TABLOIDBINTANG.COM - Definisi pria “macho” di layar lebar tampaknya mulai bergeser. Jika dulu sosok maskulin identik dengan pahlawan super tak terkalahkan atau karakter dominan penuh kuasa, kini generasi muda justru mengidolakan figur yang lebih tenang, reflektif, dan berani menunjukkan sisi rapuhnya.
Nama Ryan Gosling pun disebut sebagai representasi maskulinitas era baru.
Sebuah studi terbaru dari University of California Los Angeles (UCLA) mengungkap perubahan selera tontonan Generasi Z dan Generasi Alpha.
Survei terhadap 1.500 responden berusia 10 hingga 24 tahun menunjukkan bahwa generasi muda kini lebih menyukai figur pria yang mengedepankan koneksi emosional, empati, serta keberanian untuk meminta bantuan.
Hampir 60 persen responden mengaku ingin melihat lebih banyak sosok ayah yang menikmati peran sebagai orang tua dan pria yang tidak ragu menunjukkan kasih sayang dalam tayangan hiburan.
Ini menjadi sinyal kuat bahwa maskulinitas tak lagi melulu soal dominasi.
Fenomena ini tercermin dalam karakter-karakter yang diperankan Gosling dalam satu dekade terakhir.
Dalam film seperti Drive, Blade Runner 2049, hingga The Gray Man, ia kerap tampil sebagai pria pendiam, penuh kontemplasi, dan menyimpan emosi di balik tatapan kosong.
Karakter semacam ini ramai dijuluki warganet sebagai “Literally Me” atau “He Is Me”, menggambarkan keterhubungan emosional antara tokoh dan penonton muda.
Puncaknya terlihat saat Gosling memerankan Ken dalam film Barbie. Lewat karakter tersebut, konsep patriarki dan harga diri pria dibedah dengan pendekatan satir namun menyentuh.
Generasi muda menilai Ken bukan figur lemah, melainkan pria yang belajar bahwa nilai dirinya tidak bergantung pada validasi eksternal atau dominasi atas perempuan.
Istilah “Kenergy” pun lahir sebagai simbol pria yang percaya diri, suportif, dan tidak merasa terancam oleh kesuksesan wanita di sekitarnya, sebuah antitesis dari maskulinitas toksik yang selama ini dikritik.
Media sosial seperti TikTok dan Instagram ikut mempercepat tren ini. Potongan adegan Gosling kerap dijadikan meme untuk mengekspresikan rasa sepi, gagal, atau overthinking, tanpa harus kehilangan identitas maskulin.
Bagi banyak anak muda, ini menjadi ruang aman untuk mengakui kerentanan.
Para peneliti menilai perubahan ini berpotensi memengaruhi cara Hollywood membangun karakter pria ke depan. Penonton kini tidak hanya mencari sosok penyelamat dunia, tetapi figur yang merefleksikan pergulatan batin mereka sendiri.
Tanpa perlu deklarasi besar, Ryan Gosling perlahan menjelma ikon maskulinitas baru, bukan karena otot atau dominasi, melainkan karena keberanian menampilkan sisi manusiawi yang selama ini tersembunyi di balik stereotip pria sempurna.




