REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Eskalasi konflik di Timur Tengah menyusul serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran mulai menyumbat urat nadi perdagangan global. Gangguan pelayaran di Selat Hormuz kini memicu kekhawatiran atas stabilitas pasokan energi dan lonjakan biaya logistik dunia.
Mengutip laporan Bloomberg, Ahad (1/3/2026), sejumlah operator kapal tanker dan kontainer dilaporkan telah menghentikan operasional atau memutar balik armada mereka dari jalur strategis tersebut. Media lokal Iran menyebut perairan tersebut "praktis tertutup", meskipun otoritas Teheran belum mengeluarkan pernyataan resmi. Para awak kapal di lokasi melaporkan adanya peringatan radio terkait risiko keamanan pelayaran di wilayah tersebut.
- Selat Hormuz Ditutup, Harga Minyak Dunia Melonjak 20 Dolar AS per Barel
- Selat Hormuz Ditutup, Pasar Minyak Hadapi Risiko Resesi Dunia
- Iran-Rusia Akhiri Latihan Gabungan di Selat Hormuz, Moskow Ingatkan AS tak 'Bermain Api'
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang melayani sekitar seperlima dari total pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia setiap harinya.
Sentimen ini langsung direspons negatif oleh pasar komoditas. Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat sempat melonjak lebih dari 8 persen pada perdagangan Sabtu malam waktu London. Pelaku pasar kini mengantisipasi volatilitas tinggi saat pembukaan perdagangan awal pekan besok.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Tak hanya sektor energi, industri pelayaran kontainer juga terdampak signifikan. Raksasa pelayaran asal Jerman, Hapag-Lloyd AG, mengonfirmasi penghentian sementara pelayaran melalui Hormuz. Langkah serupa diambil oleh Nippon Yusen KK yang meminta armadanya menghindari jalur tersebut hingga kondisi kondusif.
"Perusahaan menghentikan sementara pelayaran melalui Hormuz," tulis manajemen Hapag-Lloyd dalam keterangan resminya, Ahad.
Kondisi ini menyebabkan penumpukan kapal di kedua sisi selat. Beberapa pemilik kapal bahkan mulai mempertimbangkan aktivasi klausul perang (war clause) dalam kontrak pelayaran guna membatalkan pengiriman. Jika blokade berlanjut, pasar mengkhawatirkan terjadinya kelangkaan ruang kapal dan lonjakan tarif angkut (freight rate).
Potensi kenaikan biaya logistik ini diprediksi akan mengerek harga barang impor, mulai dari bahan baku industri hingga barang konsumsi. Di sisi lain, tertahannya pengiriman LNG dari Qatar turut menambah tekanan pada struktur harga energi global dalam jangka pendek.



