Pendekatan Baru dan Peran Guru untuk Mengatasi Kesulitan Belajar Matematika 

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Pelajaran matematika seringkali jadi momok bagi siswa. Riset terbaru mengungkapkan kesulitan belajar Matematika yang dihadapi banyak anak lebih dari sekadar masalah memahami angka, tapi juga kemampuan anak bangkit seusai melakukan kesalahan saat memecahkan soal Matematika.

Para peneliti di Universitas Stanford, Amerika Serikat, yang dipimpin Hyesang Chang dari Departemen Psikiatri dan Ilmu Perilaku, berupaya lebih memahami mengapa beberapa anak menganggap Matematika jauh lebih sulit daripada teman sekelas mereka.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal JNeurosci, sebuah jurnal ilmu saraf yang ditinjau oleh rekan sejawat yang berfokus pada bagaimana otak mendukung pemikiran dan perilaku, pada 9 September 2026.

Peneliti mendapati, kesulitan dalam Matematika mungkin lebih dari sekadar angka. Anak-anak yang mengalami kesulitan dalam Matematika cenderung kurang mampu menyesuaikan pemikiran mereka setelah membuat kesalahan selama tugas perbandingan angka.

Baca JugaPendidikan Matematika Perlu Pendekatan Baru

Selain itu, pencitraan otak menunjukkan aktivitas yang lebih lemah di wilayah yang membantu memantau kesalahan dan memandu perubahan perilaku. Pola otak ini dapat memprediksi anak mana yang lebih mungkin mengalami kesulitan.

“Banyak orang berasumsi kesulitan matematika hanyalah soal tidak memahami angka. Namun, penelitian ini meneliti lebih dalam tentang bagaimana anak-anak berpikir, belajar dari kesalahan, dan menyesuaikan strategi mereka dari waktu ke waktu,” jelas Chang.

Perbandingan angka

Dalam penelitian tim di Universitas Stanford, anak-anak diminta untuk menyelesaikan serangkaian tugas perbandingan sederhana. Pada setiap percobaan, mereka harus memutuskan mana dari dua kuantitas yang lebih besar.

Terkadang kuantitas tersebut ditampilkan sebagai angka tertulis seperti 4 dan 7. Di lain waktu, kuantitas tersebut ditampilkan sebagai kelompok titik, yang mengharuskan anak untuk dengan cepat memperkirakan kelompok mana yang berisi lebih banyak item.

Kami meneliti seberapa konsisten anak-anak berkinerja dan apakah mereka menyesuaikan pendekatan mereka setelah melakukan kesalahan.

Dengan berganti-ganti antara simbol angka dan gugusan titik, para peneliti dapat menguji pemahaman simbolik angka dan pengenalan kuantitas yang lebih mendasar. Alih-alih hanya berfokus pada apakah jawaban benar atau salah, tim mengembangkan model matematika untuk melacak bagaimana kinerja setiap anak berubah di banyak percobaan.

“Kami meneliti seberapa konsisten anak-anak berkinerja dan apakah mereka menyesuaikan pendekatan mereka setelah melakukan kesalahan,” kata Chang.

Percy K Mistry, peneliti lainnya, mengemukakan, hasill penelitian menunjukkan pola yang jelas. Anak-anak yang kesulitan dalam Matematika kurang mengubah strategi mereka setelah salah mengerjakan soal. Bahkan ketika mereka melakukan kesalahan berbeda, mereka tidak memperbarui pemikiran mereka sebagai respons.

“Kesulitan menyesuaikan perilaku dari waktu ke waktu ini merupakan perbedaan utama antara anak-anak dengan kemampuan Matematika yang tipikal dan anak-anak yang mengalami kesulitan belajar Matematika,” kata Mistry menambahkan.

Untuk lebih memahami apa yang terjadi di otak, para peneliti menggunakan pencitraan otak. Teknik ini mengukur aktivitas di berbagai wilayah otak saat seseorang melakukan tugas.

Hasil pemindaian mengungkapkan anak-anak yang lebih kesulitan dalam Matematika menunjukkan aktivitas lebih lemah di area yang terlibat dalam memantau kinerja dan menyesuaikan perilaku.

Wilayah otak ini sering dikaitkan dengan kontrol kognitif, yang mengacu pada kemampuan untuk mengevaluasi kesalahan, mengubah strategi, dan beradaptasi dengan informasi baru.

Hasil penting yang didapat yakni  aktivitas lebih rendah di area ini bisa memprediksi apakah seorang anak memiliki kemampuan Matematika yang tipikal atau atipikal. “Ini menunjukkan perbedaan fungsi otak membantu menjelaskan mengapa beberapa anak konsisten mengalami kesulitan,” ucap Mistry.

Menurut Chang, temuan timnya ini menunjukkan bahwa kesulitan Matematika mungkin tidak hanya berasal dari masalah pemahaman angka. Sebaliknya, beberapa anak mungkin kesulitan merevisi proses berpikir mereka saat mengerjakan soal.

Baca JugaPrabowo Ingin Anak Indonesia Mahir Matematika, Ini Alasannya

Kemampuan untuk mengenali kesalahan dan mencoba pendekatan baru, kata Chang, sangat penting tidak hanya dalam mata pelajaran Matematika, tetapi juga dalam banyak jenis pembelajaran.

"Gangguan ini mungkin tidak selalu spesifik pada keterampilan numerik, dan dapat berlaku untuk kemampuan kognitif yang lebih luas yang melibatkan pemantauan kinerja tugas dan adaptasi perilaku saat anak-anak belajar," ujarnya.

Para peneliti berencana menguji model mereka pada kelompok anak yang lebih besar dan lebih beragam, termasuk anak-anak dengan jenis kesulitan belajar lainnya.

“Kami berharap dapat menentukan apakah tantangan dalam mengadaptasi strategi memainkan peran yang lebih luas dalam kesulitan akademis di luar matematika,” kata Chang.

Peran guru

Sementara riset oleh Portland State University yang dipublikasikan di jurnal Sociology of Education tahun 2023,  menunjukkan guru bisa melawan bias budaya dan membantu siswa mengembangkan "identitas Matematika" positif. Contohnya, perasaan melihat diri mereka sebagai 'orang mahir Matematika' atau orang yang berhasil dalam Matematika.

Jika siswa menganggap guru Matematika mereka lebih adil, memperlakukan semua orang di kelas secara adil dan menyediakan sumber daya jelas untuk keberhasilan, para siswa akan memiliki identitas Matematika lebih kuat.

Baca JugaBerdamai dengan Matematika

Dara Shifrer, profesor sosiologi di Portland State University dan mantan guru Matematika sekolah menengah, memaparkan, tim peneliti menggunakan data dari survei terhadap hampir 30.000 siswa kelas sembilan dari seluruh AS yang dikumpulkan pada 2009 oleh Pusat Statistik Pendidikan Nasional.

Survei ini menilai seberapa adil guru Matematika dari pandangan siswa mereka. Caranya, survei itu meminta siswa menilai persetujuan mereka terhadap pernyataan seperti, "guru Matematika saya memperlakukan tiap siswa dengan adil" dan "guru Matematika saya berpikir semua siswa dapat berhasil."

Hasil penelitian menunjukkan siswa yang menganggap guru matematika mereka lebih adil memiliki identitas matematika yang lebih kuat dibandingkan dengan siswa yang menganggap guru matematika mereka kurang adil.

"Jika guru mengajar dengan cara yang dianggap adil dan efektif oleh anak-anak, maka hal itu benar-benar membuat perbedaan besar dalam bagaimana siswa merasakan matematika," kata Shifrer.

Lebih lanjut Shifrer mengatakan, mempelajari faktor-faktor yang memengaruhi identitas matematika siswa sangat penting. Sebab, sikap siswa terhadap mata pelajaran tersebut memengaruhi mata kuliah yang mereka ambil serta pilihan karir masa depan mereka.

Studi ini menunjukkan bahwa guru mungkin memiliki peran yang lebih besar dalam membantu siswa mengembangkan identitas matematika yang positif daripada yang sebelumnya diakui.

Penguatan peran guru dalam meningkatkan pendidikan Matematika di Indonesia, salah satunya dilakukan Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika (Gernas Tastaka).

Hal ini disebabkan Indonesia memiliki banyak pekerjaan rumah  dalam menyiapkan generasi penerus bangsa. Berbagai hasil penilaian internasional seperti PISA dan nasional seperti Tes Kemampuan Akademik menunjukkan kemampuan Matematika siswa Indonesia masih rendah.

Pada tahun 2026, sebanyak 80 guru sekolah dasar di wilayah Kabupaten Belitung Timur, kepulauan Bangka Belitung, yang didukung PT Timah, Tbk mengikuti Pelatihan Gernas Tastaka Fase 2 sejak Januari – Juli 2026.

Pada Fase 1 para peserta mempelajari tiga modul dalam tiga hari, yaitu prinsip-prinsip dasar belajar Matematika, bilangan, dan Geometeri. Pada Fase 2, para guru akan melanjutkan pembahasan tentang pengukuran, statistika dan probabilitas, serta asesmen dalam pembelajaran Matematika.

Baca JugaGuru yang Penuh Cinta Membuat Anak Senang Matematika

Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Rachmadi Widdiharto, mengatakan pelatihan matematika bagi guru dalam rangka mendukung suksesnya Gerakan Nasional Numerasi (GNN).  

“ Numerasi, tidak sekadar keterampilan berhitung, tapi juga kemampuan berpikir logis analitis. Karena itu, para guru perlu menyadari dan menyadarkan para murid bahwa matematika adalah bagian dari hidup sehari-hari,” kata Rachmadi.

Rachmadi berharap para guru yang telah mengikuti pelatihan dapat turut serta membangun kecintaan murid pada matematika. “Sejak bangun tidur, sebetulnya sudah terlibat dengan numerasi, seperti menghitung lama waktu, jarak pergi ke sekolah, dan sebagainya,” tuturnya.

 

 

 

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Warga Mulai Datangi Kedubes Iran di Jakarta, Sampaikan Bela Sungkawa
• 58 menit lalukumparan.com
thumb
Sumur Bor dan Sanitasi Penyintas Bencana Sumatera Perlu Diperbanyak
• 2 jam laludetik.com
thumb
BRI (BBRI) Salurkan Pembiayaan Awal Gentengisasi di Jatiwangi
• 3 jam laluidxchannel.com
thumb
6 Rekomendasi Speaker Bluetooth Polytron Terbaik
• 22 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Daftar Mudik Lebaran Gratis 2026 yang Masih Dibuka
• 8 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.