OPEC+ mempertimbangkan opsi peningkatan pasokan minyak mentah usai serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
Dikutip dari Bloomberg, beberapa delegasi menyatakan bahwa kelompok negara pengekspor minyak bumi yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Rusia itu diperkirakan melanjutkan peningkatan produksi yang moderat mulai April 2026 setelah pembekuan pasokan selama tiga bulan.
Pada kuartal IV 2025 lalu, OPEC+ telah menambahkan peningkatan produksi minyak mentah bulanan sebesar 137.000 barel per hari.
Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa AS sedang melakukan operasi besar-besaran terhadap Iran untuk mencegahnya memperoleh senjata nuklir. Operasi itu ak lama setelah Israel melancarkan serangan udara ke Iran. Hal tersebut memicu kekhawatiran akan konflik yang lebih luas di wilayah yang kaya minyak tersebut.
Harga minyak mentah naik ke level tertinggi selama tujuh bulan sebesar USD 73 per barel pada Jumat (27/2), karena kekhawatiran atas potensi serangan mengimbangi tanda-tanda kelebihan pasokan global.
Dalam beberapa hari terakhir, Riyadh dan beberapa produsen lainnya, termasuk Iran, mempercepat ekspor minyak. Arab Saudi, pemimpin OPEC, meningkatkan pasokan tahun lalu untuk sementara di tengah pemboman fasilitas nuklir Iran oleh AS.
Serangan terbaru ini terjadi dua hari setelah delegasi dari Republik Iran dan AS bertemu di Swiss untuk putaran ketiga negosiasi tentang aktivitas nuklir Iran. Meski Iran terdengar optimistis tentang arah pembicaraan, Trump mengatakan pada Jumat kalau tidak senang dengan bagaimana pembicaraan tersebut berlangsung.





