Jakarta: Nikmat disyukuri, musibah disabari. Prinsip itulah yang ditekankan Ustaz Das'ad Latif dalam program Gaspoll Sahur yang disiarkan dari Masjid Hj. Sitti Mang, Makassar, dan telah tayang di Metro TV, pada 22 Februari 2026.
Pada kesempatan itu, Ustaz Das'ad Latif mengingatkan bahwa setiap pemberian Allah, baik kesenangan maupun cobaan, memiliki makna dan tujuan.
Dalam sesi tanya jawab, seorang jamaah menanyakan apakah mencari tambahan harta ketika sudah merasa cukup termasuk tidak bersyukur. Menanggapi hal itu, Ustaz Das'ad Latif menegaskan bahwa mencari harta tidak dilarang. "Boleh," ujarnya. Namun ia mengingatkan agar harta tidak hanya dikumpulkan tanpa berbagi dan tanpa menunaikan zakat.
Ia kemudian mengisahkan Sa'labah, seorang sahabat yang awalnya miskin dan rajin beribadah. Setelah memperoleh kekayaan, ia menjadi lalai dan menolak membayar zakat. Pada akhirnya, ia bangkrut dan meninggal dalam keadaan miskin. Kisah tersebut menjadi pelajaran bahwa tidak semua orang mampu memikul ujian berupa kekayaan.
"Allah memberikan kita sesuai dengan kadar kemampuan yang kita pikul," katanya.
Baca Juga :
Syukur Itu Nikmat: Ustaz Das'ad Latif Tegaskan Iman sebagai Nikmat TertinggiPertanyaan lain muncul mengenai cara bersyukur ketika mendapat cobaan. Ia menjelaskan bahwa nikmat disyukuri, sedangkan musibah disikapi dengan sabar. Ketika tertimpa musibah, seorang mukmin dianjurkan mengucapkan "inna lillahi wa inna ilaihi raji’un."
Ustaz Das'ad Latif membagi musibah ke dalam tiga kategori. Pertama, musibah sebagai ujian untuk menaikkan derajat orang beriman. Kedua, musibah sebagai teguran bagi mereka yang masih melakukan kesalahan. Ketiga, musibah sebagai hukuman bagi orang yang zalim dan tidak beriman.
Menurutnya, seluruh perkara bagi orang beriman adalah baik. Ketika diberi nikmat lalu bersyukur, ia mendapat pahala. Ketika diberi musibah lalu bersabar, ia juga mendapat pahala. Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang kaya namun kufur, atau miskin namun tidak sabar.
Melalui tausiah tersebut, ia mengingatkan bahwa esensi syukur bukan sekadar ucapan, tetapi tercermin dalam ibadah, sedekah, dan kesabaran. Ramadan menjadi momentum untuk memperbaiki sikap dalam menerima setiap ketetapan Allah, baik berupa nikmat maupun cobaan.




