Studi baru memunculkan kekhawatiran segar tentang paparan plastik dari kebiasaan minum sehari-hari
George Citroner
Botol air minum yang Anda pilih karena dianggap lebih murni ternyata bisa saja mengandung tiga kali lebih banyak partikel plastik mikroskopis dibandingkan air yang keluar dari keran rumah Anda, menurut penelitian terbaru.
Temuan ini kembali memunculkan kekhawatiran tentang keberadaan tersembunyi polutan mikroskopis dalam minuman sehari-hari—serta dampaknya bagi kesehatan jangka panjang kita.
Air Kemasan Menyimpan RisikoStudi yang baru-baru ini dipublikasikan di jurnal Science of The Total Environment menyoroti masalah berkelanjutan polusi plastik di lingkungan, yang menyebabkan meluasnya keberadaan mikroplastik dan nanoplastik ketika produk plastik terurai.
Para peneliti menganalisis sampel air dari empat instalasi pengolahan air di sekitar Danau Erie—salah satu dari lima Great Lakes di Amerika Utara—serta enam merek air minum dalam kemasan. Mereka menemukan bahwa sebagian air kemasan mengandung tiga kali lebih banyak partikel nanoplastik dibandingkan air minum yang telah diolah.
Kecuali satu sampel dari satu merek tertentu, seluruh sampel air kemasan lainnya mengandung lebih banyak plastik dibandingkan air keran.
“Temuan studi ini menunjukkan bahwa salah satu cara untuk mengurangi paparan mikro dan nanoplastik adalah dengan membatasi konsumsi air minum dalam kemasan,” kata John Lenhart, profesor teknik lingkungan di The Ohio State University sekaligus salah satu penulis studi tersebut, kepada The Epoch Times.
Ia menambahkan bahwa ukuran sampel penelitian ini masih terbatas sehingga diperlukan analisis lebih lanjut dari berbagai sumber air olahan dan air kemasan lainnya.
Bukti ilmiah yang terus berkembang menunjukkan bahwa mikroplastik (0,1 mikrometer hingga 5 milimeter) dan nanoplastik (kurang dari 1 mikrometer) berpotensi menimbulkan risiko signifikan bagi kesehatan manusia. Partikel ini dapat menyusup ke sistem organ utama dan memicu kerusakan sel.
Para peneliti menggunakan kombinasi teknologi pencitraan resolusi tinggi dan alat identifikasi kimia, sehingga mampu mendeteksi partikel berukuran sangat kecil alih-alih mengelompokkannya secara umum sebagai mikroplastik.
Menurut Lenhart, nanoplastik lebih mungkin diserap oleh sel ketika tertelan atau terhirup. Oleh karena itu, menyelidiki keberadaannya dalam berbagai lingkungan—termasuk air minum—sangat penting untuk memahami potensi penyerapannya oleh sel.
Ia juga menekankan bahwa kemampuan timnya mengukur konsentrasi nanoplastik merupakan langkah penting bagi penelitian selanjutnya, karena metodologi tersebut dapat diadopsi oleh peneliti lain untuk mengevaluasi keberadaan nanoplastik dalam sampel lain.
Lenhart menambahkan bahwa timnya belum mengevaluasi kemampuan sistem pengolahan air dalam menghilangkan nanoplastik. “Itu adalah topik yang sedang kami teliti saat ini,” ujarnya.
Kontaminasi Tertinggi Berasal dari KemasanPara peneliti menemukan bahwa sebagian besar plastik dalam air kemasan berasal dari kemasannya sendiri. Lebih dari setengah partikel yang terdeteksi adalah nanoplastik.
Sementara itu, sumber plastik dalam air keran masih belum jelas. Jenis plastik yang ditemukan lebih beragam, sebagian kemungkinan berasal dari bahan kemasan, pakaian, dan material bangunan.
Lenhart mencatat bahwa konsentrasi plastik yang diamati lebih tinggi dari perkiraan awal. Hal ini disebabkan oleh dimasukkannya nanoplastik dalam pengukuran—sesuatu yang dalam banyak studi sebelumnya belum banyak diperhitungkan.
“Dipercaya bahwa ketika tertelan atau terhirup, nanoplastik memiliki potensi lebih besar dibandingkan mikroplastik untuk diserap oleh sel,” katanya. “Karena itu, memahami keberadaan nanoplastik dalam berbagai media seperti air minum memberikan informasi penting untuk membantu kita memahami potensi penyerapannya.”
Memahami komposisi plastik dalam air, lanjutnya, dapat membantu memperbaiki proses pengolahan air atau mengembangkan metode baru untuk menghilangkan partikel-partikel tersebut di masa depan.
Bukti Dampak Mikroplastik Kian MenguatMeski para ilmuwan masih terus mempelajari dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia, banyak yang meyakini bahwa keberadaannya dapat berbahaya dalam jangka panjang.
Penelitian terbaru mengaitkannya dengan stres oksidatif, peradangan kronis, serta peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan gangguan metabolik. Partikel-partikel kecil ini telah ditemukan di organ seperti hati, paru-paru, dan plasenta, serta dikaitkan dengan kerusakan jaringan, potensi gangguan hormon, dan perubahan pada mikrobioma usus.
Nanoplastik bahkan lebih mungkin menembus penghalang biologis tubuh, seperti epitel usus dan sawar darah-otak, sehingga berpotensi menyebabkan peradangan, gangguan sistem kekebalan tubuh, kerusakan jaringan, perubahan fungsi metabolik, perkembangan organ yang abnormal, hingga kerusakan sel.
“Meski kita belum sepenuhnya memahami risiko kesehatan manusia akibat paparan nanoplastik, tetap lebih baik untuk mencoba memitigasi risikonya, karena bukti menunjukkan bahwa partikel ini memang menimbulkan masalah—meskipun kita belum sepenuhnya mengetahui seperti apa dampaknya,” kata Megan Hart, penulis utama studi tersebut, dalam siaran pers.





