Serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) ke Iran tak hanya berdampak pada pasokan dan harga minyak, tapi juga mengancam gas alam cair (LNG) global. Pasalnya, penutupan Selat Hormuz turut mengganggu perdagangan LNG.
Dilansir Bloomberg, Minggu (1/3), pembeli Asia yang menjadi pembeli LNG terbesar di Qatar, mulai ramai menghubungi pemasok untuk meminta kargo alternatif yang tersedia. Qatar mengekspor 82,2 juta ton LNG pada tahun 2025.
Konflik yang terjadi di Timur Tengah tersebut dapat menyebabkan harga LNG menjadi lebih tinggi. Bahkan, sejumlah pedagang di India, Jepang, dan lainnya bersiap untuk kenaikan biaya, sementara kontrak LNG jangka panjang juga berpotensi menjadi lebih mahal.
Serangan AS-Israel ke Iran menjadi gangguan di pasar gas terbesar sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Invasi Rusia ke Ukraina pada empat tahun lalu menciptakan gejolak yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam perdagangan gas internasional, menghilangkan Moskow dari pasar ekspor terbesar, memicu volatilitas, dan memicu rekor lonjakan harga di Eropa dan wilayah lain.
Tetangga Iran, seperti Qatar, merupakan produsen gas terpenting di dunia. Wilayah ini merupakan rute utama pasokan gas, dengan 20 persen ekspor gas alam cair melewati Selat Hormuz.
Selain Qatar, Mesir juga sedang mengamankan pengiriman gas alamnya, setelah pemasok Israel menutup beberapa ladang utama.
Asia menjadi wilayah yang sangat rentan terhadap gangguan yang terjadi di Timur Tengah. Lebih dari seperempat LNG Qatar dikirim ke pembeli Asia tahun lalu. China sebagai pembeli terbesar, mengambil hampir sepertiga pasokan gasnya dari negara tersebut, disusul oleh India sebagai pembeli terbesar kedua.
Pengiriman LNGS ke Asia dan Eropa harus melewati Selat Hormuz. Sejauh ini, setidaknya sebelas kapal tanker LNG yang pergi menuju atau dari Qatar telah menghentikan pelayarannya.
Nippon Yusen, pemilik dan manajer kapal LNG utama Jepang, telah menginstruksikan kapal afiliasinya untuk menghindari area di sekitar Selat Hormuz, menurut juru bicara perusahaan. Mitsui OSK Lines, pemilik kapal LNG besar Jepang lainnya, telah menginstruksikan kapal untuk menunggu di perairan yang aman, sementara Kawasaki Kisen Kaisha mengkonfirmasi bahwa mereka telah memerintahkan kapal di Teluk Persia untuk menunggu.
Jika konflik di Iran terus berlarut dan gangguan pengiriman berlanjut, risiko akan semakin besar terhadap pasokan LNG.
China menjadi salah satu importir yang mempertimbangkan mengambil pasokan alternatif dari negara lainnya, jika Iran masih sulit untuk melakukan ekspor LNG. Meski demikian, QatarEnergy belum memberikan respons mengenai hal ini.





