra yang serius.
Perundingan AS–Iran Nyaris Buntu
Jenewa, Swiss – 26 Februari 2026
Pada 26 Februari 2026, Amerika Serikat dan Iran kembali menggelar perundingan di Swiss. Namun, pembicaraan berlangsung dalam suasana tegang.
Washington mengajukan tuntutan keras, termasuk:
- Penghancuran fasilitas nuklir Fordow, Natanz, dan Isfahan
- Penyerahan seluruh uranium yang telah diperkaya
- Penghentian permanen pengayaan uranium
- Skema keringanan sanksi yang sangat terbatas dan bertahap
Iran menolak tuntutan tersebut pada hari yang sama. Meski pembicaraan dijadwalkan berlanjut pekan depan, situasi diplomatik dinilai berada di titik kritis.
Dunia di Persimpangan Berbahaya
Dalam rentang waktu hanya 48 jam (26–27 Februari 2026), dunia menyaksikan:
- Ledakan besar di fasilitas energi strategis Iran
- Serangan udara intensif Israel terhadap Hizbullah
- Taliban menyatakan perang terhadap Pakistan
- Pakistan membalas dengan serangan ke Kabul
- Pengerahan besar-besaran militer AS ke Timur Tengah
- Perundingan nuklir AS–Iran yang nyaris tanpa kemajuan
Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan risiko eskalasi regional yang berpotensi meluas. Para pengamat menilai pekan depan akan menjadi periode krusial dalam menentukan arah konflik—apakah diplomasi masih memiliki ruang, atau opsi militer akan benar-benar diaktifkan.
Untuk saat ini, dunia hanya bisa menunggu dengan kewaspadaan tinggi.





