Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia membutuhkan talenta sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) untuk menjawab persaingan global. Masalahnya, masih banyak lulusan perguruan tinggi di Tanah Air dinilai belum siap menghadapi kebutuhan industri.
Data Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) 2023 menunjukkan hanya 18,47 persen lulusan perguruan tinggi berasal dari bidang STEM. Sebagian di antaranya bahkan memilih berkarir di luar bidang keilmuannya.
Ketua Pusat Unggulan (PUU) STEM Education Creativity Universitas Pendidikan Indonesia, Irma Rahma Suwarma, menilai persoalan utama terletak pada model pembelajaran. Kegagalan lulusan STEM di dunia kerja bukan karena kurang cerdas, melainkan akibat perkuliahan yang terlalu teoritis.
Dia menjelaskan banyak program studi sains murni masih mengandalkan metode lecturing. Mahasiswa lebih banyak dilatih menguasai konsep ketimbang menggunakannya dalam situasi nyata. Perubahan pendekatan pembelajaran baru mulai terasa pada 2023–2024.
“Indonesia bisa dibilang terlambat menyadari persoalan kualitas SDM STEM. Lulusan kita sulit bersaing secara global di industri dan teknologi, padahal perkembangan teknologi sangat cepat,” kata Irma.
Dampak pendekatan teoritis itu terlihat saat lulusan memasuki dunia kerja. Kesenjangan antara kampus dan industri menjadi nyata. Banyak lulusan belum terbiasa memecahkan persoalan konkret atau bekerja lintas disiplin.
Baca Juga
- Pertamina melalui Inovasi Kompetisi PFsains Bangun Pertanian Terintegrasi di Pesantren
- BP Batam Bidik Investasi Teknologi dan Maritim dengan Jerman & Jepang
- RI Wajib Konsultasi Teknologi ke AS, Telkomsel Diversifikasi Vendor BTS 5G
Irma juga melihat kelemahan paling nyata pada hilirisasi riset. Banyak penelitian berhenti pada publikasi akademik tanpa berlanjut ke penerapan di masyarakat atau industri. Akibatnya, riset sering kali hanya “hidup di atas kertas”.
Selain kampus yang belum agresif mendorong implementasi, industri dinilai belum sepenuhnya terbuka terhadap hasil riset perguruan tinggi. Isu paten, kepercayaan, dan pemanfaatan riset masih menjadi penghambat kolaborasi.
“Hambatan itu membuat riset naik secara publikasi, tetapi hilirisasinya belum optimal,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Irma menilai pendidikan STEM di Indonesia tidak bisa meniru mentah-mentah model negara lain. STEM perlu dikaitkan dengan kearifan lokal dan konteks Indonesia agar relevan dan menarik bagi mahasiswa.
Dengan pendekatan tersebut, STEM berpeluang melahirkan inovasi yang berangkat dari persoalan nyata di masyarakat. Relevansi inilah yang selama ini kerap hilang dalam pendidikan STEM di dalam negeri.
Irma juga melihat pendekatan STEAM (STEM + Arts) sebagai tahap lanjutan untuk mendorong kreativitas dan inovasi. Namun, bagi Indonesia yang masih memperkuat fondasi, penguatan STEM dasar tetap menjadi prioritas sebelum melangkah penuh ke STEAM.
“STEAM itu penting, tapi STEM-nya harus kuat dulu. Setelah itu baru naik ke STEAM. Di negara seperti Korea, basis seni sudah kuat sehingga STEAM berkembang lebih cepat,” tutup Irma.





