Wangi rempah-rempah menyeruak dari dapur di pelataran Masjid Raya Al-Mashun, Medan, Sumatera Utara, Selasa (24/2/2026). Juru masak sibuk mengaduk bubur sup yang dimasak di dalam kancah tembaga di atas tungku kayu bakar. Mereka menyiapkan 1.500 porsi bubur sup khas Melayu yang menjadi simbol tradisi berbagi berusia 50 tahun.
Para juru masak bolak-balik mengelap keringat di dalam dapur yang panas. Mereka sudah bekerja sejak pagi yang dimulai dengan menyiapkan bahan-bahan seperti beras, daging sapi, kentang, wortel, serta berbagai jenis bumbu dan rempah.
Saat Zuhur tiba, semua bahan sudah siap untuk dimasak. Mereka menyalakan api di tiga tungku besar. Dua tungku disiapkan untuk memasak bubur dan satu lagi untuk memasak air untuk membuat teh manis.
Bubur sup dimasak di atas tungku api selama tiga jam. Azan Ashar menjadi pertanda bubur akan segera matang. Sore itu, suasana Ramadhan di Masjid Raya Medan penuh khidmat. Kumandang azan yang berpadu dengan wangi rempah aromatik membangkitkan kenangan dan ketenangan batin.
Suasana itu yang membuat Murni (69) merindukan Ramadhan di Masjid Raya Medan. ”Saya sudah lima tahun tidak tinggal di Medan karena ikut anak ke Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Setiap Ramadhan, saya selalu merindukan suasana berbuka puasa dengan bubur sup,” kata Murni.
Sedari kecil, Murni tidak pernah absen menyantap kehangatan semangkuk bubur sup untuk berbuka puasa. Sebelum bubur sup, kenang Murni, puluhan tahun sebelumnya ada juga menu bubur pedas dengan rasa yang lebih kompleks dari resep rempah-rempah khas Melayu yang kaya.
”Dulu kami sampai berebut dan harus menunggu orang lain selesai makan agar bisa bergantian memakai piring,” kata Murni.
Selama lima tahun terakhir, Murni menjalani Ramadhan dan merayakan Lebaran di Tanjung Pinang. Namun, hatinya tetap tertambat pada bubur sup Masjid Raya Medan. Sehari sebelumnya, dia sudah mengantre untuk dapat bubur sup, tetapi tidak kebagian.
Kali ini, Murni datang lebih cepat. Hatinya tenang ketika rantang buburnya masuk antrean di meja pertama di dekat dapur. Rasa rindunya pada bubur sup akhirnya terobati.
Selain menjadi pengobat rindu, bubur sup juga membantu mereka yang kekurangan. Nur Cahya (59) membawa bubur sup untuk berbuka puasa bersama anak dan cucunya. ”Kalau bukan karena bubur sup, kami mungkin enggak bisa berbuka puasa dengan bubur dan daging sapi,” kata Nur.
Hampir setiap hari sepanjang Ramadhan, Nur datang ke Masjid Raya Medan untuk mengambil menu berbuka puasa. Nur bertutur, ekonomi keluarganya sangat susah dalam beberapa tahun terakhir.
”Saya sebelumnya menjual rujak di depan rumah sakit. Tapi, rumah sakitnya sudah tutup. Saya enggak jualan lagi karena tidak ada lagi pembeli,” kata Nur.
Anak Nur juga mengalami hal yang sama. Dia sudah beberapa tahun bekerja di sebuah restoran cepat saji untuk menghidupi istri dan tiga anaknya. Namun, tahun lalu, dia mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat pengurangan karyawan besar-besaran.
”Beberapa tahun ini, hidup terasa susah sekali. Anak saya sekarang kerja mocok-mocok. Kadang bantu kerja di bengkel las, kadang jadi tukang bangunan. Dia cari pekerjaan tetap, tetapi enggak dapat-dapat. Semoga ekonomi kita bisa baik lagi,” tutur Nur.
Kehangatan bubur sup mengobati hati Nur sore itu. Setelah mendapat bubur di dalam rantang, dia pulang ke rumah untuk berbuka puasa bersama keluarga.
Orang-orang pun semakin ramai menjelang berbuka puasa. Bubur sup dibagikan ke warga dalam dua tahap. Pertama, sekitar 1.000 porsi bubur dibagikan setelah Ashar bagi warga yang akan berbuka puasa bersama keluarga di rumah. Bubur dibagi dalam wadah yang dibawa warga dari rumah.
Sekitar 500 porsi berikutnya dibagikan untuk warga yang berbuka puasa di masjid. Pengurus masjid menyediakan kursi, meja, dan tenda untuk berbuka puasa di pelataran masjid. Namun, setiap hari pengunjung meluber sehingga sebagian warga duduk lesehan di pelataran masjid.
Toh, warga menikmati suasana lesehan di lantai yang bersih. Menjelang Maghrib, pengurus masjid sudah membagikan semua bubur kepada warga. Mereka yang berbuka puasa di masjid mendapat bonus sayur urap khas Melayu, yakni ayang, segelas teh manis hangat, dan suasana batin yang menenangkan.
Di dalam semangkuk bubur sup tersimpan tradisi berbagi kepada sesama yang sudah berlangsung selama setengah abad.
Saat azan Maghrib berkumandang dari masjid berusia 120 tahun itu, suasana riuh seketika berganti hening. Tangan-tangan terkatup, doa dipanjatkan dengan takzim. Puasa dibuka dengan teh manis hangat dan bubur sup yang lembut. Cita rasa smoky, aroma berbagai jenis rempah, dan potongan daging sapi yang lembut menciptakan rasa melegakan.
Pengurus Masjid Raya Al-Mashun, Muhammad Hamdan, mengatakan, di dalam semangkuk bubur sup tersimpan tradisi berbagi berusia lebih dari 50 tahun. ”Tradisi ini berawal dari sedekah pribadi Sultan Deli. Seiring berjalannya waktu, bubur sup menjadi tradisi berbagi dari sedekah umat,” kata Hamdan.
Hamdan menuturkan, Sultan Deli dulu memasak bubur di Istana Maimun dan membagikannya kepada jemaah yang berbuka puasa di masjid. Awalnya, mereka memasak bubur pedas khas Melayu. Bubur jenis ini menggunakan lebih banyak jenis rempah.
Karena ada beberapa jenis rempah yang sudah sulit ditemukan, menu diganti menjadi bubur sup yang lebih simpel, tetapi tetap nikmat. Terlebih, jumlah porsi yang dimasak juga terus bertambah dari puluhan menjadi 1.500 porsi.
Setiap hari, pengurus masjid memasak bahan 30 kilogram beras, 10 kg daging sapi, 10 kg wortel, 10 kg kentang, ditambah bumbu, dan berbagai jenis rempah. Bahan-bahan itu dipasok oleh umat yang bersedekah.
Beberapa orang sudah turun-temurun bersedekah untuk membuat bubur sup. Ada yang mengantar beras, daging, sayur, atau memberikan uang untuk dibelanjakan pengurus. Bagi mereka, bubur sup adalah wadah untuk saling berbagi. Di dalam semangkuk bubur sup tersimpan tradisi berbagi kepada sesama yang sudah berlangsung selama setengah abad.





