Mengapa Anak Suka Mengupil?

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Meski artikel ini mengulas tentang perilaku evolusi manusia, artikel ini akan berisi hal yang mungkin menjijikkan bagi sebagian orang, tentang perilaku anak-anak yang suka mengorek hidung dan memakan ingus atau upil di dalamnya. Jika hal itu membuat Anda tidak nyaman, silakan berpindah ke artikel lain.

Memakan upil atau memasukkan ingus yang keluar dari hidung ke mulut mungkin terasa menjijikkan bagi sebagian besar orang dewasa. Namun, hampir semua anak kecil melakukannya dan menganggapnya bukan hal aneh. Nyatanya, perilaku yang dianggap jorok, jelek, dan berisiko kesehatan itu memiliki akar dalam evolusi manusia.

Hampir semua anak pernah memasukkan satu jarinya ke lubang hidung, mengorek-ngorek rongga di dalamnya sambil mencari-cari gumpalan kotoran hidung, mengeluarkan kotoran tersebut, dan memasukkannya ke mulut. Terkadang, anak-anak menyedot ingus yang keluar dari hidungnya atau mengusap ingus dengan jarinya dan memasukkan jari itu ke mulut.

Meski orang dewasa menganggapnya jorok, hampir semua anak melakukannya tanpa rasa jijik apalagi bersalah. Saat melihat perilaku anak tersebut, hampir semua orang dewasa pasti akan berteriak dan menganggap tindakan itu jorok dan tidak sehat.

Perilaku anak yang memakan lendir dari hidung, baik dalam bentuk ingus maupun upil itu disebut mukofagi.

Baca JugaMembersihkan Kotoran Telinga, Jangan Asal Mengorek

Namun jika kita mau jujur, hampir semua orang dewasa pernah melakukan tindakan itu saat masih kecil. Sebagian orang mungkin juga masih terkenang-kenang rasa asin dan sensasi menyenangkan yang menyertainya. Bahkan meski kini telah dewasa, sebagian orang tetap melakukannya meski harus secara sembunyi-sembunyi.

Ingus dan upil sejatinya satu kesatuan saling terkait. Ingus adalah lendir lengket yang diproduksi selaput lendir atau mukosa di rongga hidung dan sinus.

Meski dianggap menjijikkan, ingus berfungsi penting untuk melembapkan hidung, memerangkap kotoran dan kuman, serta melindungi saluran pernapasan. Sementara upil adalah ingus yang mengering dan bercampur debu, bakteri, virus, dan berbagai partikel asing yang masuk ke hidung.

Perilaku anak yang memakan lendir dari hidung, dalam bentuk ingus maupun upil itu disebut mukofagi. Sementara tindakan mengorek-ngorek hidung untuk mengeluarkan lendir atau dalam masyarakat Indonesia disebut mengupil, secara ilmiah dinamai rhinotillexis.

Rhinotillexis dan mukofagi memang lebih mudah ditemukan pada anak-anak. Namun, banyak orang dewasa yang diam-diam juga melakukaannya, bahkan menyukainya. Nilai sosial membuat tindakan itu dianggap tercela jika dilakukan di depan umum.

Survei terhadap 200 responden remaja di India pada 2001 menemukan hampir semua responden suka mengorek-ngorek hidung mereka. Bahkan, sembilan responden mengaku rutin memakan ingus mereka.

Kebiasaan mengorek hidung dan memakan ingus itu, seperti ditulis Livescience, 7 Februari 2026, ternyata juga ditemukan setidaknya pada 12 spesies primata selain manusia. Mereka yang suka mengupil antara lain lemur aye-aye atau Daubentonia madagascariensis, gorila, bonobo, simpanse, monyet makaka, dan monyet capuchin.

Baca JugaBersin-bersin di Musim Hujan, Flu atau Alergi Dingin?

Perilaku mengupil pada primata itu pertama kali diamati ahli biologi evolusi dari Universitas Bern Swiss Anne-Claire Fabre pada 2015. Saat itu, dia mengamati lemur aye-aye di penangkaran yang memasukkan jari tengahnya sepanjang 8 sentimeter ke dalam lubang hidungnya, mengeluarkan lendir, lalu menjilati jari itu hingga bersih.

“Itu lucu sekaligus menjijikkan. Sepertinya, hewan itu benar-benar menikmati apa yang dilakukannya dan sering melakukan tindakan itu,” ungkapnya.

Dari pengamatan itu, Fabre mencoba mencari perilaku serupa pada primata lain dan ditemukanlah 12 primata non-manusia yang memakan ingus yang keluar dari hidungnya.

Sebagian besar spesies, menggunakan jari mereka untuk mengorek ingus di hidung mereka, tetapi beberapa spesies menggunakan tongkat. Bahkan, ada sebagian individu spesies yang mengorek hidung individu yang lain demi membantu mengeluarkan ingus mereka.

Komposisi ingus itu lebih dari 98 persennya adalah air. Sisanya terdiri dari komponen protein-karbohidrat yang disebut musin dan garam.

Komposisi ingus itu lebih dari 98 persennya adalah air. Sisanya terdiri dari komponen protein-karbohidrat yang disebut musin dan garam. Primata menyukai aktivitas tersebut karena diduga ada manfaat yang mereka peroleh dari mengonsumsi komponen-komponen dalam ingus.

“Kondisi serupa ditemui pada sejumlah spesies yang makan kotorannya sendiri untuk mendapatkan sisa nutrisi yang ada dalam kotoran tersebut,” katanya. Hewan yang memakan fesesnya sendiri atau disebut koprofagi meliputi antara lain tikus, kelinci, babi, sebagian anjing, hingga gorila.

Perilaku sebagian hewan yang memakan kotorannya itu memunculkan dugaan bahwa perilaku manusia yang memakan ingus atau upil memiliki dasar evolusi. Bahkan, tindakan itu diyakini memiliki manfaat sehingga manusia terus melakukannya meski secara sosial tetap ditolak.

Baca juga: Mengapa Tidak Semua Primata Berevolusi Jadi Manusia?

Manfaat

Saat kita bernapas, bukan hanya udara yang masuk ke hidung, tetapi juga debu, spora, dan mikroorganisme penyebab penyakit lainnya. Keberadaan lendir akan memerangkap semua mikropartikel tersebut agar tidak sampai masuk ke paru-paru.

Pada 2013, ahli biokimia dari Universitas Saskatchewan Kanada, Scott Nappper mengajukan hipotesis bahwa memakan ingus membuat anak-anak memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih terlatih dari paparan sejumlah patogen.

Dengan memakan upil, tubuh akan mengenali molekul-molekul patogen tersebut hingga memicu respon imun saat patogen itu benar-benar datang menyerang. Namun hingga kini, gagasan itu belum pernah diuji dalam penelitian empiris.

Psikiater di Institut Kesehatan Mental dan Neurosains Nasional Bangalor, India Chittaranjan Andrade yang meneliti kebiasaan remaja mengorek hidungnya pada 2001 skeptis dengan berbagai teori tentang manfaat memakan upil.

“ Saya ragu. Zat imun apa pun yang tertinggal dalam lendir yang mengering pasti jumlahnya sangat sedikit. Namun, dia akan tetap dicerna (oleh tubuh) setelah tertelan,” tuturnya.

Meski demikian, ahli lain mengingatkan bahwa ingus atau lendir hidung bisa menyebarkan bakteri penyebab pneumonia. Karena itu, kebiasaan mengupil dan memakan ingus atau upil pada anak-anak harus dikendalikan, terutama saat mereka berada di sekitar orang-orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah.

Tidak adanya bukti kuat yang mendukung tentang manfaat memakan ingus dan upil untuk kesehatan membuat para peneliti mencoba mencari alasan yang lebih intuitif untuk menjelaskan mengapa anak-anak kecil suka mengupil dan memakan upil.

Keberadaan lendir di rongga hidung bisa menyebabkan rasa gatal, sesak, dan ketidaknyamanan. Kondisi itu diduga Fabre mendorong anak-anak dan orang dewasa untuk mengorek hidung mereka. Pada anak-anak, karena rasa penasaran mereka tinggi dan belum memahami tentang nilai sosial secara penuh, mereka pun tergerak untuk mencicipinya.

Anak-anak suka makan upil karena tekstur dan rasanya yang menarik.

Baca JugaNenek Moyang Manusia Mengajarkan, ”Jangan Terlalu Sibuk Bekerja!”

Dalam sebuah bab di buku Consuming The Inedible (2009), María Jesús Portalatín mewawancarai 10 anak tentang apa yang mereka suka memakan ingus atau upil mereka.

Meski studi itu tanpa penilaian dari rekan sejawat dan responden yang diteliti sangat sedikit, riset tersebut menunjukkan anak-anak suka makan upil karena tekstur dan rasanya yang menarik.

Andrade percaya bahwa anak-anak mengembangkan kebiasaan makan upil karena belum memiliki konotasi negatif seperti yang dialami orang dewasa. “Anak-anak melakukannya secara terbuka,” ujarnya.

Mereka diamati dan dimarahi karena mengupil atau memakan upil karena tindakan itu dianggap tabu. Teguran itu membuat anak-anak tidak mengulangi lagi perbuatan tersebut, setidaknya tidak secara terbuka, bahkan hingga dewasa.

Meski demikian, alasan anak-anak mengupil dan memakan ingus dan upil tidak akan benar-benar dipahami sampai ada penelitian yang lebih konkret yang menjelaskannya.

Sampai saat itu tiba, Fabre yakin bahwa alasan dibalik tindakan itu karena anak-anak menyukainya “Upil itu renyah dan sedikit asin. Dan sejujurnya, menurut saya, itu bukan hal yang menjijikkan.”


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Iran Tarik Diri dari Piala Dunia di Amerika Serikat? Ini kata FIFA
• 10 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Harga Pertamax naik jadi Rp12.300 per liter mulai 1 Maret 2026
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
Antisipasi Banjir di Rel Kereta, Pemerintah bakal Bentuk Satgas Bersama
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
DPR: Serangan Israel ke Iran Ancam Stabilitas Kawasan, Pemerintah Harus Bersikap Tegas
• 20 jam laluliputan6.com
thumb
Gerakan Mahasiswa Jangan Sampai Ditunggangi Kepentingan Politik
• 22 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.