Cahaya Hati: Ikhlas dan Adab Menghargai Sesama dalam Teladan Rasulullah

metrotvnews.com
8 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Keikhlasan dalam berbuat baik dan adab dalam menghormati orang lain menjadi kunci kemuliaan seorang hamba. Melalui kisah seorang budak di Madinah dan teladan Abu Ayyub Al Anshari, Ustaz Das’ad Latif mengingatkan bahwa empati dan penghormatan terhadap sesama adalah bagian dari ajaran Rasulullah SAW.

Hal tersebut disampaikan Ustaz Das'ad Latif dalam program Cahaya Hati di Metro TV pada 22-23 Februari 2026.

Pada kisah pertama, ia menceritakan peristiwa di Madinah tentang Abdullah bin Jafar yang suatu hari berjalan ke kebun kurma dan melihat seorang budak penjaga kebun sedang duduk bersama seekor anjing yang tampak kelaparan. Budak tersebut memiliki tiga keping roti yang awalnya hendak ia makan. Namun satu per satu roti itu diberikan kepada anjing tersebut hingga habis.

Ketika ditanya, budak itu mengaku hanya memiliki tiga keping roti dan berniat memakannya siang itu. Namun karena melihat anjing yang diyakini datang dari perjalanan jauh dan dalam keadaan lapar, ia memberikan seluruh rotinya.

Saat ditanya apa yang akan ia makan, budak itu menjawab, "Ya, saya tidak apa-apa hari ini. Saya ikhlas, kata kuncinya. Saya ikhlas, lapar karena Allah hari ini. Untuk menolong sesama mahluk Allah."

Melihat keikhlasan tersebut, Abdullah bin Jafar mendatangi pemilik kebun, membeli kebun itu, lalu kembali menemui sang budak. Kebun tersebut diberikan kepadanya dan ia juga dimerdekakan karena kemuliaan akhlaknya.

Ustaz Das’ad Latif menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang empati dan kepedulian sosial.

"Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Tapi juga empati dan kepedulian sosial," katanya.
 

Baca Juga :

Cahaya Hati: Ketika Doa, Amal, dan Nafkah Menjadi Ujian Keikhlasan

Keikhlasan budak tersebut dalam membantu makhluk Allah dibalas dengan kemerdekaan dan hadiah yang tidak disangka-sangka.

Pada kisah berikutnya, ia mengangkat teladan adab menghargai orang lain melalui peristiwa hijrah Rasulullah SAW ke Madinah. Saat itu, Rasulullah disambut para sahabat, salah satunya Abu Ayyub Al Anshari yang menawarkan rumahnya sebagai tempat tinggal. Rumah tersebut memiliki dua lantai.

Abu Ayyub mempersilakan Rasulullah tinggal di lantai atas, namun Nabi memilih tinggal di lantai bawah. Meski merasa tidak enak berada di atas sementara Rasulullah di bawah, Abu Ayyub tetap mengikuti permintaan tersebut. Pada malam hari, ia sangat berhati-hati agar tidak mengganggu Rasulullah. Bahkan ketika air dari bejana tanpa sengaja tumpah, ia segera mengelapnya agar tidak menetes ke bawah.

Keesokan harinya, Abu Ayyub menyampaikan kegelisahannya karena takut mengganggu Rasulullah. Nabi menjelaskan alasannya memilih lantai bawah, "Saya memudahkan para sahabat yang ingin menjumpai saya." Mendengar kekhawatiran Abu Ayyub, Rasulullah kemudian bersedia bertukar tempat dan tinggal di lantai atas.

Dari kisah tersebut, Ustaz Das’ad Latif menekankan bahwa Abu Ayyub sangat menghormati privasi dan kehidupan pribadi Rasulullah Muhammad SAW hingga begitu takut mengganggunya. Ia mengajak umat untuk mencintai Rasulullah dengan cara mengamalkan sunnah-sunnahnya, termasuk menghidupkan amalan di akhir Ramadan seperti iktikaf di masjid.

"Mudah-mudahan kita juga mampu mencintai Rasulullah seperti Abu Ayyub Al-Anshari. Bagaimana caranya? Dengan mengamalkan sunah-sunahnya," tuturnya.


                                                    


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BGN Tegaskan tak Punya Program MBG TV
• 3 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Sinaran Kalbu - Menata Rasa Tanpa Drama
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Bertemu Mahindra Scorpio dari India, Mobil Operasional Kopdes Merah Putih
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Pansus DPRD Kota Bandung Percepat Pembahasan Ranperda Pencegahan Perilaku Seks Berisiko
• 21 jam laluliputan6.com
thumb
Kelompok Bersenjata di Irak Siap Bantu Iran Lawan Amerika Serikat
• 21 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.