Ramadan 2026, Barang Apa Saja yang Paling Diburu Konsumen?

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Konsumsi rumah tangga diproyeksi terdongkrak selama momen Ramadan 2026. Namun, kenaikan belanja tahun ini berlangsung lebih terukur dan selektif, dengan Beauty, FMCG, dan Fashion menjadi kategori yang paling diburu.

Riset InMobi mencatat 74% konsumen meningkatkan alokasi dana belanja Ramadan dibanding tahun lalu. Meski daya beli dinilai belum sepenuhnya pulih, Ramadan tetap menjadi momentum belanja utama untuk kebutuhan fungsional.

Data internal SIRCLO menunjukkan lonjakan aktivitas belanja online terjadi dalam dua minggu sebelum puasa. Kategori yang paling banyak dicari didominasi Beauty & Personal Care, Healthcare, serta Fashion. 

Chief Operating Officer SIRCLO, Danang Cahyono, menyebut pola ini mencerminkan perubahan perilaku belanja. Konsumen tidak lagi impulsif, melainkan lebih terukur dalam menentukan prioritas.

“Ramadan bukan hanya tentang lonjakan penjualan, tetapi bagaimana brand memahami dan menjawab kebutuhan konsumen secara tepat,” ujar Danang Cahyono, Sabtu (28/2/2026).

Danang menjelaskan, produk kecantikan dan perawatan tubuh menjadi salah satu primadona. Kebutuhan perawatan diri meningkat seiring persiapan Idulfitri. Promo bundling dan diskon awal Ramadan turut mendorong kenaikan transaksi.

Baca Juga

  • BSI Fest Ramadan di Medan, Edukasi Masyarakat Perencanaan Finansial Melalui Instrumen Emas
  • BI Sumsel Beberkan Potensi Dampak Ramadan & Idulfitri terhadap Ekonomi
  • Lazada Ungkap Perubahan Perilaku Konsumen dalam Berbelanja pada Ramadan Tahun Ini

Kategori healthcare juga mencatat pertumbuhan. Vitamin, suplemen, dan produk kesehatan lain diminati untuk menjaga stamina selama puasa. Tren ini, paparnya, memperlihatkan kesadaran konsumen terhadap aspek kesehatan.

Sementara itu, fesyen tetap menjadi magnet belanja. Pakaian muslim, sepatu, dan aksesori untuk Hari Raya mengalami kenaikan permintaan. Konsumen mulai berbelanja lebih awal untuk menghindari lonjakan harga mendekati Lebaran.

Selain tiga kategori utama tersebut, segmen FMCG menunjukkan peningkatan nilai transaksi. Konsumen cenderung membeli kebutuhan pokok dalam jumlah lebih besar. Strategi ini dilakukan untuk efisiensi pengeluaran selama sebulan penuh.

Meski kategori esensial mencatat kenaikan, sejumlah analis menilai lonjakan ini tidak sepenuhnya mencerminkan penguatan daya beli. Pakar marketing Yuswohady menilai, lonjakan konsumsi Ramadan lebih bersifat musiman ketimbang mencerminkan perbaikan daya beli.

Menurutnya siklus belanja tahunan ini biasanya memang meningkat satu hingga dua minggu sebelum Ramadan, melambat di tengah bulan, lalu kembali naik menjelang Lebaran. Karena itu, promosi paling efektif justru dimulai sebelum Ramadan.

Belanja besar sejak akhir tahun seperti Natal, Tahun Baru, Imlek, dan libur panjang juga telah menguras anggaran rumah tangga. Ruang konsumsi Ramadan pun menjadi lebih sempit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Belanja Ramadan tahun ini cenderung stagnan. Jika bergerak, itu lebih karena realokasi pengeluaran untuk kebutuhan Lebaran yang bersifat kultural, bukan karena daya beli yang menguat," katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Teguhkan Pendidikan Agama, Pemkab Sidrap Serahkan 24 Sertifikat Penghargaan kepada Warga
• 6 jam laluharianfajar
thumb
Ajukan Red Notice, Polda Bali Buru Pelaku Penculikan Warga Ukraina hingga ke Luar Negeri
• 9 menit laludisway.id
thumb
Tenor KPR Subsidi Diperpanjang 30 Tahun, Cicilan Ringan
• 22 jam lalumedcom.id
thumb
Internet Gratis Tersebar di Seluruh Tangsel, Diskominfo Beberkan Titik-titiknya
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
[FULL] UIN Suska Riau: Pelaku Pembacokan Mahasiswi Terancam Didrop Out oleh Kampus!
• 19 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.