Di Balik Ambisi Menang Persebaya! Rekor Kelam Bernardo Tavares Saat di PSM Tak Pernah Menang Lawan Pelatih Persib Bojan Hodak

harianfajar
4 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, SURABAYA — Dalam sepak bola, pertandingan besar jarang hanya soal taktik dan kualitas pemain. Ada lapisan lain yang sering tak terlihat: memori, statistik masa lalu, dan rekor pribadi yang diam-diam membentuk tekanan psikologis di balik setiap keputusan.

Menjelang duel panas melawan Persib Bandung di Stadion Gelora Bung Tomo, Senin, 2 Maret 2026, Persebaya Surabaya tidak hanya membawa ambisi menjaga marwah kandang. Di balik laga ini, terselip cerita yang jauh lebih personal bagi sang pelatih, Bernardo Tavares.

Ia datang dengan satu beban yang belum pernah benar-benar selesai: rekor pertemuan melawan Bojan Hodak.

Duel yang Lebih dari Sekadar Tiga Poin

Bagi publik Surabaya, pertandingan ini adalah duel klasik dua klub besar dengan basis suporter fanatik. Gelora Bung Tomo hampir selalu berubah menjadi ruang emosional ketika Persebaya bermain di kandang sendiri.

Namun bagi Tavares, laga ini memiliki dimensi tambahan.

Dalam lima pertemuan sebelumnya menghadapi tim yang ditangani Hodak, ia belum pernah meraih kemenangan. Catatan itu terdiri dari tiga hasil imbang dan dua kekalahan—angka yang mungkin terlihat biasa di atas kertas, tetapi cukup untuk menciptakan narasi psikologis menjelang pertandingan.

Saat masih menangani PSM Makassar, Tavares dua kali bermain imbang melawan Persib pada musim Super League 2023/2024 dan 2024/2025. Kekalahan juga pernah datang di ajang Piala Presiden 2024 dengan skor 0-2.

Cerita serupa bahkan terjadi di level Asia. Ketika menghadapi Kuala Lumpur City FC yang saat itu diasuh Hodak di AFC Cup 2022, tim Tavares hanya meraih satu hasil imbang sebelum kalah telak 2-5.

Rangkaian hasil itu membentuk pola yang sulit diabaikan: Hodak kerap menemukan cara meredam tim asuhan Tavares.

Beban Statistik dan Realitas Baru

Meski demikian, konteks pertandingan kali ini berbeda. Tavares kini memimpin Persebaya—tim dengan karakter, atmosfer, dan energi suporter yang berbeda dibanding masa kepelatihannya di Makassar.

Dukungan Bonek di Gelora Bung Tomo sering kali menjadi faktor yang tidak tercatat dalam statistik, tetapi nyata terasa di lapangan. Intensitas tekanan terhadap tim tamu dapat mengubah ritme permainan sejak menit pertama.

Namun atmosfer saja tidak cukup.

Evaluasi terbesar Persebaya justru datang dari performa terakhir mereka sendiri. Saat menghadapi PSM Makassar, Green Force menciptakan 14 peluang dan melepaskan 20 tembakan, tetapi hanya menghasilkan satu gol.

Angka itu mempertegas persoalan lama: produktif menyerang, tetapi belum cukup klinis menyelesaikan peluang.

Masalah tersebut terasa semakin berat karena Persib datang sebagai tim dengan pertahanan paling solid di liga. Hingga pekan ke-23, Maung Bandung baru kebobolan 11 gol sepanjang musim—sebuah statistik yang membuat setiap peluang menjadi sangat berharga.

Melawan tim dengan organisasi pertahanan seperti ini, kesempatan kedua hampir tidak pernah ada.

Fokus pada Finishing

Tavares memahami bahwa kemenangan atas Persib tidak hanya bergantung pada strategi besar, melainkan detail kecil di dalam kotak penalti.

“Mengenai penyelesaian akhir, kami sudah mencobanya dalam minggu terakhir,” ujarnya.

Latihan finishing menjadi menu wajib. Namun persiapan itu juga sempat terganggu cedera yang kembali dialami Malik Risaldi saat sesi latihan menembak—situasi yang menambah kompleksitas persiapan tim.

Menurut Tavares, persoalan akurasi bukan hanya tanggung jawab satu pemain.

“Bukan hanya Bruno Moreira, tetapi pemain lain juga kurang akurat,” katanya.

Pernyataan itu menunjukkan pendekatan kolektif: mencetak gol adalah tanggung jawab seluruh tim, bukan semata striker.

Ia tetap melihat sisi positif dari performa timnya.

“Ingat, hal tersulit di sepak bola adalah menciptakan peluang,” ujarnya menegaskan.

Persebaya, dalam pandangannya, sudah berada di jalur yang benar. Tinggal meningkatkan fokus dan ketenangan saat peluang datang.

Antara Kutukan dan Kesempatan

Sepak bola selalu memberi ruang bagi narasi baru. Rekor buruk bisa runtuh dalam satu pertandingan yang tepat. Sebaliknya, statistik masa lalu bisa terus menghantui jika tidak pernah dipatahkan.

Pertandingan di Gelora Bung Tomo menjadi kesempatan langka bagi Tavares untuk menulis ulang ceritanya sendiri.

Jika menang, ia bukan hanya menjaga tren kandang Persebaya, tetapi juga menghapus bayang-bayang personal yang selama ini mengikuti setiap pertemuannya dengan Hodak.

Bagi suporter Persebaya, laga ini lebih dari sekadar angka klasemen. Mereka ingin melihat determinasi, keberanian mengambil risiko, dan efektivitas yang selama ini belum sepenuhnya hadir.

Pada akhirnya, statistik hanyalah cerita masa lalu.

Jawaban sebenarnya selalu muncul di lapangan—dalam 90 menit yang sering kali mampu mengubah reputasi, membalik sejarah, dan menciptakan narasi baru yang sebelumnya tak terbayangkan.

Dan Senin malam nanti, di tengah gemuruh Gelora Bung Tomo, Bernardo Tavares akan mencoba melakukan hal paling sulit dalam sepak bola: mengalahkan bukan hanya lawan di depan mata, tetapi juga rekornya sendiri.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Program MBG Perkuat Kualitas SDM dan Dorong Ekonomi Lokal
• 8 jam lalueranasional.com
thumb
Asus dan Kojima Productions Rilis Tablet Gaming 2-in-1 Premium Lewat ROG Flow Z13-KJP
• 15 jam lalumedcom.id
thumb
Polisi Siapkan Kantong Parkir Perayaan Imlek Nasional di Jakpus Hari Ini, Berikut Lokasinya
• 4 jam laluokezone.com
thumb
PSIM Putus Tren Negatif, Van Gastel Minta Skuadnya Lebih Efisien
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Link Live Streaming Leeds United vs Manchester City Dini Hari Nanti, Kick-off Pukul 00.30 WIB
• 5 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.