6 Pemimpin Dunia Diteror dalam Kampanye Ancaman Partai Komunis Tiongkok terhadap Shen Yun

erabaru.net
7 jam lalu
Cover Berita

 Ancaman pembunuhan terhadap perdana menteri Australia menjadi yang terbaru dalam rangkaian email berbahasa mandarin yang mengancam para pemimpin Taiwan, Kanada, Italia, Denmark, dan Korea Selatan.

Oleh Eva Fu

Evakuasi Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dari kediamannya sebagai respons terhadap ancaman bom awal pekan ini bukanlah insiden terpisah. Ia merupakan satu dari enam pemimpin dunia yang menjadi target dalam kampanye intimidasi yang dikaitkan dengan Tiongkok, sebagaimana dipelajari oleh The Epoch Times.

Sejak Januari, ancaman bom dan pembunuhan melalui email telah menyasar pemimpin Kanada Mark Carney, Presiden Taiwan Lai Ching-te, Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung, Presiden Italia Sergio Mattarella, serta Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen. Nama Albanese menjadi yang terbaru dalam daftar tersebut.

Email-email itu memiliki nada dan ancaman grafis yang serupa. Semuanya ditulis dalam bahasa Tiongkok. Pesannya sama: batalkan pertunjukan terjadwal Shen Yun Performing Arts atau hadapi konsekuensinya.

“Jika Anda bersikeras melanjutkan pertunjukan Shen Yun, sesuatu akan terjadi pada perdana menteri Kanada,” bunyi email tertanggal 10 Februari yang diperoleh The Epoch Times. “Jika Anda tidak peduli dengan keselamatan pribadi Mark Carney dan semua pejabat tinggi Kanada, silakan lanjutkan pertunjukan.”

“Tidak menutup kemungkinan menembak Lai Ching-te!” bunyi email lain tertanggal 8 Januari. “Atau bahkan menabrakkan SUV bermuatan bahan peledak ke Gedung Kantor Kepresidenan. Lanjutkan saja jika Anda tidak percaya.”

“Jika Anda tidak peduli dengan keselamatan pribadi Mette Frederiksen dan semua pejabat tinggi Denmark, silakan lanjutkan pertunjukan,” bunyi email lain tertanggal 10 Februari. “Saya tidak peduli, selama Anda sanggup menanggung akibatnya.”

Email yang dikirim ke layanan penjualan tiket Shen Yun yang menargetkan Presiden Taiwan Lai Ching-te pada 8 Januari 2026 dan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung pada 10 Februari 2026; serta email yang dikirim kepada pihak penyelenggara Shen Yun yang menargetkan Perdana Menteri Kanada Mark Carney, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese, Presiden Italia Sergio Mattarella, dan Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen pada 10 Februari 2026. Tangkapan layar melalui The Epoch Times. Kampanye yang Meningkat

Meski tak satu pun ancaman tersebut terbukti nyata, hal ini mencerminkan eskalasi dari kampanye puluhan tahun yang menargetkan perusahaan seni pertunjukan berbasis di New York tersebut.

Mengusung slogan “Tiongkok Sebelum Komunisme,” Shen Yun menampilkan budaya tradisional Tiongkok melalui tarian klasik dan musik Tiongkok. Setiap tahun, pertunjukan ini disaksikan sekitar satu juta penonton langsung di seluruh dunia. The Epoch Times merupakan sponsor media Shen Yun.

Para penari Shen Yun menampilkan tarian klasik Tiongkok di atas panggung. Courtesy of Shen Yun Performing Arts

Perusahaan seni ini didirikan oleh para praktisi Falun Gong, sebuah kelompok spiritual yang mengalami penganiayaan berat yang diluncurkan partai komunis Tiongkok. Sejak berdiri pada 2006, Shen Yun menghadapi kampanye sabotase dari rezim tersebut, termasuk tekanan diplomatik dan ekonomi untuk menghentikan pertunjukannya.

Email ancaman ini menandai bentuk sabotase baru. Tahun lalu, ancaman serupa menyebabkan evakuasi di John F. Kennedy Center for the Performing Arts di Washington, yang kini dikenal sebagai Trump Kennedy Center.

Setelah pertama kali muncul sekitar dua tahun lalu, jumlah ancaman kini telah melampaui 130 kasus, menurut Falun Dafa Information Center. Pelaku awalnya menargetkan para penari Shen Yun dan keluarga mereka, serta fasilitas pelatihan perusahaan.

Ancaman juga diarahkan kepada anggota parlemen AS, Gedung Putih, serta teater dan institusi di berbagai negara, sering kali dengan menyebut kemungkinan pemboman atau penembakan massal jika pertunjukan tetap berlangsung.

Otoritas Taiwan, dalam penyelidikan lintas lembaga, mengaitkan sebagian email dengan Kota Xi’an di Tiongkok tengah, dengan sebuah fasilitas riset milik raksasa teknologi Huawei—yang telah masuk daftar hitam di Amerika Serikat atas kekhawatiran keamanan nasional—sebagai tersangka utama.

BACA JUGA : Perdana Menteri dan Shen Yun Terima Ancaman Bom, PM Australia Albanese Dievakuasi dari Kediaman Resminya

BACA JUGA : Anggota Parlemen Australia Bereaksi atas Evakuasi PM Albanese Akibat Ancaman Bom, Soroti Teror Terhadap Shen Yun

Kekhawatiran Keamanan Nasional

Penyelidikan federal Australia kini menyoroti gelombang intimidasi terbaru ini.

Aparat penegak hukum memindahkan Albanese ke lokasi lain selama beberapa jam saat mereka menggeledah The Lodge di Canberra, dan akhirnya tidak menemukan ancaman terhadap keselamatan publik.

Polisi Federal Australia sedang menyelidiki email kedua tertanggal 22 Februari, di mana pengirim mengklaim telah menempatkan bahan peledak yang akan menghancurkan The Lodge.

Para penari Shen Yun tampil di atas panggung dalam sebuah pertunjukan. Courtesy of Shen Yun

Sementara itu, Kepolisian Queensland menyelidiki ancaman bom lain terhadap lokasi pertunjukan di Gold Coast yang memaksa staf melakukan evakuasi.

BACA JUGA : Polisi Selidiki Ancaman Bom Kedua Saat Tur Shen Yun di Australia

Lucy Zhao, presiden Asosiasi Falun Dafa Australia, menyatakan situasi ini menunjukkan arah berbahaya yang “memerlukan perhatian mendesak di tingkat tertinggi pemerintahan.”

“Ketika ancaman meluas hingga menyasar pemimpin terpilih suatu negara, ini bukan lagi semata-mata soal kebebasan beragama atau ekspresi artistik—ini menjadi tantangan langsung terhadap kedaulatan nasional, tata kelola demokratis, dan keselamatan publik,” ujarnya.

“Demokrasi tidak boleh membiarkan rezim otoriter asing mengekspor paksaan, intimidasi, dan ketakutan ke wilayahnya.”

Sesi penghormatan terakhir Shen Yun Performing Arts di HOTA Home of the Arts, di Gold Coast, Queensland, Australia. NTD

Kaitan Tiongkok dalam insiden ini menarik perhatian media internasional setelah pertama kali diungkap oleh The Epoch Times.

BACA JUGA: Fakta-fakta Sebelum Petunjukan Shen Yun di Australia, Saat Ancaman Bom dari Partai Komunis Tiongkok Menyebabkan Evakuasi Darurat PM Albanese

Ketika ditanya mengenai ancaman terhadap perdana menteri Australia dalam konferensi pers di Beijing, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok menghindari pertanyaan tersebut dan menyatakan tidak mengetahui situasi sebenarnya, lalu menggunakan istilah merendahkan untuk menyerang Shen Yun dan Falun Gong.

Menariknya, pernyataan tersebut kemudian dihapus dari transkrip resmi di situs kementerian. Namun, Kedutaan Besar Tiongkok di Australia tetap memublikasikan keseluruhan pernyataan tersebut di halaman Facebook mereka.

Shen Yun menyatakan tidak akan gentar.

“Fakta bahwa mereka mengancam nyawa para pemimpin dunia untuk membatalkan Shen Yun menunjukkan tingkat premanisme dan keputusasaan yang telah ditempuh PKT,” kata Wakil Presiden Shen Yun, Ying Chen, kepada The Epoch Times.

“Ini juga dengan jelas menunjukkan betapa takutnya Beijing terhadap pengungkapan tirani PKT di panggung-panggung dunia.”

Tekanan dan Perlawanan

Anggota parlemen Australia Barnaby Joyce mengatakan ancaman tersebut bertentangan dengan nilai-nilai negaranya.

“Benar-benar tidak dapat diterima di Australia untuk mengintimidasi seseorang yang menjalankan keyakinan agamanya, dalam bentuk yang tidak mengancam budaya Australia dan tidak melanggar hak orang lain,” katanya.

Ketika Kedutaan Besar Tiongkok di Denmark baru-baru ini mengeluarkan pernyataan yang meminta masyarakat tidak menonton Shen Yun, para anggota parlemen setempat juga memberikan perlawanan.

Anggota parlemen Partai Rakyat Denmark, Mikkel Bjorn, mengatakan ia akan malu jika mendengarkan apa yang dikatakan dan dipikirkan diktator komunis di Tiongkok dalam memutuskan partisipasi dalam berbagai acara.

Anggota parlemen Partai Liberal Denmark, Kim Valentin, mengatakan tindakan rezim Tiongkok justru menegaskan keinginannya untuk mengendalikan.

“Di Denmark, negara tidak mencampuri apa yang boleh atau tidak boleh Anda ikuti,” ujarnya. “Saya hanya diingatkan bahwa kebebasan seperti itu tidak Anda miliki di Tiongkok.

“Saya sungguh berharap ini justru membuat semakin banyak orang ingin menyaksikan pertunjukan Shen Yun.”

Carl Andersen dari Partai Liberal Alliance, yang juga duduk di Komite Urusan Gerejawi Parlemen Denmark, mengecam Kedutaan Besar Tiongkok karena melakukan “campur tangan asing.”

Ia mengatakan telah melaporkan ancaman terhadap pemimpin Denmark tersebut kepada badan intelijen dan kepolisian negaranya untuk diselidiki.

Rakyat Denmark perlu “berdiri melawan tekanan semacam ini dari rezim otoriter,” ujarnya.

Artikel ini sebelumnya dipublikaskan di The Epochtimes edisi Bahasa Inggris


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Berasa di Tanah Suci, Mushola Unik Berbentuk Ka’bah Viral di Karawang
• 7 jam lalutvrinews.com
thumb
DPP PKB Nyatakan Sikap Atas Tewasnya Ali Khamenei
• 3 jam laluharianfajar
thumb
Profil Ali Khamenei: Aktivis Revolusi hingga Pemimpin Tertinggi Iran
• 12 jam laluokezone.com
thumb
Kandas di German Open, Tiwi/Fadia perbaiki fokus hadapi All England
• 20 jam laluantaranews.com
thumb
Iran Luncurkan Rudal ke USS Abraham Lincoln, AS Sebut Tak Ada Kerusakan
• 2 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.