Perbankan Sulsel Tumbuh Solid Akhir 2025

harianfajar
8 jam lalu
Cover Berita

HARIAN FAJAR, MAKASSAR — Kinerja perbankan di Sulsel hingga akhir 2025 menunjukkan tren pertumbuhan yang tetap solid di tengah dinamika ekonomi nasional dan global. Otoritas Jasa Keuangan mencatat seluruh indikator utama perbankan, mulai dari aset, penghimpunan dana hingga penyaluran kredit, tumbuh positif secara tahunan.

Kepala OJK Sulselbar, Mochammad Muchlasin, mengatakan pada posisi Desember 2025 total aset perbankan di Sulawesi Selatan tumbuh 5,33 persen (year on year/yoy) menjadi Rp214,32 triliun.

“Pertumbuhan ini mencerminkan daya tahan industri perbankan daerah yang tetap kuat dan mampu menopang aktivitas ekonomi masyarakat,” ujar Muchlasin, Minggu, 1 Maret 2026.

Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat tumbuh 9,74 persen (yoy) menjadi Rp146,61 triliun. Struktur DPK masih didominasi oleh tabungan dengan porsi 59,92 persen, diikuti deposito 25,23 persen dan giro 14,85 persen.

Sementara itu, penyaluran kredit mencapai Rp172,92 triliun atau tumbuh 5,26 persen (yoy). Capaian ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit tahun 2024 yang sebesar 4,23 persen.

“Peningkatan ini menunjukkan adanya percepatan pembiayaan kepada sektor riil seiring dengan membaiknya aktivitas ekonomi daerah,” jelas Muchlasin.

Ia menambahkan, pertumbuhan kredit pada 2025 terutama didorong oleh kredit produktif yang memiliki porsi 53,07 persen dari total kredit. Kredit produktif berhasil tumbuh 3,06 persen setelah pada 2024 sempat terkontraksi sebesar 0,08 persen. Di sisi lain, kredit konsumtif juga tetap mencatatkan pertumbuhan tinggi sebesar 7,85 persen.

Jika dilihat berdasarkan sektor ekonomi, penyaluran kredit terbesar masih mengalir ke sektor perdagangan besar dan eceran dengan porsi 22,19 persen dari total kredit.

Dari sisi intermediasi, kinerja perbankan tetap terjaga dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 117,95 persen. Rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) berada pada level 3,65 persen, yang masih dalam batas aman dan terkendali.

“LDR yang relatif tinggi menunjukkan fungsi intermediasi berjalan optimal, sementara rasio kredit bermasalah tetap terjaga sehingga stabilitas sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan tetap resilien,” tegas Muchlasin.

Tak hanya perbankan konvensional, perbankan syariah juga mencatatkan pertumbuhan signifikan. Hingga Desember 2025, total aset perbankan syariah tumbuh 22,38 persen (yoy) menjadi Rp21,81 triliun. Penghimpunan DPK syariah meningkat 20,64 persen menjadi Rp14,66 triliun, sedangkan penyaluran pembiayaan tumbuh 23,69 persen menjadi Rp17,58 triliun.

Tingkat intermediasi perbankan syariah tercatat sebesar 119,94 persen, dengan rasio pembiayaan bermasalah (NPF) berada di level 1,72 persen.

“Pertumbuhan perbankan syariah yang lebih tinggi menunjukkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan keuangan berbasis syariah. Ini menjadi potensi besar untuk terus dikembangkan guna mendukung inklusi dan pertumbuhan ekonomi daerah,” pungkas Muchlasin. (edo)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Qatar Tutup Ruang Udara, WNI Laporkan Suara Ledakan di Doha
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
BYD Uji Flash Charging 1.500 kW di Shenzhen, Hampir Tiga Kali Daya Tesla V4
• 15 jam lalupantau.com
thumb
AS-Israel Serang Iran dan Bunuh Ali Khamenei, MUI Minta RI Keluar dari Board of Peace
• 7 jam laluliputan6.com
thumb
Polres Parepare Gandeng Pemain PSM Bagi-bagi Takjil
• 6 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Kapolri Tunjuk Brigjen Totok Suharyanto Jadi Kakortas Tipidkor
• 15 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.