Kamis tanggal 05 bulan Februari tahun 2026 meninggalkan duka yang dalam bagi sebuah keluarga di Indonesia Timur tepatnya di Nusa Tenggara Timur. Seorang anak kecil yang belum melihat dunia secara utuh namun telah mengenal wajah asli dunia lebih dini. Anak itu memilih jalannya sendiri sebuah jalan yang sunyi dan memilih tidak menambah beban yang akan dipikul ibunya, oleh sebab itu ia memilih menulis sebuah surat cinta terakhir, sepucuk surat yang ditulis oleh tangan yang mungil pun ingatan yang masih lugu dan setelahnya berubah menjadi headline untuk seluruh penjuru negeri.
Usia anak yang sebetulnya masih harus di dalam permainan pun memintal cita-cita yang indah dan mulia, namun hari-harinya sudah menyamai orang dewasa, otot dan tubuhnya seharusnya masih dalam proses pertumbuhan namun kenyataan memaksanya harus berlagak kuat. Anak itu lahir dan besar di gubuk kecil yang sederhana dan makanannya pun pemberian alam seperti pisang dan ubi, berbeda dengan anak wakil rakyat yang masa kecilnya dihiasi hidangan mewah walau giginya belum kuat menggigit. Di saat anak-anak wakil rakyat menulis dengan tinta emas, anak kecil itu bahkan tidak mampu untuk membeli apalagi untuk menulis dengan tinta hitam.
Buku dan pena seharusnya disediakan oleh sekolah mengingat anggaran yang begitu besar angkanya untuk alokasi Pendidikan di negeri ini, namun untuk hal sekecil itu saja negara gagal untuk hadir lalu bagaimana dengan hal-hal besar yang menyangkut pembangunan bangsa dan negara? Apa yang bisa kita harapkan dari bangsa yang hanya selalu menempatkan rakyatnya sebagai objek bukan subjek. Negara ini selalu saja hanya berbicara mengenai angka, statistik dan data, namun minim hadir dalam tindakan nyata yang langsung dapat dirasakan oleh seluruh anak bangsa. Ada jurang pemisah yang terlalu dalam dan luas antara kebijakan normatif dengan fakta yang terjadi di lapangan
Bangsa ini terlalu Jawa sentris sehingga pulau paling timur dan paling barat sering terlupakan dan seringkali diperlukan ketika ada maunya saja, mereka mengeruk seluruh kekayaan di Indonesia bagian timur maupun barat lalu menempatkan hasilnya di Jakarta untuk mereka nikmati.
Negara harus hadir dan segera membuka mata dengan lebar-lebar dan Presiden tidak bisa puas dengan data-data yang dihadirkan oleh para pembantunya di meja kerjanya, presiden harus memeriksa kebenaran dari data-data tersebut dengan melakukan kunjungan langsung ke lapangan, supaya anak-anak yang tumbuh dalam kemiskinan tidak takut untuk tumbuh di negeri ini.
Nominal sepuluh ribu bukanlah apa-apa buat rakyat kaya-raya, angka itu hanya secuil dari limpahan hartanya yang sangat besar, namun bagi anak yang lahir dari keluarga miskin nominal tersebut adalah separuh dari dunianya dan ketika dia tidak bisa mendapatkannya, anak itu memilih untuk sama sekali tidak mengenal dunia di hari-hari depan. Banyak ungkapan sedih dan marah dari seluruh penjuru negeri kepada pemerintah, namun hanya tersampaikan lewat media sosial saja pun kemungkinan informasi yang tiba ke telinga presiden telah dibatasi untuk hal-hal yang baik saja.
Amanat Undang-Undang terdahulu adalah untuk memelihara fakir miskin dan mencerdaskan kehidupan bangsa, namun dalam kasus bunuh diri anak kelas 4 SD di NTT ini pemerintah sudah gagal total menjalankan amanat konstitusi. Lalu apa yang kita harapkan pada sisa pemerintahan Prabowo saat ini?
Bagaimana respons sigap dari pemerintah? Apakah tidak ada perbaikan struktural atau setidaknya permintaan maaf dari pemangku kepentingan di negara ini, sebab ini adalah dosa besar bangsa ini dan mungkin peristiwa bunuh diri ini hanya sedikit kasus saja dari sekian banyak kasus besar lainnya yang harus diselesaikan oleh pemerintah.
Slogan pemerintah adalah Indonesia Emas 2045, namun untuk hal sepele seperti buku dan pulpen saja Indonesia masih belum tamat, lalu bagaimana Indonesia Emas 2045 akan terwujud? Atau emas itu hanya untuk segelintir golongan dekat pemerintah saja? Atau slogan itu hanya untuk menutupi bobroknya kinerja pemerintah selama ini?
Peristiwa dari Ngada ini adalah alarm serius untuk dunia Pendidikan Indonesia dan jika tidak ada penanganan serius maka Ngada-ngada berikutnya akan kembali hadir.
Dari peristiwa ini kita bisa belajar bahwa negara belum sepenuhnya mampu menjamin hak-hak warga paling dasar seperti hak untuk hidup, hak untuk belajar pun hak untuk aman. Bahkan ketimpangan dalam hak akses Pendidikan masih terasa sangat tajam antara di Jakarta dengan di daerah-daerah lain. Karena negara yang baik adalah negara yang mampu menjamin hak paling dasar warganya terpenuhi dengan baik.
Ungkapan belasungkawa dan keprihatinan pun juga penggalangan dana pasti sudah dilakukan oleh negara, namun kita harus jujur pada diri sendiri bahwa itu bukanlah hal utama yang diinginkan oleh rakyat, rakyat hanya ingin keadilan sosial itu terwujud dengan sempurna tanpa pandang bulu dengan mengimplementasikan setiap kebijakan memihak kepada rakyat Indonesia dari sabang sampai Merauke.
Surat yang ditulis anak SD itu terlalu jujur untuk menegaskan situasi Indonesia saat ini. Surat itu lahir dari tangan yang lemah, pikiran yang murni dan cinta yang tidak pernah menemukan rumahnya. Sekiranya pemerintah mengambil sikap dan langkah yang tegas ke depannya dengan mengimplemetasikan kebijakan yang lebih berpihak kepada kepada rakyat. Karena Indonesia perlu diasuh dengan kasih pun kejujuran.





