Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah melakukan langkah mitigasi terhadap jemaah umrah Indonesia di Arab Saudi menyusul penutupan ruang udara di sejumlah negara kawasan Timur Tengah akibat perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran, salah satunya membentuk tiga tim yang bekerja secara tiga shift dan tersebar di tiga titik bandara.
"KUH (Kantor Urusan Haji) telah membentuk tiga tim yang bekerja dalam tiga shift dan disebar di tiga titik bandara, yakni Terminal 1, Terminal 2 (eks Saudia), dan Terminal Haji. Langkah ini untuk memastikan pendampingan dan koordinasi berjalan optimal bagi jemaah yang terdampak perubahan jadwal penerbangan," kata staf teknis KUH Jedaah, Muhammad Ilham Effendy dalam keterangannya, Minggu (3/1/2026).
Advertisement
Seperti dilansir dari Antara, Sejumlah negara tetangga Arab Saudi, seperti Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Irak, dan Suriah, dilaporkan menutup ruang udara untuk kedatangan maupun keberangkatan penerbangan menyusul perkembangan situasi keamanan di kawasan.
Di sisi lain, Arab Saudi bersama Oman, Yordania, dan Lebanon masih mengoperasikan penerbangan secara terbatas dengan status siaga dan pengawasan ketat, menyesuaikan dinamika kondisi di lapangan.
Pemerintah memastikan situasi di dalam wilayah Arab Saudi hingga saat ini tetap aman dan terkendali. Aktivitas masyarakat berlangsung normal, dengan peningkatan kewaspadaan sesuai standar keamanan yang berlaku.
Untuk mengantisipasi potensi keterlambatan atau pembatalan penerbangan yang berisiko menyebabkan jemaah umrah tertahan (stranded) di bandara, Kantor Urusan Haji Jeddah segera melakukan langkah mitigasi, termasuk koordinasi intensif dengan otoritas setempat dan maskapai penerbangan.




