Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran dilaporkan melarang kapal melintas di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia untuk ekspor minyak global, pada Sabtu (1/3/2026).
Merespons hal itu, Amerika Serikat (AS) mengeluarkan peringatan kepada kapal-kapal komersial agar menjauhi kawasan tersebut.
Sebelumnya, seorang pejabat misi Angkatan Laut Uni Eropa, Aspides, Sabtu waktu setempat, mengatakan sejumlah kapal menerima transmisi radio VHF dari Garda Revolusi Iran yang menyatakan tidak ada kapal yang diizinkan melintasi Selat Hormuz.
Pejabat yang berbicara kepada Reuters secara anonim itu menyebut, Iran belum secara resmi mengonfirmasi kebijakan tersebut. Namun, Teheran selama bertahun-tahun memang kerap mengancam akan menutup jalur laut sempit itu sebagai respons terhadap serangan terhadap Republik Islam Iran.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling vital di dunia. Jalur itu menghubungkan produsen minyak utama di kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Iran, Irak, dan Uni Emirat Arab dengan Teluk Oman serta Laut Arab.
Di tengah situasi tersebut, Departemen Transportasi Amerika Serikat melalui Maritime Administration mengeluarkan peringatan maritim kepada kapal berbendera AS agar menghindari Selat Hormuz dan perairan sekitarnya.
Melansir Anadolu, dalam peringatan resmi yang dirilis Sabtu, otoritas AS menyebut operasi militer telah dimulai sejak 28 Februari di wilayah Selat Hormuz, Teluk Persia, Teluk Oman, hingga Laut Arab. Kondisi ini dinilai berpotensi memicu serangan balasan dari pasukan Iran.
Otoritas AS merekomendasikan kapal komersial untuk menjauhi area konflik jika memungkinkan. Selain itu, kapal berbendera, milik, maupun awak asal Amerika Serikat diminta menjaga jarak minimal 30 mil laut dari kapal militer AS guna menghindari salah identifikasi sebagai ancaman.
Peringatan yang berlaku hingga 7 Maret itu juga meminta operator kapal tetap berkoordinasi dengan Naval Forces Central Command serta memantau pembaruan informasi dari UK Maritime Trade Operations dan Joint Maritime Information Center.
Para pelaut juga diimbau menerapkan langkah mitigasi risiko sesuai Maritime Advisory 2026-001, termasuk mengantisipasi potensi inspeksi, penahanan, atau penyitaan kapal oleh pihak Iran di Selat Hormuz dan Teluk Oman.
Situasi keamanan kawasan meningkat tajam setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu dini hari dengan alasan menghilangkan ancaman dari rezim Iran.
Serangan itu terjadi di tengah perundingan nuklir antara Washington dan Teheran yang dimediasi Oman, dengan putaran terbaru pembicaraan di Jenewa baru saja berakhir pada Kamis.
Sebelumnya, Israel juga pernah memulai konflik bersenjata selama 12 hari melawan Iran pada Juni tahun lalu, yang kemudian diikuti keterlibatan Amerika Serikat melalui serangan terhadap tiga fasilitas nuklir Iran.(bil/rid)



