FAJAR, MAKASSAR – Konsumsi frozen food (makanan beku) kemasan harus dibatasi. Waspada risiko hipertensi dan diabetes.
Dosen Gizi dan Pangan Universitas Islam Makassar, Syamsul Rahman menjelaskan, makanan beku pada dasarnya masih dapat mempertahankan nilai gizi.
Namun, catatannya jika proses pembekuan dilakukan sesuai standar. Suhu dingin mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme penyebab pembusukan.
“Pembekuan yang tepat dapat menjaga kualitas protein hewani serta mencegah kontaminasi bakteri berbahaya,” kata Syamsul.
Ia mengingatkan bahwa kesalahan dalam penyimpanan justru dapat menurunkan mutu makanan. Suhu freezer yang tidak stabil atau kebiasaan mencairkan lalu membekukan kembali makanan, dapat merusak struktur pangan. Bisa meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri.
“Ini yang sering tidak disadari masyarakat. Produk yang sudah mencair sebaiknya tidak dibekukan ulang karena berpotensi menimbulkan gangguan pencernaan,” ucapnya.
Guru Besar dan Ahli Gizi Unhas, Prof Veny Hadju menyarankan masyarakat agar lebih selektif dalam memilih produk frozen food. Terutama untuk konsumsi rutin dan anak-anak.
“Konsumsi berlebihan bahan tambahan seperti pengawet dan natrium dapat memicu gangguan metabolisme, alergi, hingga meningkatkan risiko hipertensi dan diabetes,” jelasnya.
Sebagai solusi, ia menganjurkan agar konsumen selalu membaca label informasi gizi pada kemasan. Pilih produk dengan kandungan protein tinggi, rendah garam, gula, dan lemak jenuh, serta minim bahan tambahan yang tidak diperlukan.
“Label gizi memberi gambaran jelas apakah produk tersebut aman dikonsumsi dalam jangka panjang,” tuturnya. (*)





