Jakarta: Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), menyampaikan keprihatinan mendalam atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel. Tokoh perdamaian ini mengecam tindakan tersebut sebagai aksi yang kejam dan mengabaikan etika diplomasi internasional.
"Ini memang suatu hal yang menjadi bagian keprihatinan kita kepada masalah Amerika dengan sifat dan kekejaman yang dilakukan terhadap Iran," ujar JK di Jakarta, dilansir Antara, Minggu, 1 Maret 2026.
Baca Juga :
Kematian Khamenei Tak Akan Runtuhkan Sistem Republik Islam IranJK mengaku sangat bersedih atas kehilangan sosok pemimpin besar Iran tersebut. Baginya, serangan yang dilancarkan di tengah proses perundingan nuklir antarnegara merupakan preseden buruk dalam hubungan internasional. Ia menilai AS cenderung memaksakan pandangannya dengan kekuatan militer tanpa menghormati kesepakatan yang sedang berjalan.
"Kami tentu sangat bersedih bahwa Pemimpin Iran Ali Khamenei wafat. Dari segi etik, kalau sedang berunding, jangan serang. Ini memang keadaan yang bagi kita semua sangat memprihatinkan karena Amerika menyerang apa saja yang tidak sesuai dengan pandangan-pandangannya," tegas JK.
Konflik eskalatif ini bermula saat Israel meluncurkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari 2026. Presiden AS Donald Trump pun mengonfirmasi bahwa militer Amerika telah memulai operasi tempur besar-besaran, termasuk serangan tujuh roket yang menghantam Teheran hingga dekat dengan kediaman resmi Khamenei.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dikonfirmasi meninggal dunia pada Minggu, 1 Maret 2026. (EPA / KHAMENEI OFFICIAL WEBSITE)
Kematian Ali Khamenei telah dikonfirmasi oleh pemerintah Iran pada 1 Maret 2026, yang langsung menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari. Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan balasan ke wilayah Israel serta sejumlah target di Qatar, Uni Emirat Arab, hingga Bahrain.
Di sisi lain, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto siap bertolak ke Iran. Langkah ini diambil untuk memfasilitasi dialog internasional demi meredam ketegangan global dan menciptakan kembali kondisi keamanan yang kondusif di kawasan Timur Tengah.



