LPS Dorong Investor Saham dan Kripto Waspada: Penipu dan Hacker Mengintai di Indonesia

wartaekonomi.co.id
5 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Meningkatnya minat investasi di kalangan masyarakat, khususnya nasabah pemula, dibarengi dengan risiko kejahatan digital yang kian kompleks. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengingatkan agar keamanan data pribadi menjadi perhatian utama sebelum terjun ke berbagai instrumen keuangan.

Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu menilai tren investasi yang berkembang pesat perlu diimbangi pemahaman mekanisme dan risiko. Edukasi dinilai penting agar investor baru tidak hanya fokus pada potensi keuntungan.

Baca Juga: Investor Pasar Modal Tembus 20 Juta, KISI Catat MKBD Rp1 Triliun

"Nasabah-nasabah pemula sekarang gairah berinvestasinya tinggi, saham, mau ke kripto dan sebagainya. Nah, itu kita beri edukasi supaya mereka tahu mekanismenya dan risiko yang harus dihadapi," ujar Anggito dikutip dari Antara.

Menurut Anggito, lonjakan transaksi digital membuka celah baru bagi pelaku kejahatan siber. Investor pemula dinilai menjadi kelompok yang paling rentan karena minim pengalaman dalam menghadapi modus penipuan.

Ia mengingatkan agar nasabah tidak sembarangan membagikan informasi sensitif, termasuk kode verifikasi dan kata sandi. Perlindungan data pribadi menjadi langkah awal untuk mencegah kerugian finansial.

"Jangan terbuai dengan iming-iming. Jangan sampai 'ngasih' OTP-nya, 'password'-nya itu ditutup. Terus kemudian hati-hati dengan 'scamming', 'malware', sampai 'hackers'," kata Anggito.

Ia menekankan berbagai modus kejahatan digital dapat terjadi melalui berbagai saluran komunikasi daring.

Fenomena scamming dan penyebaran malware disebut semakin marak seiring pertumbuhan layanan keuangan berbasis digital. Kejahatan tersebut kerap memanfaatkan kelengahan pengguna dalam menjaga kerahasiaan data.

Anggito menyebut edukasi berkelanjutan menjadi bagian dari strategi LPS untuk memperkuat literasi keuangan. Masyarakat diharapkan memahami bahwa setiap instrumen investasi memiliki risiko yang harus diperhitungkan.

Selain sosialisasi langsung, LPS juga menggandeng perguruan tinggi untuk melakukan riset perilaku nasabah. Kajian tersebut difokuskan pada pemetaan potensi risiko di sektor keuangan yang terus berkembang.

Riset ini diharapkan memberikan gambaran lebih komprehensif mengenai tantangan keamanan digital. Hasilnya akan menjadi dasar dalam merancang kebijakan dan program edukasi yang lebih tepat sasaran.

Tren investasi yang meningkat dinilai sebagai perkembangan positif bagi inklusi keuangan. Namun, peningkatan partisipasi harus dibarengi kesadaran terhadap ancaman hackers dan penyalahgunaan data.

LPS menegaskan bahwa perlindungan nasabah tidak hanya bergantung pada regulasi, tetapi juga kewaspadaan individu. Investor diminta lebih kritis terhadap tawaran keuntungan tinggi yang tidak disertai penjelasan risiko yang memadai.

Baca Juga: BPR Prima Master Bank Tutup, LPS Bayarkan 88% Klaim Nasabah

Peringatan ini disampaikan sebagai langkah preventif menghadapi dinamika transaksi digital yang semakin luas. Dengan literasi dan kewaspadaan yang memadai, risiko kejahatan siber diharapkan dapat diminimalkan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ngeri! Serangan Drone Rusia Hantam Ukraina, Hotel di Sumy Terbakar Hebat
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Integrasikan 1.231 Anak ke Stunting Action Hub, Telkom Perkuat Intervensi Gizi Berbasis Data
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
Sinopsis Drama China Prosecution Elite, Kisah Dilraba Dilmurat Jaksa Muda yang Guncang Dunia Kriminal
• 6 jam lalugrid.id
thumb
Ratusan WNI Terlibat Kelompok Ekstremis Telantar di Suriah, Kemlu Tunggu Proses Verifikasi
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
Wardatina Mawa Bantah Persulit Akses ke Anak, Insanul Fahmi: Saya Punya Bukti
• 7 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.