SAYA bukan seorang ekonom, tetapi masih bisa menghitung unsur laba dan rugi. Saya bukan ahli strategi militer, tetapi masih dapat melakukan rekapitulasi mengenai untung tidaknya bangsa kita memberi penekanan pada belanja militer, sementara kebutuhan lain ada yang lebih mendesak.
Pada akhir tahun 1980-an, Paul Kennedy, guru besar ilmu sejarah dari Universitas Yale, Amerika Serikat, menulis buku "The Rise and Fall of Great Power".
Ia menelusuri kejadian atau kondisi negara-negara besar antara tahun 1500 hingga 2000. Di situ ia mempelajari keterkaitan antara belanja militer dengan kemerosotan ekonomi bangsa-bangsa besar.
Kennedy mengajukan teorinya, Imperial Overstretch (bentangan imperial berlebihan). Kennedy menemukan bahwa negara-negara besar cenderung berkembang secara militer, tetapi keteteran secara ekonomi. Pengeluaran anggaran militer tidak sebanding dengan kondisi ekonomi mereka.
Menurut Kennedy, negara-negara berlomba membangun ekonomi, dan begitu ekonomi mereka mulai baik, negara-negara tersebut membangun otot militer guna melindungi pertumbuhan ekonomi mereka.
Baca juga: Melabuhkan Garibaldi di Atas Keroposnya Napas Fiskal Nasional
Ironinya, ekonomi bukannya tumbuh dengan perlindungan militer, tetapi justru jatuh. Alasannya sangat sederhana, belanja militer melampaui kemampuan ekonomi.
Paul Kennedy memberi contoh mengenai Spanyol, Belanda, Perancis, dan Inggris. Malah, ia sudah memprediksi kejatuhan Amerika Serikat dan Uni Soviet ketika itu.
Saya tiba-tiba mengingat pelajaran dasar saya ini ketika bersekolah di Amerika Serikat, setelah menyaksikan postur belanja pemerintah sekarang.
Antara belanja dengan daya dukung ekonomi kita, terdapat jurang yang menganga lebar. Belum lagi bila kita bicara tentang prioritas kebutuhan dan kepentingan.
Sekarang ini, dengan musim hujan yang amat deras dan berkepanjangan di seluruh negeri, infrastruktur jalan mengalami kerusakan parah.
Akibatnya, kelancaran logistik dari sentra-sentra produksi ke konsumen mengalami gangguan. Maka, harga-harga pun kian membengkak, terutama sektor pangan.
Ironinya, anggaran pusat untuk daerah, dengan alasan efisiensi, dipotong sekian puluh persen. Maka, kerusakan infrastruktur tersebut pelik sekali memperbaikinya.
Lantas, di mana peluang perbaikan dan peningkatan laju ekonomi itu? Belum lagi penerimaan negara di sektor pajak, kian jauh dari target. Jadi, apa yang tersisa, belanja kian membengkak, penerimaan kian cekak.
Kini, kebijakan publik pemerintah adalah melakukan belanja peralatan militer dan pembangunan sekian banyak batalion tentara.
Baca juga: Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Di tengah situasi ekonomi yang mendera sekarang ini, orientasi belanja tersebut, rasanya kurang pas. Masih ada sejumlah daftar kebutuhan mendesak yang seyogianya diberi prioritas.




