Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei telah meninggal di usia 86 tahun dalam serangan yang sedang berlangsung ini. Namun, pihak Iran membantah.
Mengutip Bloomberg, Minggu (1/3/2026), Trump menyatakan Khamenei, yang menjadi orang nomor satu di Iran selama lebih dari tiga dekade, tewas pada Sabtu usai AS dan Israel melancarkan serangan udara di Teheran.
"Ini bukan hanya keadilan bagi rakyat Iran, tetapi bagi seluruh rakyat Amerika yang hebat, dan orang-orang dari banyak negara di seluruh dunia yang telah dibunuh atau dimutilasi oleh Khamenei dan kelompok preman haus darah," tulis Trump dalam sebuah unggahan media sosial.
Namun, pejabat Iran sejauh ini belum mengonfirmasi kabar kematiannya.
Dengan meninggalnya Khamenei, sebuah babak sejarah modern Iran yang sangat berpengaruh kini berakhir dengan ketidakpastian mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya atau siapa yang akan menggantikannya.
Jika media pemerintah Iran mengumumkan kematiannya, kemungkinan besar hal itu akan diikuti oleh masa berkabung nasional secara resmi.
Baca Juga
- Bikin AS Gerah, Ternyata Segini Cadangan Nuklir yang Dimiliki Iran
- Serangan Israel ke Iran Hantam Dua Sekolah, Puluhan Orang Tewas
- Menteri Pertahanan Iran dan Komandan Garda Revolusi Dikabarkan Tewas dalam Israel
Sementara itu, berdasarkan Aljazeera, Minggu (1/3/2026), Iran membantah klaim pembunuhan tersebut. Adapun, media semi-pemerintah menyatakan bahwa Khamenei tetap teguh dalam memimpin di lapangan.
Sumber di Teheran secara langsung membantah klaim yang dilontarkan oleh Trump mengenai dugaan kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran menyatakan dalam sebuah wawancara bahwa, sejauh pengetahuannya, Pemimpin Tertinggi, Presiden Iran, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, serta Ketua Parlemen, semuanya dalam keadaan hidup.
Selain itu, Kepala Hubungan Masyarakat dari Kantor Pemimpin Tertinggi mengunggah pesan di media sosial yang menyebutkan bahwa laporan-laporan tersebut adalah bagian dari "perang psikologis" yang dilancarkan oleh musuh-musuh Iran.
Kantor berita yang berafiliasi dengan pemerintah juga membantah laporan tersebut, dengan menegaskan bahwa Ayatollah Khamenei tetap teguh dan memegang kendali penuh.
Lebih lanjut, setidaknya dua anggota parlemen telah secara terbuka menolak klaim tersebut. Secara keseluruhan, pernyataan-pernyataan ini sangat bertolak belakang dengan apa yang kami dengar dari Washington.




