Situ Pengendali Banjir di Jabodetabek Menyusut, dari Ribuan Kini Tersisa 185

kompas.com
7 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com – Jumlah situ atau danau alami yang berfungsi sebagai pengendali banjir di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan sekitarnya (Jabodetabek) terus menyusut.

Kondisi ini dinilai turut memperburuk risiko banjir yang belakangan kerap terjadi di wilayah tersebut.

Data Water Resources Data Center (WRDC) mencatat, dari ribuan situ yang sebelumnya terdata, kini hanya tersisa 187 situ yang dikelola Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung Cisadane.

Baca juga: Jejak Situ yang Hilang: Mengapa Banjir Jabodetabek Kian Tak Terkendali?

"Di mana 18 situ sudah beralih fungsi, sehingga tersisa 169 situ," ungkap Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung Cisadane David Partonggo Oloan Marpaung dalam keterangan tertulisnya yang diterima Kompas.com, Minggu (1/2/2026).

Secara khusus di wilayah DKI Jakarta, jumlah situ yang masih tersisa hanya 16 titik. Secara keseluruhan, jumlah situ yang masih berada dalam pengawasan BBWS Ciliwung Cisadane saat ini berkisar 185 situ, setelah memperhitungkan situ yang telah beralih fungsi.

David menjelaskan, penyusutan jumlah situ di Jabodetabek dipicu oleh maraknya alih fungsi lahan serta perubahan tata ruang.

Banyak situ yang telah diuruk dan diubah menjadi lahan darat, kemudian dibangun kawasan permukiman. Akibatnya, luas tampungan air terus berkurang secara signifikan.

Salah satu contohnya adalah Situ Kuru di Tangerang Selatan. Luas situ tersebut menyusut drastis dari sekitar 5 hektare menjadi hanya 0,54 hektare. Penyusutan ini terjadi karena sebagian area situ telah dimanfaatkan untuk pembangunan perumahan.

Beralihnya fungsi situ menjadi kawasan hunian dinilai berdampak langsung terhadap meningkatnya potensi banjir di Jabodetabek dalam beberapa bulan terakhir.

"Betul, salah satu penyebab banjir adalah adanya alih fungsi lahan," jelas David.

Baca juga: Situ Dukuh di Bekasi Kian Tersisih: Dulu Paru-paru Terbesar, Air Kini Nyaris Hilang

Menurut dia, alih fungsi lahan membuat situ tidak lagi optimal menjalankan perannya sebagai kolam retensi alami. Ketika hujan deras turun, air hujan yang seharusnya tertampung sementara di situ langsung mengalir ke sungai-sungai besar.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Kondisi tersebut menyebabkan debit sungai meningkat secara cepat dan memicu banjir di wilayah hilir.

Dengan berkurangnya daya tampung air di situ-situ alami, sistem pengendalian banjir berbasis ekosistem di Jabodetabek pun semakin melemah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kementerian PU Targetkan Jalan Berlubang Wilayah Pantura Beres H-10 Lebaran 2026
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Satgas PKH Segel Tambang Nikel Ilegal PT Mineral Trobos
• 19 jam laluviva.co.id
thumb
Tarif Listrik Periode Maret 2026 Tetap Gak Berubah
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Ruang Terbuka di Perumahan Jadi Favorit Warga Habiskan Akhir Pekan
• 18 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
1 Maret 2026, SIM Keliling Tetap Layani Perpanjangan SIM di Hari Libur
• 10 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.