Kedutaan Besar (Kedubes) Iran di Indonesia mengungkap sederet serangan brutal yang disebut dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran. Hubungan kedua negara itu diwarnai ketegangan selama lebih dari tujuh dekade, dimulai dari intervensi politik hingga konfrontasi militer dan sanksi ekonomi yang berkepanjangan.
Hingga akhirnya pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026, dalam serangkaian serangan AS-Israel, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran Ayatollah Sayyid Ali Khamenei, dilaporkan meninggal dunia.
"Dengan sangat disesalkan, dalam serangan biadab tersebut, Yang Mulia Ayatollah Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, mencapai kesyahidan di kantor beliau," kata Kedubes Iran dalam keterangan tertulis yang diterima, Minggu (1/3).
Kedubes Iran menyebut intervensi, agresi, dan permusuhan Amerika terhadap Iran dimulai dari kudeta 19 Agustus 1953 (28 Mordad 1332) yang menggulingkan pemerintahan Dr. Mohammad Mossadegh, Perdana Menteri Iran saat itu, dan berlanjut dengan serangkaian tindakan berikut;
Pemberlakuan sanksi politik dan ekonomi pada hari-hari awal kemenangan Revolusi Islam Iran tahun 1979 dengan tujuan menggagalkan revolusi yang menang atas kehendak rakyat Iran tanpa penggunaan senjata apa pun.
Dukungan menyeluruh terhadap rezim Saddam Hussein dalam perang yang dipaksakan selama delapan tahun Irak melawan Iran (September 1980-Agustus 1988). Dalam perang tersebut, lebih dari 155 ribu orang gugur dalam pertempuran langsung dan lebih dari 16 ribu orang tewas akibat serangan rudal dan udara terhadap kota-kota.
Penembakan pesawat penumpang Airbus di atas Teluk Persia pada Juli 1988 oleh kapal perang USS Vincennes milik Amerika Serikat yang mengakibatkan gugurnya seluruh 291 penumpang, termasuk 66 anak-anak.
Dukungan terhadap organisasi-organisasi teroris, termasuk Organisasi Mujahidin Khalq (MKO), dalam pembunuhan terhadap warga sipil, pejabat politik dan militer, serta ilmuwan nuklir Iran sejak awal dekade 1980-an hingga kini. Iran menyebut dengan 17 ribu korban teror, negara tersebut menjadi salah satu korban terbesar terorisme di dunia.
Penciptaan terorisme dan ekstremisme dengan tujuan mengoperasionalkan proyek Islamofobia dan Iranofobia di kawasan dan dunia selama dua dekade terakhir.
Peningkatan sanksi ekonomi terhadap Republik Islam Iran dengan dalih yang tidak berdasar sejak 2010 yang disebut menimbulkan kesulitan ekonomi bagi rakyat Iran.
Pembunuhan salah satu komandan senior militer Iran atas perintah langsung Presiden Donald Trump pada Januari 2020 di Baghdad. Ia disebut berada di Irak atas undangan pejabat militer Irak.
Dukungan terhadap serangan rezim Zionis terhadap Konsulat Republik Islam Iran di Damaskus pada April 2024.
Dukungan terbuka terhadap serangan rezim Zionis ke pusat-pusat militer dan pertahanan Iran pada 26 Oktober 2024.
Dukungan terhadap serangan rezim Zionis ke Iran pada 13 Juni 2025 serta pembunuhan para komandan militer senior.
Serangan langsung Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir damai Republik Islam Iran pada 22 Juni 2025.
Membajak protes damai sipil menjadi kerusuhan penuh kekerasan pada Januari 2026 yang menyebabkan 2.427 orang gugur (termasuk penjaga keamanan dan warga sipil) dari total 3.117 korban jiwa.
Rangkaian peristiwa tersebut, menambah daftar panjang ketegangan antara kedua negara. Pemerintah Iran menyebut AS dan Israel melakukan pelanggaran terhadap hukum internasional, Piagam PBB, serta hukum humaniter internasional.





