DEPOK, KOMPAS.com - Auditor Kepolisian Madya TK II Inspektorat Pengawasan Umum (Itwasum) Polri Kombes Pol Manang Soebeti menyebutkan, identitas peneror anggota Pemadam Kebakaran (Damkar) Depok, Khairul Umam, bukan dari aparat kepolisian.
Pernyataan ini sekaligus untuk menanggapi asumsi publik usai viralnya Khairul yang mengaku mendapat intimidasi setelah mengunggah konten penjelasan mengenai fungsi helm sebagai alat pelindung diri (APD).
Konten itu digiring dan dikaitkan sebagai sindiran yang berhubungan dengan peristiwa tewasnya pelajar setelah dianiaya anggota Brimob di Tual, Maluku Tenggara.
Baca juga: KTP Sidoarjo Pengemudi Calya Lawan Arah di Gunung Sahari Ternyata Palsu
“Dan yang paling penting, tuduhan yang dikomentarkan itu kan arahnya yang meneror dicurigai adalah polisi. Nah itu saja yang saya ingin buktikan bahwa (peneror) bukan polisi,” kata Manang saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (28/2/2026).
Manang menjelaskan, kepastian itu bisa dilihat dari temuan data identitas yang diungkapnya menggunakan nomor telepon WhatsApp peneror.
Berdasarkan data identitas yang terungkap, peneror adalah seorang pria atas nama Wawan Gunawan yang lahir pada kisaran tahun 1980-an dengan profesi buruh harian lepas.
Dalam data itu, Wawan masih belum menikah dan bertempat tinggal di Dusun Pangadangan, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Menurut Manang, aksi yang dilakukan Wawan diduga hanya bersifat iseng karena pesan bernada intimidasi itu baru dikirim satu hingga dua kali.
Apalagi, nomor telepon disebut menjadi akses paling mudah yang dapat dijangkau peneror iseng.
“Dan ini tujuannya sebenarnya bukan teror karena hanya dilakukan satu kali dan dua kali. Kalau teror itu pasti intens dong, misalnya di-spam atau didatangi,” terang Manang.
Baca juga: Hati Guru SLB Bekasi Tergores Dengar Kegelisahan Siswa: “Setelah Lulus, Saya Kerja Apa?”
Sebelumnya, anggota pemadam kebakaran (Damkar) Kota Depok, Khairul Umam, mendapat teror setelah ia mengunggah konten penjelasan fungsi helm sebagai alat pelindung keselamatan.
Dalam video tersebut, ia menyebut helm dirancang untuk melindungi kepala dari benturan, bukan untuk melukai.
Konten itu kemudian banyak ditafsirkan oleh sebagian orang sebagai sindiran terhadap kasus dugaan kekerasan oleh aparat kepolisian yang menewaskan seorang pelajar setelah diduga dipukul menggunakan helm.
Setelah konten itu, Khairul menerima teror berupa pesan bernada ancaman yang dikirim melalui chat pribadi di WhatsApp. Pengirim awalnya mengaku sebagai penggemar, lalu meminta Khairul berhati-hati, menyarankan menjaga keselamatan, hingga menyuruhnya “sowan” kepada orangtuanya.
“Bilang saya harus pake helm, jaga keselamatan saya, suruh minta sowan sama orangtua saya gitu-gitu,” kata Khairul.
Dalam pesan lain, pengirim menuliskan kalimat bernada intimidatif.
“Ya halus-halus sih halus-halus gitu. Soalnya sempet juga dia ngomong, 'tunggu saya ada kejutan buat kamu',” ungkap Khairul.
Baca juga: 73 KK Terdampak Proyek Flyover Bulak Kapal, Ganti Rugi Ditargetkan Cair Maret–April 2026
Ia menegaskan, konten yang dibuatnya mengenai penggunaan helm alat pelindung diri (APD) bertujuan untuk edukasi, bukan menyindir pihak tertentu.
Konten tersebut sempat dikaitkan dengan kasus dugaan kekerasan yang melibatkan oknum aparat dari Korps Brimob Polri, di mana seorang pelajar SMP dilaporkan meninggal dunia setelah diduga dipukul menggunakan helm.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



