"Baju baru, Alhamdulillah, tuk dipakai di Hari Raya. Tak punya pun tak apa-apa, masih ada baju yang lama." Lagu Dea Ananda yang bergulir di telinga setiap menjelang Hari Raya Ramadan kini berganti narasi dengan ramainya antrean penukaran uang yang mengular, seperti ritual tahunan yang tak pernah absen. Pertanyaan terkait kuota di pintar.go.id—aplikasi penukaran uang Bank Indonesia—tak habis memancing perdebatan serius di media sosial.
Semua orang tua sibuk menyiapkan amplop kecil berwarna merah, berharap isinya membawa senyum bagi para keponakan yang menunggu dengan mata berbinar.
Tradisi berbagi angpao seolah menjadi jembatan sederhana yang menghubungkan generasi dan menyatukan kasih sayang dalam selembar uang kertas yang masih harum tinta percetakannya.
Ada kebanggaan tersendiri menatap senyum anak-anak dan keponakan, sambil mengacungkan uang-uang yang masih berjejer kaku dalam amplop serta memekik tertahan karena kegirangan.
Namun, gegap gempita persiapan Lebaran dibayangi permasalahan klasik: tidak semua orang punya waktu menukar uang baru dan tidak pula semua membawa uang tunai. Belum lagi keluhan karena antrian pada aplikasi penuh dan uang baru tidak tersedia karena hampir seluruh masyarakat memanfaatkan momen tersebut.
Lalu muncul keresahan baru: Apakah jumlah uang kita terbatas? Mengapa begitu sulit mendapatkan uang baru? Apakah kita sudah akan mengalami krisis?
Kurangnya ketersediaan uang baru ini dapat disebabkan karena permintaan sangat tinggi dalam waktu yang sangat singkat, sehingga aplikasi penuh akibat sistem terpusat dan akhirnya terjadi gangguan sistem saat lalu lintas meningkat.
Selain itu dengan mengikuti perkembangan zaman, transaksi non tunai terus digenjot, sehingga perlu dilakukan penyesuaian jumlah uang tunai yang beredar sebagai bagian dari kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Lalu tersisa satu pertanyaan: Apakah angpao harus selalu berupa uang baru? Bukankah yang paling penting adalah nominalnya? Apakah kebahagiaan menerima lembaran uang Rp50.000,00 secara fisik berbeda dengan dentingan pemberitahuan di layar gawai yang memberikan kabar bahwa saldo kita sudah bertambah Rp50.000,00?
Jawaban untuk pertanyaan itu sama sederhananya dengan pertanyaan 1+1 sama dengan 2 atau pertanyaan tentang apakah ibukota Indonesia adalah Jakarta. Tentu saja karena masyarakat berubah, yang mana kebiasaan ikut bergeser dan kita harus terus ikut bergerak apabila tidak ingin tergilas dengan perkembangan digital.
Di antara tradisi yang bertahan, teknologi datang mengetuk pintu. Kini, angpao tidak lagi selalu lahir dari sebuah amplop merah. Ia bisa mengalir melalui layar gawai dalam genggaman kita. Lebih cepat, lebih mudah, dan tetap bermakna.
Fenomena ini bukan sekadar gaya hidup. Data menunjukkan bahwa penggunaan QRIS meningkat dengan melonjaknya adopsi QRIS hingga mencapai 60 juta pengguna pada 2026.
Peningkatan ini terjadi karena kesederhanaannya: cukup pindai kode QR, saldo otomatis bertambah. Jika mobilitas meningkat, pusat perbelanjaan penuh, dan antrian kasir mengular, QRIS menjadi penyelamat kecil yang membuat hidup lebih ringkas.
Namun, apa arti perubahan ini bagi tradisi? Apakah angpao digital akan menghapus kehangatan amplop yang ditunggu setiap tahun?
Tidak. Tradisi selalu berkembang bersama manusianya. Perilaku finansial masyarakat—yang mulai didominasi oleh Generasi Milenial dan Generasi Z (Gen Z)—kini bergeser ke arah cashless.
Ada kehangatan baru yang lahir ketika seorang kakek yang sebelumnya gagap teknologi belajar membuat QRIS hanya agar cucunya bisa menerima angpao dengan mudah. Ada kebanggaan baru ketika seorang remaja membuat kode QR sendiri, lalu memamerkannya kepada paman dan bibi yang ingin memberi hadiah Hari Raya.
Ada tawa, kadang canggung, kadang lucu ketika teknologi dan tradisi bertemu. Ada kedekatan emosional yang timbul dari seorang anak yang mengajarkan cara mengirimkan angpao lewat QRIS di ruang tamu keluarga.
Sudah saatnya masyarakat memanfaatkan pembayaran non-tunai menjelang hari raya karena transaksi digital lebih aman dari risiko kehilangan uang dan lebih efisien bagi semua pihak. Ketika banyak orang bepergian saat Lebaran, keamanan dan kemudahan transaksi bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan.
Lagipula, sangat tidak menyenangkan rasanya harus mudik dengan was-was karena membawa tumpukan uang tunai dalam tas. Bahkan, seorang kakek yang hanya menanyakan arah pun pun dapat terlihat sebagai penjahat dalam bayangan kita akibat kekhawatiran yang berlebihan.
Tentu saja penggunaan perangkat digital harus penuh dengan kehati-hatian, dengan tetap menjaga informasi pribadi supaya tidak mudah dibobol oleh peretas. Ingat sebuah dongeng klasik Rumpelstiltskin, ada makhluk kecil misterius yang hanya bisa dikalahkan jika seseorang mengetahui namanya.
Karena itu, ia selalu menyembunyikan namanya dari manusia. Mengetahui nama sama artinya dengan memiliki kekuatan atas dirinya. Begitu juga dengan memberikan informasi pribadi seperti nama, nama ibu kandung, ataupun kode OTP kepada orang tidak dikenal, hal itu sama saja dengan membuka pintu bagi pencuri untuk masuk dan menjarah rumah kita.
Angpao digital bukan sekadar solusi praktis, melainkan juga simbol perubahan zaman. Jika dulu amplop merah menjadi medium berbagi, kini layar gawai mengambil alih perannya tanpa menghilangkan niat baik. Tanpa mengurangi kebahagiaan di hari kemenangan—bahkan memperluas jangkauan karena keluarga jauh di luar kota—seseorang kini bisa mengirim angpao dalam hitungan detik tanpa harus menunggu bertemu.
Ke depan, tradisi memberi angpao mungkin mengalami disrupsi. Di satu sisi, amplop fisik akan terus bertahan karena ada sentuhan emosi di dalamnya. Namun di sisi lain, angpao digital dengan QRIS akan semakin mengakar sebagai bagian dari budaya baru: budaya yang lebih efisien, aman, dan sesuai dengan ritme hidup masyarakat modern.
Seperti tradisi apa pun yang berhasil bertahan, perubahan ini tidak perlu ditakuti. Ia hanya perlu diterima dengan hati yang lapang dan pemahaman bahwa esensi memberi tidak berubah—yang berubah hanyalah caranya.
Pada akhirnya, hari raya adalah soal berbagi. Entah lewat amplop atau QRIS, angpao tetaplah simbol cinta yang mengalir, membawa kebahagiaan dari satu generasi ke generasi lain.
Kini, narasi itu beralih menjadi "Uang baru, Alhamdulillah, tuk dipakai di hari Raya. Tak baru pun tak apa-apa, masih bisa di scan QRISnya."





