Sebelum Suntik Toksin, Dokter Ini Ingatkan Hal Penting yang Sering Diabaikan Pasien

tabloidbintang.com
3 jam lalu
Cover Berita

TABLOIDBINTANG.COM - Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap perawatan estetika, suntik toksin botulinum kerap menjadi pilihan untuk mengatasi kerutan hingga membentuk kontur wajah.

Namun bagi dr. Raynald Agus Setiawan, tindakan ini bukan sekadar soal hasil instan, melainkan tentang edukasi yang menyeluruh kepada pasien.

“Ekspektasi dibangun melalui edukasi. Saya selalu menjelaskan dari A sampai Z—untuk apa tindakan ini, bagaimana prosedurnya, dan hasil realistis yang bisa diharapkan,” ujar dr. Raynald di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta.

Menurutnya, banyak orang mengira efek suntikan akan langsung terlihat keesokan hari. Padahal, hasil maksimal biasanya baru tampak dalam 3 hingga 14 hari. 

Tanpa pemahaman ini, pasien menurut dr. Raynald bisa merasa ragu atau bahkan menganggap tindakan yang dilakukan tidak berhasil.

Pahami Jenis Kerutan

Secara medis, kerutan terbagi menjadi dua: dinamis dan statis. Kerutan dinamis muncul saat wajah berekspresi, tersenyum, mengernyit, atau mengangkat alis.

Sementara kerutan statis terlihat bahkan saat wajah dalam kondisi rileks.

Penyuntikan toksin umumnya ditujukan untuk kerutan dinamis karena cara kerjanya adalah melemahkan otot ekspresi.

Protein dalam toksin membantu merelaksasi otot, sehingga garis halus menjadi lebih samar.

Namun kini, pemanfaatannya semakin luas. Selain untuk kerutan, toksin juga digunakan untuk mengecilkan otot rahang agar wajah tampak lebih tirus dan simetris, bahkan untuk membantu mengurangi produksi keringat berlebih.

“Kalau secara medis memungkinkan dan hasilnya realistis, tentu bisa kita kerjakan. Tapi kalau tidak memungkinkan, saya akan sampaikan dengan jujur agar pasien tidak merasa dibohongi,” ungkap dr. Raynald. 

Wajah Berbeda, Dosis Disesuaikan

Selama lebih dari 12 tahun praktik, Dr. Raynald menekankan bahwa tidak ada formula seragam dalam penyuntikan toksin. Setiap pasien memiliki karakteristik wajah dan kebutuhan dosis yang berbeda.

Terlalu sedikit bisa membuat hasil kurang optimal. Terlalu banyak justru berisiko membuat wajah tampak tidak natural. Karena itu, teknik dan pengalaman dokter sangat menentukan.

Downtime tindakan ini relatif minimal. Namun tetap ada kemungkinan respons ringan seperti pusing atau pembengkakan kecil di area suntikan. Reaksi tersebut umumnya wajar dan bersifat sementara.

“Kalau pasien sudah diberi tahu dari awal, mereka jadi lebih siap. Bisa mengatur jadwal dan aktivitasnya,” jelasnya.

Salah satu perhatian utama Dr. Raynald adalah maraknya produk toksin dengan harga murah yang belum tentu jelas legalitasnya.

“Kesalahan paling umum pasien adalah hanya melihat harga. Padahal murah belum tentu asli, dan belum tentu tekniknya tepat,” katanya.

Toksin botulinum adalah protein biologis yang sangat sensitif terhadap suhu. Produk ini harus disimpan dalam rentang 2–8 derajat Celsius dan didistribusikan menggunakan sistem cold chain.

Di negara beriklim tropis seperti Indonesia, rantai pendingin menjadi krusial untuk menjaga kualitas.

Jika distribusi tidak sesuai standar, struktur protein dapat rusak dan memengaruhi efektivitas perawatan. Keluhan yang sering muncul akibat kualitas produk yang menurun adalah hasil yang cepat hilang.

Karena itu, ia selalu menyarankan pasien untuk meminta melihat langsung kemasan asli produk yang akan digunakan, memastikan segel masih utuh dan berasal dari distributor resmi.

Standar FDA Penting

Dalam memilih produk, Dr. Raynald mengaku mengutamakan yang telah mendapatkan persetujuan dari Food and Drug Administration (US FDA).

Baginya, label FDA approved menunjukkan produk telah melalui uji klinis dan standar keamanan yang ketat.

Salah satu produk yang ia gunakan adalah Nabota dari Daewoong Pharmaceutical, yang telah memperoleh persetujuan FDA.

“Kalau sudah FDA approved, saya lebih percaya diri menggunakannya dan merekomendasikannya kepada pasien,” ujarnya

Apakah perawatan ini cocok untuk semua? Secara jenis kulit, jawabannya iya, baik berminyak maupun kering.

Namun faktor usia tetap menjadi pertimbangan. Pada usia 20–30 tahun, toksin bisa bersifat preventif untuk mencegah kerutan semakin dalam.

Sementara pada usia lanjut, analisis medis tetap menjadi penentu apakah tindakan layak dilakukan.

"Namun kembali lagi, semuanya tergantung teknik dokter dan dosis yang harus benar-benar disesuaikan dengan kondisi pasien. Jika toksin disuntikkan terlalu banyak, hasilnya justru bisa kurang baik," ungkap dr. Raynald.

Idealnya menurut dr. Raynald penyuntikan dilakukan setiap 3–6 bulan. Namun jadwal bisa berbeda pada setiap individu.

“Saya lebih memilih mengulang tindakan ketika kerutan mulai terlihat kembali. Jadi menyesuaikan kondisi pasien,” jelasnya.

Menariknya, setelah beberapa kali perawatan, keluhan biasanya semakin ringan. Garis yang awalnya tegas menjadi lebih halus, dan hasil cenderung lebih stabil.

“Edukasi tetap menjadi garda terdepan. Ketika pasien paham prosesnya, mereka tidak hanya fokus pada durasi hasil, tapi juga kualitas dan keamanannya," ujar dr. Raynald.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BGN Ogah Kompromi, 47 SPPG Penyedia Menu Tak Layak Konsumsi Diberi Suspensi
• 2 jam lalujpnn.com
thumb
Momen Prabowo Buka Puasa Bareng Bobby Kertanegara
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Ibas Tekankan Pentingnya Gotong Royong dalam Sistem JKN bagi Pelaku UMKM
• 5 jam laludetik.com
thumb
Kronologi Rapat DPR Bahas Akses Musala Cluster Bekasi di Bawah Pimpinan Habiburokhman
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Di Balik Label: Petualangan Sang Validator Menjaga Kebenaran Ilmu Pengetahuan
• 11 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.