Teheran: Ribuan warga Iran turun ke jalan pada Jumat malam, 28 Februari 2026, merayakan kabar tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan terkoordinasi Amerika Serikat dan Israel yang berlangsung sepanjang hari dan berlanjut hingga hari berikutnya.
Kematian Khamenei, setelah hampir 40 tahun memegang kendali tertinggi atas seluruh keputusan negara, menandai momen bersejarah bagi sistem teokrasi Iran.
Kerumunan besar terlihat memadati jalan-jalan di Teheran dan sejumlah kota lain hanya beberapa saat setelah kabar tersebut menyebar.
Di tengah situasi itu, sambungan telepon rumah dan layanan seluler dilaporkan terputus di berbagai wilayah, sehingga sulit mengukur sentimen publik secara menyeluruh di negara berpenduduk sekitar 85 juta jiwa tersebut. Laporan awal juga menyebutkan lebih dari 100 orang tewas dalam gelombang pertama serangan.
Melansir New York Times (NYT), di berbagai sudut ibu kota, suasana euforia pecah. Pria dan perempuan turun ke jalan, menari dan bersorak. Pengendara yang melintas membunyikan klakson panjang, kembang api menyala di langit malam, dan musik diputar keras-keras.
Dari balkon dan jendela apartemen, warga meneriakkan, "Kebebasan, kebebasan." Teriakan itu saling bersahutan di antara blok-blok permukiman.
Sara, 53 tahun, warga Teheran yang meminta nama belakangnya tidak dipublikasikan karena khawatir akan pembalasan, berteriak dan melompat kegirangan saat mendengar kabar tersebut dari siaran berita. Suaminya mondar-mandir tak percaya, lalu mereka berpelukan.
"Lalu kami bergegas ke luar dan berteriak sekeras-kerasnya, tertawa dan menari bersama para tetangga," ujar Sara kepada NYT.
Sebulan sebelumnya, Sara, suami, dan putrinya ikut turun dalam aksi protes terhadap pemerintah. Ia mengatakan aparat keamanan memukuli ia dan suaminya dengan tongkat serta menyemprotkan gas air mata ke mata mereka.
Bagi sebagian pendukung Khamenei yang memandangnya sebagai figur religius yang dihormati, perayaan tersebut terasa menyakitkan. Di media sosial, ada yang menyatakan mereka berkabung secara pribadi. Namun, mereka nyaris tidak terlihat di jalanan pada malam itu.
Pada Januari 2026, Khamenei disebut memerintahkan aparat keamanan menggunakan kekuatan mematikan terhadap demonstran. Kelompok hak asasi manusia menyebut sedikitnya 7.000 orang tewas dalam penindakan tersebut, dengan angka yang diperkirakan masih bisa bertambah.
Baca Juga:
Media Pemerintah Iran Konfirmasi Ayatollah Ali Khamenei Meninggal Dunia
Di sebuah video yang beredar luas, seorang pria terdengar berteriak dari atap rumahnya, "Khamenei masuk neraka."
Di Abdanan, kota berpenduduk Kurdi di Iran barat yang sebelumnya mengalami penindakan keras terhadap protes, pemuda-pemudi berkeliling kota dengan mobil.
Dalam salah satu video, terdengar suara narator berkata, "Malam ini, 28 Februari, selamat atas kebebasan kita."
Rekaman lain memperlihatkan warga merobohkan sebuah monumen yang menampilkan siluet seorang pria, diduga Khamenei, di bundaran Galleh Dar, Provinsi Fars. Api terlihat menyala di sekitar lokasi.
Seorang pria berteriak, "Apakah aku sedang bermimpi? Ah! Selamat datang dunia baru. Ah!"
Di Shiraz, warga meninggalkan mobil mereka di tengah jalan dan menggelar pesta spontan. Mereka bersiul, bertepuk tangan, dan berteriak kegirangan. Sorak-sorai yang biasanya terdengar dalam perayaan pernikahan terdengar menggema, menjadi simbol kegembiraan yang meluap.
Di Isfahan, sedikitnya seratus orang terekam berkumpul dengan tangan terangkat, sebagian melambaikan kain putih. Klakson kendaraan terdengar bersahut-sahutan di tengah sorakan yang riuh.
Warga Iran di luar negeri ikut merayakan kabar tersebut melalui panggilan video dengan keluarga di tanah air. Ada yang menangis karena lega dan bahagia. Seorang warga Iran di Paris membuka botol sampanye, sementara di Los Angeles, sekelompok orang bersulang bersama. Di Maryland, Shirin menari di rumahnya dengan musik keras.
"Saya sangat bahagia. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Apakah ini nyata? Syukur kepada Tuhan saya masih hidup untuk melihat hari ini," katanya, mengutip NYT.
Meski perayaan berlangsung di berbagai kota, situasi politik selanjutnya masih belum jelas. Setelah hampir empat dekade kekuasaan Khamenei, belum dapat dipastikan apakah Iran akan beralih ke sistem pemerintahan baru atau kekuasaan akan diteruskan kepada sosok yang telah dipersiapkan sebelumnya.




