FAJAR, JAKARTA – Isu mundurnya Iran dari Piala Dunia 2026 akibat perang dengan Amerika Serikat kian memanas. Jika “Team Melli” benar-benar menarik diri atau dicoret oleh FIFA, posisi mereka di putaran final harus segera diisi.
Berdasarkan skema kualifikasi zona Asia (AFC), dua negara yakni Irak dan Uni Emirat Arab (UEA) menjadi kandidat terkuat sebagai pengganti.
Mengacu pada ‘Lucky Loser’
Penentuan tim pengganti tidak dilakukan secara acak, melainkan merujuk pada performa di babak kualifikasi terakhir. Irak dan UEA adalah dua tim yang bertarung hingga fase akhir play-off dan memiliki peringkat FIFA serta poin kualifikasi tertinggi di antara tim Asia lainnya yang belum lolos.
Pengamat sepak bola Ronny Pangemanan alias Bung Ropan menekankan bahwa FIFA memiliki aturan baku soal tim yang mundur.
“FIFA biasanya akan mengambil tim dari konfederasi yang sama (AFC) untuk menjaga kuota benua. Jika Iran mundur, Irak adalah tim yang paling siap secara teknis karena mereka berada di posisi standby dalam klasemen kualifikasi terakhir, ” beber Bung Ropan.
“Secara regulasi, tim dengan performa terbaik di babak play-off sebelumnya yang akan naik,” tambahnya mengomentari skema Lucky Loser.
Sekjen PSSI Yunus Nusi pernah menjelaskan bagaimana birokrasi FIFA bekerja terkait slot kosong.
“Keputusan akhir selalu ada di tangan FIFA melalui Komite Eksekutif. Mereka akan melihat kelayakan administratif dan teknis. Jika ada satu negara mundur, pengisian slot akan mengikuti aturan Competition Regulations yang sudah disepakati di awal kualifikasi,” ungkapnya seperti dilansir Detik Sport.
Sementara pengamat sepak bola Timur Tengah Mohammad Nabi
dalam ulasan yang sering dikutip media internasional menyebut faktor diplomatik menjadi pertimbangan selain teknis.
“Irak memiliki basis massa yang besar, namun UEA memiliki keunggulan dari segi kemudahan logistik dan hubungan diplomatik yang sangat stabil dengan tuan rumah Amerika Serikat. FIFA akan mempertimbangkan tim yang paling minim risiko masalah visa dan keamanan di menit-menit terakhir.”
Masalah administrasi visa yang terkadang ketat bagi warga Irak ke AS juga jadi pertimbangan. Sementara UEA pemenang play-off regional dengan infrastruktur tim yang stabil.
Hingga saat ini, FIFA masih mengupayakan diplomasi agar Iran tetap berpartisipasi. Namun, Irak dan UEA dikabarkan sudah diperingatkan secara informal oleh AFC untuk tetap dalam kondisi siap tempur (standby) jika sewaktu-waktu surat keputusan resmi diterbitkan.
Keputusan ini sangat dinantikan, mengingat jadwal laga perdana di Grup G hanya menyisa waktu beberapa bulan lagi. Pencinta sepak bola dunia kini menunggu apakah “Singa Mesopotamia” (Irak) atau “Al-Abyad” (UEA) yang akan terbang ke Amerika Utara. (*)





