REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di tengah percepatan transisi energi global, pengembangan mineral kritis dinilai menjadi salah satu kunci strategis bagi ketahanan energi dan daya saing industri nasional. Namun, hingga kini, masih banyak mineral ikutan yang belum dimanfaatkan optimal, bahkan dianggap sebagai limbah.
Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Yudha mengatakan, dalam praktik pertambangan nasional, masih terdapat mineral-mineral bernilai tinggi yang belum teridentifikasi secara maksimal karena keterbatasan teknologi pengolahan.
“Banyak mineral ikutan yang sebenarnya punya nilai strategis, tetapi belum kita maksimalkan. Bahkan ada yang belum ditemukan atau belum dihitung karena dianggap waste,” ujar Satya dalam Sarasehan dan Sosialisasi Kebijakan Energi Nasional di Jakarta, Kamis (27/2).
Padahal, dalam konteks global, mineral kritis seperti nikel, tembaga, logam tanah jarang, hingga unsur pendukung baterai dan energi terbarukan menjadi komponen utama dalam pengembangan kendaraan listrik, sistem penyimpanan energi, hingga industri pertahanan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Pemerintah sendiri telah menetapkan klasifikasi mineral kritis dan strategis untuk mendukung pengembangan industri nasional dan mengurangi risiko ketergantungan pasokan global. Kriteria mineral kritis antara lain menjadi bahan baku industri strategis, memiliki risiko tinggi terhadap pasokan, serta tidak memiliki pengganti yang layak.
Satya menekankan, tantangan utama bukan hanya pada besarnya cadangan, melainkan pada kemampuan teknologi untuk mengolah dan memisahkan mineral ikutan agar bernilai tambah.
“Kuncinya ada di teknologi pengolahan. Kalau teknologinya maju, maka yang tadinya dianggap limbah bisa menjadi produk bernilai tinggi,” katanya.
Pendekatan waste to value dinilai menjadi paradigma baru dalam pengelolaan sumber daya mineral. Dalam praktik ini, residu atau mineral ikutan dari proses utama tidak lagi dipandang sebagai sisa produksi, melainkan sebagai potensi ekonomi baru yang dapat memperkuat hilirisasi.
Selain meningkatkan nilai tambah, optimalisasi mineral kritis juga dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok energi masa depan. Apalagi, transisi energi global diproyeksikan meningkatkan permintaan mineral tertentu secara signifikan dalam satu dekade mendatang.
Namun, pengembangan tersebut tetap harus diiringi praktik pertambangan berkelanjutan, penerapan kaidah lingkungan yang ketat, serta tata kelola yang transparan.
“Mineral membangun peradaban, tetapi keberlanjutan menentukan apakah peradaban itu bisa bertahan,” ujar Satya.
Karena itu, penguatan riset, inovasi teknologi pengolahan, dan kolaborasi antara pemerintah, industri, serta akademisi menjadi krusial agar potensi mineral kritis nasional tidak lagi terbuang sebagai waste, melainkan menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi dan ketahanan energi Indonesia.



