Bisnis.com, BANDA ACEH — Tambahan pemasukan seperti THR dan bonus kerap membuat pengeluaran melonjak tajam. Padahal dengan strategi yang tepat, dana tersebut bisa dikelola agar tidak habis percuma setelah Lebaran usai.
Dilansir dari postingan Prita Hapsari Ghozie seorang perencana keuangan terkenal, Sabtu (28/2/2026), bahwa euforia menerima uang lebih sering memicu perilaku konsumtif yang tidak terencana. Kebiasaan mengganti mobil, korden, hingga penampilan demi hari raya perlu dipikirkan ulang agar tidak terjebak dalam belanja berlebihan.
“Dapet gaji, plus THR, plus bonus? Bukan berarti jadi segala mesti dibeli yaaa. Apa kita butuh itu semua?” tulis Prita, seraya mengajak untuk kembali bertanya.
Dia membagikan lima langkah agar THR tidak boncos dan terhindar dari compulsive buying atau dorongan yang tidak terkendali untuk berbelanja secara berlebihan dan berulang.
1. Take a Pause Before Do Anything
Langkah pertama adalah mengambil jeda sebelum membuat keputusan finansial. Menahan diri sejenak membantu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
“Keputusan untuk membuat bujet dan belanja ini itu haruslah dilakukan dengan prinsip berhati-hati. Sabar, jangan tergesa-gesa setiap mengambil keputusan finansial,” tulisnya.
2. Create a Money DiaryBagi yang merasa boros, metode Kakebo, seni mengelola uang ala Jepang dapat digunakan untuk merefleksikan aktivitas finansial selama sebulan.
Pendekatan ini membuat seseorang lebih mindful terhadap penggunaan penghasilan dan sumber daya. Dia juga menyarankan pembagian rekening Living – Saving – Playing agar arus kas lebih terkontrol.
3. Stop Using Consumption to Feel Better Emotionally
Belanja kerap dijadikan pelarian emosional. Prita mencontohkan beberapa pemicu compulsive shopping seperti patah hati akibat “ghosting”, kesal dengan atasan di kantor, hingga jebakan THR.
Jika hal tersebut sering terjadi, seseorang perlu memahami situasi tidak nyaman yang sedang dihadapi agar tidak melampiaskannya melalui konsumsi berlebihan.
4. Change Your Buying MindsetDia menekankan perbedaan antara buying for value dan buying for price. Membeli hanya karena promo berisiko membuat seseorang fokus pada harga murah, bukan manfaat jangka panjang.
“Lebih baik membeli barang yang berkualitas namun banyak manfaatnya, dibandingkan mungkin murah-murah tapi banyak yang akhirnya bertumpukan di rumah,” tulisnya.
5. Create a Do-able Budget
Bujet sering gagal karena tidak realistis. Jika arus kas masih bermasalah, penyusunan anggaran perlu dilakukan secara bertahap.
Sebagai langkah awal, dapat menggunakan metode komitmen 75% living : 25% saving. Setelah lebih disiplin, bisa naik kelas ke metode Living–Saving–Playing = 50% : 30% : 20%, hingga metode ZAPFIN dengan tujuh pos alokasi pengeluaran.
Prita juga mengingatkan bahwa hidup sederhana merupakan akhlak terpuji dan bukan berarti tidak boleh berbelanja, melainkan mengubah mindset saat menggunakan uang.
“Kamu tidak didefinisikan dari pekerjaan, status pernikahan, banyaknya anak, apalagi banyaknya harta. You are YOU,” tulisnya, sembari mengingatkan agar berhenti berbelanja hanya demi self-healing dan status.
Dengan menerapkan lima langkah tersebut secara konsisten, THR tidak hanya habis untuk euforia sesaat, tetapi dapat menjadi momentum memperkuat kondisi keuangan jangka panjang.




