Iran vs Propaganda Media Sosial oleh Barat

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Propaganda ketegangan geopolitik di Timur Tengah mencapai panasnya di akhir Februari 2026. Dunia menyaksikan perseteruan Iran mengirim rudal untuk menyerang warga sipil di negara teluk Arab. Namun, ada yang kejanggalan dalam informasi ini. Narasi media internasional tampak seragam, namun menyimpan bias begitu tajam yang memandang siapa "penjahat" dan siapa "korban".

Dalam beberapa hari terakhir ini, berita utama dipenuhi dengan visualisasi dramatis rudal-rudal Iran yang menghujani wilayah-wilayah Jazirah Arab seperti UEA, Qatar, dan Yordania. Media Barat secara masif menggiring opini bahwa Iran sedang melakukan serangan "random" atau serampangan terhadap tetangga-tetangganya. Namun, jika kita membedah lebih dalam, target asli Iran bukanlah pemukiman sipil Arab, melainkan pangkalan militer Amerika Serikat yang tersebar di wilayah tersebut sebagai respons atas agresi sebelumnya.

Kenyataan teknis yang sering dikaburkan dalam laporan jurnalisme Barat adalah bahwa jatuhnya material peledak di wilayah sipil sebagian besarnya merupakan insiden sebuah missile interceptor atau rudal pelindung milik negara setempat atau AS yang gagal menetralisir target dengan sempurna di wilayah kosong. Alhasil, puing-puing hulu ledak jatuh di pemukiman. Namun, media cenderung mengabaikan peran sistem pertahanan tersebut dan melimpahkan seluruh tanggung jawab moral kepada pihak pengirim rudal, seolah-olah jatuhnya puing tersebut adalah desain awal dari serangan Iran.

Di sisi lain, terdapat fakta yang jauh lebih kelam namun mendapatkan porsi pemberitaan yang sangat minim: serangan udara Israel ke wilayah Iran. Berdasarkan laporan Al Jazeera, Israel secara terbuka menghantam dua gedung sekolah perempuan di Shajarah Tayyebeh di kota Minab, Iran selatan yang menewaskan lebih dari 50 orang anak anak. hal ini bukan terlihat seperti soal collateral damage, melainkan serangan langsung ke fasilitas pendidikan yang dihuni warga sipil.

Di sinilah terdapat sebuah teknik propaganda, yakni Teknik Card Stacking. Card Stacking menurut Magedah Shabo dalam bukunya "Techniques of Propaganda and Persuasion" adalah sebuah teknik yang secara licik artinya "menumpuk kartu" atau fakta lain dan menutupi fakta yang berlawanan Shabo, M. (2008). Teknik ini menganalisis dalam cara menyajikan fakta-fakta tertentu yang mendukung narasi "Iran adalah Agresor", sembari menyembunyikan atau meminimalkan fakta-fakta yang menunjukkan provokasi Israel. Media Barat menumpuk data kerusakan di wilayah Arab untuk membangkitkan sentimen anti-Iran di kalangan umat Muslim dan masyarakat internasional, namun secara sengaja menaruh fakta pembantaian di sekolah Iran di paragraf paling bawah atau bahkan mengabaikannya.

Teknik Card Stacking bertujuan untuk menciptakan persepsi bahwa setiap tindakan Iran adalah kejahatan, sementara setiap tindakan Israel adalah pertahanan diri. Ketika media terus-menerus menyoroti puing rudal Iran di pemukiman tanpa menjelaskan bahwa rudal itu sebenarnya di-intercept oleh sistem pertahanan Barat, mereka sedang melakukan manipulasi kebenaran. Mereka membuat kegagalan teknologi pertahanan udara Barat seolah-olah menjadi bukti kekejaman Iran dalam memilih target.

Teknik Card Stacking ini berfungsi untuk mengisolasi Iran secara diplomatik. Dengan membangun ketakutan di negara-negara Teluk, media Barat mencoba merusak hubungan persaudaraan antara Iran dan tetangga Arab-nya. Narasi serangan "random" adalah bumbu penyedap agar negara-negara Arab merasa terancam, sehingga mereka tetap bergantung pada perlindungan militer Amerika Serikat, meskipun perlindungan itulah yang terkadang menyebabkan puing jatuh di kepala warga mereka sendiri.

Dalam segi analisis konteks Iran, Propaganda ini bekerja sangat halus karena tidak menggunakan kebohongan total, melainkan kebenaran yang dipotong-potong. Fakta bahwa ada rudal yang jatuh adalah benar, tetapi menyembunyikan fakta bahwa Israel-lah yang lebih dulu meledakkan sekolah di Iran adalah sebuah kejahatan jurnalistik. Dengan meniadakan konteks "sebab-akibat", audiens global dipaksa untuk percaya bahwa Iran tiba-tiba mengamuk tanpa alasan yang jelas, sehingga posisi moral Israel tetap terjaga di mata dunia.

Hasilnya, opini media Barat saat ini terasa begitu kuat dan mendominasi ruang digital secara global. Kekuatan narasi inilah yang mampu mengalihkan topik dari isu kemanusiaan ledakan sekolah di Iran yang hancur oleh bom Israel. Kita seakan-akan dilarang untuk berempati pada korban di pihak Iran karena kartu-kartu informasi yang dibagikan kepada kita sudah disetel sedemikian rupa untuk memuja satu sisi dan mengutuk sisi lainnya. Melalui analisis ini,dunia media sosial berada dalam situasi di mana kebenaran ditentukan oleh siapa yang memiliki kekuasaan informasi paling luas. Tanpa kemampuan untuk mengidentifikasi teknik propaganda seperti ini, perspepsi publik akan terus terjebak dalam arus informasi yang berat sebelah.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bisnis Wealth Management BTN (BBTN) Ditargetkan Tumbuh 15 Persen di Akhir 2026
• 14 jam laluidxchannel.com
thumb
5 Kota di Iran Terdampak Serangan Israel dan AS: Teheran hingga Isfahan
• 15 jam laludetik.com
thumb
Kebakaran Dahsyat di Galung Tulu Polman, 35 Rumah Ludes, 173 Warga Kehilangan Tempat Tinggal
• 14 jam laluharianfajar
thumb
Daftar Harga Emas Antam Termurah Rp3,02 Juta per Gram, Termahal Rp3,08 Juta per Gram
• 11 jam lalubisnis.com
thumb
Hari ini SIM Keliling hanya tersedia di dua lokasi
• 13 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.