FAJAR, JAKARTA — Memasuki pekan ke-24 BRI Super League 2025/2026, kompetisi mulai kehilangan ruang untuk kesalahan.
Setiap pertandingan kini terasa lebih berat, lebih emosional, dan lebih menentukan. Papan klasemen tidak lagi sekadar angka, melainkan gambaran jelas siapa yang bertahan dalam perebutan gelar dan siapa yang mulai ditinggalkan.
Pekan ini menghadirkan dua laga yang bisa mengubah arah musim: Persebaya Surabaya menjamu Persib Bandung, serta Persija Jakarta menghadapi Borneo FC dalam duel papan atas.
Dua pertandingan, dua cerita besar, satu konsekuensi yang sama—perebutan momentum menuju akhir kompetisi.
Di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Senin malam (2/3), Persebaya akan menghadapi ujian terbesar mereka musim ini.
Persib Bandung datang sebagai pemuncak klasemen sekaligus tim paling stabil sepanjang kompetisi. Enam kemenangan beruntun membuat Maung Bandung tampil dengan aura kandidat juara yang semakin nyata.
Namun Persebaya tidak datang tanpa modal.
Kemenangan tipis 1-0 atas PSM Makassar pada pekan sebelumnya menjadi titik balik psikologis bagi skuad asuhan Bernardo Tavares. Setelah sempat goyah, Green Force kembali menemukan kepercayaan diri.
Laga ini menjadi lebih dari sekadar pertandingan kandang.
Bagi Persebaya, mengalahkan Persib berarti membuka kembali pintu menuju empat besar. Sebaliknya, kegagalan meraih poin bisa membuat mereka semakin tertinggal dari persaingan elite.
Persib sendiri datang dengan misi berbeda: menjaga jarak di puncak klasemen. Dalam fase akhir musim, konsistensi lebih penting daripada permainan indah. Tiga poin di Surabaya akan mempertegas dominasi mereka sebagai tim paling siap menjadi juara.
Gelora Bung Tomo pun dipastikan menjadi panggung tensi tinggi—antara ambisi kebangkitan dan stabilitas sang pemimpin liga.
Sehari berselang, sorotan berpindah ke Jakarta International Stadium.
Persija Jakarta akan menjamu Borneo FC dalam laga yang mungkin menjadi pertarungan paling strategis pekan ini.
Persija saat ini menempati posisi kedua klasemen dengan 50 poin dari 23 pertandingan. Namun keunggulan mereka hanya terpaut satu poin dari Borneo FC yang berada tepat di bawahnya dan masih menyimpan satu laga lebih sedikit.
Artinya, hasil pertandingan ini bisa langsung mengubah struktur papan atas.
Persija membawa misi balas dendam setelah kalah pada pertemuan pertama di Samarinda. Sementara Borneo FC datang dengan kepercayaan diri tinggi usai kemenangan meyakinkan 3-1 atas Arema FC pekan lalu.
Pertandingan ini bukan sekadar perebutan posisi kedua.
Ini adalah duel menjaga mimpi juara tetap hidup.
Dalam kompetisi panjang seperti Super League, momentum sering lebih menentukan dibanding kualitas skuad. Tim yang mampu menjaga ritme kemenangan di fase akhir biasanya menjadi yang terakhir tersenyum.
Di luar dua laga besar tersebut, pekan ke-24 tetap menyimpan cerita penting lain.
PSM Makassar akan menjamu Persita Tangerang dalam upaya keluar dari tren negatif yang menghantui beberapa pekan terakhir. Dewa United menghadapi Bhayangkara FC dalam duel yang berpotensi memengaruhi papan tengah, sementara Arema FC ditantang Bali United dalam laga yang selalu menghadirkan intensitas tinggi.
Kompetisi kini memasuki fase di mana setiap tim memiliki alasan berbeda untuk menang: mengejar gelar, mengamankan posisi, atau sekadar menjauh dari ancaman degradasi.
Sepak bola selalu berubah seiring waktu, tetapi satu hal tetap sama: menjelang akhir musim, tekanan menjadi lawan terbesar.
Pekan ke-24 Super League bukan hanya tentang jadwal pertandingan. Ia adalah titik di mana ambisi mulai diuji oleh realitas.
Persebaya mencoba menantang pemimpin klasemen.
Persija dan Borneo berebut napas terakhir dalam perburuan gelar.
Sementara tim lain berusaha memastikan musim mereka tidak berakhir terlalu cepat.
Dan seperti biasa dalam sepak bola, satu pekan bisa mengubah segalanya.





