Kemenkomdigi dan Pegiat Literasi Digital Bagikan Strategi Orang Tua Dampingi Anak di Ruang Digital

pantau.com
3 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Kementerian Komunikasi dan Digital bersama pegiat literasi digital membagikan strategi bagi orang tua untuk mendampingi anak di ruang digital, mulai dari komunikasi terbuka hingga pemanfaatan fitur pengawasan perangkat.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Mediodecci Lustarini menyatakan pola pengawasan anak saat ini tidak bisa disamakan dengan masa lalu.

Ia mengatakan, "Pengawasannya bukan dengan cara keras, tapi dengan pendampingan dan komunikasi. Anak-anak hidup di ruang digital, jadi orang tua harus mau memahami,".

Mediodecci mencontohkan penerapan perjanjian tertulis di rumah terkait batas waktu penggunaan gawai dan aturan pengunduhan aplikasi yang ditempel serta dijalankan secara konsisten.

Orang tua juga dapat memanfaatkan fitur pengawasan seperti Family Link pada perangkat Android maupun fitur pengawasan bawaan pada perangkat Apple.

Ia mengatakan, "Kalau sudah melewati batas waktu, perangkat bisa terkunci otomatis. Ini membantu orang tua yang tidak bisa mendampingi sepanjang waktu,".

Mediodecci menekankan pentingnya membiasakan anak meminta izin sebelum mengunduh aplikasi atau menggunakan gawai di luar waktu yang disepakati.

Ia menilai beban orang tua di era digital meningkat karena harus memastikan pendidikan formal sekaligus menjaga keamanan dan kesehatan anak dalam memanfaatkan teknologi.

Executive Director ICT Watch Indriyatno Banyumurti menyatakan komunikasi menjadi fondasi utama pengasuhan digital.

Ia merujuk pada panduan "7 Steps to Good Digital Parenting" dari Family Online Safety Institute dan menekankan langkah pertama adalah membangun komunikasi terbuka dengan anak.

Indriyatno mengatakan, "Belajar (bagi orang tua) bukan untuk mengejar anak, tapi untuk memahami apa yang mereka lakukan di ruang digital,".

Indriyatno menyebut orang tua perlu terus belajar memahami aktivitas anak di internet, memanfaatkan parental control, menetapkan aturan dan konsekuensi, mengikuti aktivitas anak tanpa berlebihan, memanfaatkan teknologi untuk kegiatan bersama, serta menjadi teladan dalam penggunaan gawai.

Ia juga menyoroti perbedaan pola pengasuhan di berbagai daerah seperti Indramayu, Bali, dan Kupang yang menunjukkan variasi tingkat pemahaman teknologi.

Menurutnya, literasi digital bagi orang tua perlu disesuaikan dengan konteks daerah dan tidak bisa diseragamkan.

Kedua narasumber sepakat bahwa regulasi dan fitur teknologi dapat membantu, namun kunci utama perlindungan anak tetap pada komunikasi yang konsisten, pembiasaan sejak dini, serta peran aktif orang tua sebagai teladan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Manusia Sebentar Lagi Digantikan Total, Pakar Ungkap Skenario 2028
• 9 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Seskab Teddy: Kesejahteraan guru jadi perhatian pemerintah
• 18 jam laluantaranews.com
thumb
2 Negara Muslim "Perang Terbuka", China Turun Gunung
• 22 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Menaker Pastikan Pihak Aplikator Bakal Salurkan BHR Ojol Lebih Baik di Tahun Ini
• 21 jam laluviva.co.id
thumb
101 Mal Ikut Jakarta Festive Wonder, Diskon Belanja Sampai 70% Saat Ramadan
• 20 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.