Profil Ayatollah Ali Khamenei, Ulama Revolusioner di Balik Pertahanan Tangguh Iran

grid.id
5 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID- Kabar duka menyelimuti Iran setelah laporan menyebut pemimpin tertinggi negara itu tewas dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel. Inilah profil Ayatollah Ali Khamenei yang disebut gugur dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Informasi tersebut pertama kali disiarkan televisi pemerintah Iran dan segera memicu reaksi internasional. Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan secara terbuka menyatakan kematian sosok yang selama lebih dari tiga dekade menjadi figur sentral politik Iran itu. Di dalam negeri, lembaga-lembaga negara Iran menyampaikan belasungkawa dan menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Peristiwa ini bukan hanya mengguncang Teheran, tetapi juga memicu eskalasi konflik di Timur Tengah. Untuk memahami dampaknya, penting menelaah lebih jauh profil Ayatollah Ali Khamenei sebagai tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Republik Islam Iran modern.

Kabar Kematian Ayatollah Ali Khamenei

Dalam laporan media pemerintah Iran yang dikutip dari Al Mayadeen, Ayatollah Ali Khamenei disebut gugur di kantornya yang berada di kompleks Gedung Kepemimpinan di Teheran pada Sabtu (28/2/2026). Serangan udara tersebut merupakan bagian dari operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan sejumlah fasilitas penting pemerintah serta militer Iran.

Mengutip Tribunnews.com, Minggu (1/3/2026), Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui akun Truth Social menyatakan kematian Khamenei sebagai “keadilan bagi rakyat Iran dan warga dunia yang menjadi korban kebijakannya”. Ia menyebut Khamenei sebagai salah satu orang paling jahat dalam sejarah dan menilai kematiannya membuka peluang bagi rakyat Iran untuk menentukan kembali masa depan politik negara mereka.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga mengatakan terdapat banyak indikasi bahwa Khamenei “tidak lagi bersama kita”, sebelum akhirnya media pemerintah Iran mengonfirmasi wafatnya pemimpin tertinggi tersebut. Lembaga negara termasuk Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyampaikan belasungkawa, sementara pemerintah menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Eskalasi Militer di Kawasan

Serangan tidak hanya terjadi di Teheran. Kota-kota strategis seperti Qom, Tabriz, dan Khorramshahr juga dilaporkan menjadi sasaran, mengingat wilayah tersebut memiliki fasilitas militer penting. Tak lama setelah serangan udara, Iran meluncurkan puluhan rudal balistik ke wilayah Israel sebagai bentuk balasan.

Media Iran melaporkan sejumlah rudal menghantam area sekitar Tel Aviv dan Haifa. Ketegangan meningkat ketika ledakan juga dilaporkan terjadi di beberapa negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, dan Qatar. Situasi ini memicu kekhawatiran meluasnya konflik regional yang berpotensi melibatkan banyak negara.

Profil Ayatollah Ali Khamenei 

Untuk memahami dampak geopolitik tersebut, publik internasional kembali menyoroti profil Ayatollah Ali Khamenei sebagai figur sentral politik Iran selama lebih dari tiga dekade. Melansir The Guardian, Khamenei memimpin Iran sejak 1989 setelah wafatnya Ruhollah Khomeini, pemimpin Revolusi Iran 1979.

Sebelum menjadi pemimpin tertinggi, Khamenei menjabat sebagai presiden Iran pada 1981 hingga 1989. Ia merupakan salah satu tokoh penting dalam Revolusi Iran 1979 yang menggulingkan monarki Mohammad Reza Pahlavi dan melahirkan Republik Islam Iran. Dengan masa jabatan lebih dari tiga dekade, Ayatollah Ali Khamenei merupakan salah satu pemimpin dengan masa jabatan terlama di Timur Tengah setelah Mohammad Reza Pahlavi.

Ali Hosseini Khamenei lahir pada 19 April 1939 di Mashhad, Iran. Ia merupakan anak kedua dari delapan bersaudara, lahir dari keluarga ulama sederhana.

 

Ayahnya, Javad Khamenei, adalah ulama etnis Azerbaijan, sedangkan ibunya, Khadijeh Mirdamadi, berasal dari keluarga Persia di Yazd. Ia juga diyakini memiliki garis keturunan yang bersambung hingga Imam Syiah keempat, Ali al-Sajjad.

Sejak usia empat tahun, ia telah mempelajari Al-Qur’an di maktab. Pendidikan teologinya berlanjut di Mashhad dan Qom, bahkan hingga Najaf. Di Qom, ia menjalin kedekatan dengan Ayatollah Khomeini dan mulai aktif dalam gerakan oposisi terhadap monarki Shah Pahlavi pada 1960-an.

Aktivitas politiknya membuatnya berulang kali ditangkap polisi rahasia SAVAK dan sempat diasingkan ke wilayah terpencil. Namun ia kembali ke Teheran untuk memimpin protes pada 1978 yang berujung pada tumbangnya dinasti Pahlavi.

Arsitek Pertahanan Tangguh Iran

Jika Khomeini dikenal sebagai motor ideologis revolusi, maka dalam banyak analisis, profil Ayatollah Ali Khamenei lebih sering digambarkan sebagai arsitek fondasi militer modern Iran. Mengutip Kompas.com, pengalamannya memimpin sebagai presiden di tengah perang Iran-Irak pada 1980-an membentuk pandangan politik yang keras terhadap Barat.

Rasa isolasi akibat dukungan Barat kepada Saddam Hussein memperdalam ketidakpercayaannya terhadap Amerika Serikat dan sekutunya. Di bawah kepemimpinannya, IRGC bertransformasi menjadi institusi keamanan, politik, sekaligus ekonomi paling berpengaruh di Iran.

Ia juga mencetuskan konsep “ekonomi perlawanan”, strategi untuk mendorong kemandirian nasional di tengah sanksi internasional. Meski keras terhadap Barat, ia dikenal pragmatis.

Pada 2015, ia menyetujui negosiasi Presiden Hassan Rouhani yang menghasilkan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), kesepakatan nuklir antara Iran dan kekuatan dunia untuk mengekang program nuklir Teheran dengan imbalan pencabutan sanksi.

Selama masa kepemimpinannya, Iran memperkuat jaringan sekutu regional yang dikenal sebagai “poros perlawanan”. Jaringan tersebut mencakup kelompok seperti Hezbollah, Hamas, dan Houthi di Yaman.

Strategi ini dipakai untuk memperluas pengaruh geopolitik Iran sekaligus menghadapi tekanan dari Israel dan Amerika Serikat. Namun sejumlah analis menilai jaringan tersebut mulai melemah dalam beberapa tahun terakhir akibat meningkatnya operasi militer Israel terhadap sekutu-sekutu Iran di kawasan.

Dengan seluruh rekam jejak tersebut, profil Ayatollah Ali Khamenei tidak hanya menggambarkan seorang ulama, tetapi juga seorang strateg dan arsitek sistem kekuasaan Republik Islam Iran. Wafatnya sosok yang selama puluhan tahun memegang kendali tertinggi ini berpotensi mengubah lanskap politik domestik Iran sekaligus peta konflik di Timur Tengah secara signifikan. (*)

Artikel Asli


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hujan Deras dan Angin Kencang Terjang Binjai, 22 Rumah Rusak
• 1 jam lalutvrinews.com
thumb
Bold Riders Kembali Jadi Partner Gresini Racing di MotoGP 2026
• 12 jam lalurepublika.co.id
thumb
Selat Hormuz Ditutup, Begini Dampaknya Menurut Analis Pasar Modal
• 2 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Garuda Indonesia Tangguhkan Sementara Penerbangan dari dan Menuju Doha, Qatar
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Operasi Ketupat 2026 Fokus pada Keselamatan Pemudik, Irjen Agus Tegaskan Negara Hadir Jaga Ramadhan dan Idul Fitri
• 23 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.